10 Istilah dalam Islam yang Sering Disalahpahami Orang Zaman Sekarang (Termasuk Anda)

10 Istilah dalam Islam yang Sering Disalahpahami Orang Zaman Sekarang (Termasuk Anda)



Ada beberapa istilah dalam Islam yang kerap sekali keliru ataupun kurang tepat digunakan, oleh orang zaman sekarang. Sehingga maknanya tergeser dari yang sebetulnya. Saya khawatir ini akan berdampak kurang baik pada kekayaan kita sebagai seorang muslim yang sangat berharga, yakni kekayaan khazanah tsaqafah Islam.
Maka dari itu, haruslah kita pahami makna yang sebenarnya. Nah, apa saja 10 istilah itu? Berikut ini dia..

1. Infaq

Apa yang terbayang di pikiran Anda, ketika mendengar kata infaq?
Kebanyakan orang, memahami bahwa infaq itu adalah ngeluarin duit ke kotak infaq di Mesjid-Mesjid gitu, atau di kotak-kotak kencleng gitu.
Hmm.. Sayang sekali.. makna infaq telah menyempit seperti itu..
Sejatinya, kata infaq adalah kata serapan dari bahasa Arab: al-infâq. Kata al-infâq adalah mashdar (gerund) dari kata anfaqa–yunfiqu–infâq[an]. Kata anfaqa sendiri merupakan kata bentukan; asalnya nafaqa–yanfuqu–nafâq[an] yang artinya: nafada (habis), faniya (hilang/lenyap), naqasha (berkurang), qalla (sedikit), dzahaba (pergi), kharaja (keluar).
Karena itu, kata al-infâq secara bahasa bisa berarti infâd (menghabiskan), ifnâ’ (pelenyapan/pemunahan), taqlîl (pengurangan), idzhâb (menyingkirkan) atau ikhrâj (pengeluaran).
Al-Quran menyebutkan kata anfaqa dan bentukannya sebanyak 72 kali. Semuanya menggunakan makna bahasa di atas. Yang dominan adalah makna pembelanjaan harta.
Jadi, sekiranya Anda punya harta, terus Anda keluarkan untuk dibelikan sesuatu yang habis pakai, itu namanya infaqSimpelnya: Mengeluarkan harta = meng-infaq-kan harta. Terlepas untuk apa dan apakah hukum pengeluaran harta tersebut wajib, sunah, mubah, makruh, atau haram.
Jadi bukan berarti meng-infaq-kan harta itu hukumnya sunah, terus Anda dapet pahala.. Tergantung meng-infaq-kan hartanya itu untuk apa dulu..
Agar Anda lebih paham, silahkan simak gambar berikut ini, yang saya kutip dari slide power point materi At-Tasharruf fil-milkiyah



Got it?

2. Jihad

Apa yang terbayang di pikiran Anda, ketika mendengar kata jihad?
Kebanyakan orang, memahami bahwa jihad itu adalah bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, atau bersungguh-sungguh saat bekerja di Kantor. Jadi nanti kalau anak-anak rajin belajar ke Sekolah, itu namanya mereka sedang berjihad. Mereka mujahid. Pun nanti kalau seorang suami atau ayah semangat kerja, itu namanya beliau sedang berjihad. Beliau mujahid.
Hmm.. Sayang sekali.. makna jihad telah disalahpahami seperti itu..
Jihad menurut pengertian bahasa (lughah) artinya adalah mengerahkan segenap kemampuan (badzlul wus’i). Bersungguh-sungguh gitulah..
Adapun menurut syariah, pengertian jihad adalah berperang di jalan Allah Swt dan semua hal yang berhubungan dengannya.
Sebab, kata jihad memiliki makna syar’iy, dimana, makna ini harus diutamakan di atas makna-makna yang lain (makna lughawiy dan ‘urfiy).
Lebih lengkapnya, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya Al-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, 2/145, menjelaskan bahwa “Jihad adalah mengerahkan segenap kemampuan dalam perang di jalan Allah, baik secara langsung berperang, maupun dengan memberikan bantuan untuk perang, misalnya bantuan berupa harta, pendapat, memperbanyak pasukan perang, dan lain-lain.”
Kalau infaq harta tidak terkait dengan perang secara langsung, seperti halnya menyantuni fakir miskin dan anak yatim, membantu korban bencana alam, membangun lembaga keuangan syariah, memberi beasiswa, dan sebagainya, itu nggak bisa kita sebut jihad menurut pengertian syariah.
Kalau pemberian pendapat tidak terkait dengan perang secara langsung, seperti halnya menulis kitab fiqih, tafsir, hadits, dan sebagainya, maka itu nggak bisa kita sebut jihad dalam pengertian syariah.
Selain itu, barangkali nanti Anda bisa menyimak juga pengertian jihad menurut para ulama-ulama lainnya.
Lagipula memang banyak istilah yang biasanya punya makna secara bahasa, dan makna secara istilah. Seperti misalnya sholat itu artinya do'a. Tapi kalau kita dengerin musik nasyid yang liriknya ada do'a-do'a, maka kita tak bisa katakan dengan begitu kita sudah sholat. Nggak bisa begitu..
Seperti misalnya zakat itu artinya mensucikan. Kalau kita nyuci baju di kamar mandi, atau nyuci piring di wastafel, maka kita tak bisa katakan dengan begitu kita sudah berzakat. Nggak bisa begitu..
Kita dikatakan sudah sholat dan zakat, bila kita memang telah mengamalkan sholat dan zakat sebagaimana definisinya secara istilah syar'i.
Demikian pula soal jihad. Kita dikatakan telah berjihad, sebagai seorang mujahid, bila kita berperang melawan kaum kafir.

3. Jilbab

Apa yang terbayang di pikiran Anda, ketika mendengar kata jilbab?
Kebanyakan orang, memahami bahwa jilbab itu adalah kerudung yang biasa dipakai oleh perempuan-perempuan.
Sayang sekali.. makna jilbab telah disalahpahami seperti itu..
Sejatinya, kerudung itu nama lainnya adalah khimar. Sedangkan jilbab, adalah pakaian yang diulurkan dari atas sampai bawah sampai menyentuh tanah (contohnya: gamis).
Makanya Aisyah pernah berkata, “Seorang wanita ketika menunaikan shalat harus mengenakan tiga pakaian, yaitu baju, jilbab, dan khimar. Adalah Aisyah pernah shalat dengan memanjangkan kain sarungnya untuk dia jadikan ...jilbab.” [Atsar diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (VIII : 71) dengan sanad shahih dan para perawinya biasa dipakai oleh Muslim]
Jadi, biasanya seorang muslimah itu mengenakan baju kaos dan celana jeans di Rumahnya. Ketika dia hendak ke luar Rumah, dia mengenakan jilbab (contoh: gamis), dan mengenakan khimar (kerudung). Tapi kaos dan jeans-nya tetap dipakai sebagai dalaman. Di-double gitu.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.".”

[QS. al-Ahzab (33): 59]
وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“Janganlah mereka menampakkan perhiasan-nya, kecuali yang (biasa) tampak pada dirinya. Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.”

[QS. an-Nur (24): 31]
Lihat di ayat pertama di atas, ada kata jalaabiibihinna, untuk diulurkan ke seluruh tubuhnya. Makanya, jilbab itu pakaian yang diulurkan dari atas sampai bawah sampai menyentuh tanah (contohnya: gamis).Kemudian di ayat kedua di atas, ada kata bikhumurihinna untuk menutupi juyuub (wajah), hingga menutupi dadanya. Makanya, khimar itu kerudung.


Got it?

4. Mubadzir

Apa yang terbayang di pikiran Anda, ketika mendengar kata mubadzir?
Kebanyakan orang, memahami bahwa mubadzir itu adalah perbuatan boros. Misalnya kalau seseorang sering makan daging terus setiap hari, 30 kali sebulan. Jajan terus tiap hari, beli 100 baju, punya 4 handphone, punya 5 mobil, yang mana sebagian besar barangnya itu dianggurin. Atau bisa juga kalau misalnya ada sisa makanan tapi nggak dimakan, malah dibuang. Bisa juga benda lain yang bisa digunakan, tapi tidak digunakan. Yang begitu biasa disebut mubadzir.
Sayang sekali.. makna mubadzir telah disalahpahami seperti itu..
Sejatinya, mubadzir itu artinya orang yang melakukan tabdzir. Sedangkan tabdzir itu artinya boros yang haram. Seperti misalnya ngeluarin duitnya buat beli daging babi, miras, suap, menyewa pelacur, dan sebagainya.
Jadi, dalam Islam, boros itu ada dua. Ada boros yang makruh, dan ada boros yang haram.
Kalau boros yang makruh, namanya idha'atul maal. Dia suka ngeluarin duit buat sesuatu yang kurang penting. Biasanya buat ngemil berlebihan, gengsi, dan sebagainya.
Kalau boros yang haram, yah itu tadi, namanya tabdzir. Pelakunya disebut mubadzir. Istilah khusus untuk siapa yang ngeluarin duit buat beli barang atau jasa yang hukumnya haram. Simpelnya, ngeluarin duit buat maksiat. Terlepas apakah nominalnya kecil cuman Rp5.000 aja, atau besar sampai berjuta-juta. Pokoknya siapa yang ngeluarin duit buat maksiat, berarti dia itu mubadzir.
Makanya kan mubadzir itu temannya syetan, karena dia maksiat.
Got it?

5. Muhrim

Apa yang terbayang di pikiran Anda, ketika mendengar kata muhrim?
Kebanyakan orang, memahami bahwa muhrim itu adalah lawan jenis yang haram dinikahi. Seperti misalnya ibu, adik, dan seterusnya. Biasa dipakai untuk mengingatkan bahwa kita tidak boleh asal-asal berinteraksi kepada yang bukan muhrim. Seperti misalnya berdua-duaan, bahkan hingga bersentuhan kulit. Tidak boleh laki-laki berromantis dengan seorang perempuan yang bukan muhrimnya, bila tak ada akad nikah diantara mereka.
Sayang sekali.. makna muhrim telah disalahpahami seperti itu..
Sejatinya, muhrim itu artinya adalah orang yang melakukan ihram. Sedangkan ihram itu adalah keadaan seseorang yang telah beniat untuk melaksanakan ibadah haji dan atau umrah.
  • Pakaian ihram bagi laki-laki adalah 2 lembar kain yang tidak berjahit yang dipakai untuk bagian bawah menutup aurat, dan kain satunya lagi diselendangkan.
  • Sedangkan pakaian wanita ihram adalah menutup semua badannya kecuali muka dan telapak tangan (seperti pakaian ketika sholat). Warna pakaian ihram disunatkan putih.
Itu soal muhrim yang sebetulnya.
Sedangkan yang dimaksud dengan orang yang haram dinikahi sebelumnya, itu istilahnya adalah mahram.
Banyak orang ketuker antara "muhrim" dengan "mahram", hehehe..
Nah, begitulah...
Got it?

6. Berkah

Apa yang terbayang di pikiran Anda, ketika mendengar kata berkah?
Soal berkah ini, terkadang masih rancu menurut banyak orang. Tidak jelas penggunaannya dalam cakupan apa saja, dan batasannya apa. Makanya pun penggunaannya asal-asal saja..
Bahkan yang lebih mengerikannya, tatkala ada seseorang yang katanya guru agama, kemudian yang katanya guru agama tersebut makan nasi pakai tangan, lalu seusai makan tersebut, dia mengobok-obokkan tangannya ke dalam mangkuk berisi air, terus para santrinya berbondong-bondong meminum air bekas kobokan seseorang yang katanya tadi guru itu. Nah, itu katanya berkah.. Iiih, jorok amat.. -_-
Dalam Kamus Al-Munawwir, menurut bahasa barakah artinya adalah nikmat. Sedangkan secara istilah, Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam Ensiklopedia Tasawuf, definisi berkah adalah ziyadatul khair. Yakni, bertambah-tambahnya kebaikan.
Contohnya:
  • Bila disebut harta yang berkah, adalah harta yang tidak membuat kita jadi lalai bertaqwa kepada Allah. Melainkan harta yang didapat dan dikeluarkan dengan jalan yang halal.
  • Bila disebut ilmu yang berkah, adalah ilmu yang tidak membuat kita menjadi sombong dan suka merendahkan orang lain. Melainkan imu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Got it?

7. Silaturahim

Apa yang terbayang di pikiran Anda, ketika mendengar kata silaturahim?
Kebanyakan orang, memahami bahwa silaturahim itu artinya berkunjung menemui satu atau beberapa orang kemudian berinteraksi dengannya. Ntah itu keluarga, teman, saudara, atau siapa saja, meskipun belum kenal, siapa saja.. Aktivitasnya pun bisa berupa sekadar ngobrol, sambil jalan, sambil makan, atau yang lainnya.
Sebetulnya, pemahaman seperti itu kurang tepat...
Silaturahmi konteksnya adalah menjaga hubungan baik dengan kerabat yang berstatus mahram (rahim mahram), seperti ibu, adik/kakak kandung, anak, bibi dari ibu. Bukan kerabat non-mahram (rahim ghayr mahram), seperti anak perempuan paman (saudara ayah). Apalagi teman sekelas atau teman sekantor! :P
Islam membedakan antara menjaga hubungan baik pada dzawu al-arhâm (mereka yang mempunyai hubungan mahram), dengan menjaga hubungan baik pada dzawul al-irts (mereka yang berhak menjadi ahli waris).
Menjaga hubungan baik dengan dzawu al-arhâm inilah yang disebut silaturahmi (sillah ar-rahm). Adapun menjaga hubungan baik dengan dzawul al-irts tidak disebut sillah ar-rahm, melainkan sillah al-aqârib.
Emangnya, harus dibeda-bedin gitu ya? Iya, soalnya, hukumnya berbeda. Sillah ar-rahm itu hukumnya wajib, dan memutuskannya haram. Adapun sillah al-aqârib itu hukumnya sunah.
Got it?

8. Bid'ah

Apa yang terbayang di pikiran Anda, ketika mendengar kata bid'ah?Kebanyakan orang, sebetulnya masih bingung. Tahlilan itu bid'ah, maulidan itu bid'ah, shalawatan itu bid'ah, adzan di tempat lain itu bid'ah, bahkan ada bisa-bisa memakai batik dan celana jeans juga bid'ah. Dan bahkan tsaqafah asing yang lahir dari ideologi kapitalisme dan sosialisme, itu juga disebut bid'ah.
Sungguh disayangkan bila persoalan bid'ah ini masih abu-abu.. Karena konsekuensi dari bid'ah adalah kesesatan.. dan setiap yang sesat tempatnya adalah di Neraka.. Hiii naudzubillahimindzalik.. Masak sesama muslim seneng kalau saudaranya sendiri masuk Neraka.. Maka dari itu, haruslah ada standart dan indikator yang jelas, bid'ah itu mencakup fakta apa saja, dan terbatas pada apa.
Sejatinya, bid’ah adalah menyalahi perintah Allah sebagai asy-Syâri’ yang dinyatakan tatacara penunaiannya (kaifiyah-nya).
Bid’ah secara bahasa seperti dicantumkan di Lisân al-‘Arabal-mubtadi’ alladzî ya’tî amran ‘alâ syubhin lam yakun … -orang yang melakukan bid’ah adalah orang yang mendatangkan perkara pada gambaran yang belum ada … wa abda’ta asy-syay’a: ikhtara’tahu lâ ‘alâ mitsâlin –anda melakukan bid’ah: Anda melakukan inovasi tidak menurut contohnya”.Bid’ah itu secara istilah juga demikian. Artinya di situ ada “contoh” yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan seorang muslim melakukan yang menyalahinya. Ini berarti menyalahi tata cara syar’iy yang telah dijelaskan oleh syara’ untuk menunaikan perintah syara’.
Berarti, contoh faktanya:
  • Siapa yang sujud tiga kali dalam sholatnya dan bukannya dua kali, maka dia telah melakukan bid’ah. Sebab dia menyalahi perbuatan Rasul saw.
  • Siapa yang melempar jumrah delapan kali lemparan, bukan tujuh lemparan, ke Jamarât Mina maka dia telah melakukan bid’ah. Sebab ia juga menyalahi perbuatan Rasul saw.
  • Siapa yang menambah lafazh adzan atau menguranginya maka ia telah melakukan bid’ah. Sebab ia menyalahi adzan yang ditetapkan oleh Rasulullah saw…
Sedangkan menyalahi perintah syara’ yang tidak dinyatakan tatacaranya, maka itu masuk dalam bab hukum syara’. Maka dari itu, penyalahan tersebut:
  • Disebut itu adalah haram atau makruh, kalau itu merupakan khithab taklif.
  • Disebut batil atau fasad, kalau itu merupakan khithab wadh’i.
Kata kuncinya, menyalahi kaifiyah. Kalau menurut saya pribadi, biasanya bid'ah itu ada pada syariat habluminallah (ubudiyyah).
Nah, begitulah...
Got it?

9. Khalifah

Apa yang terbayang di pikiran Anda, ketika mendengar kata Khalifah?
Sebagian orang, memahami bahwa Khalifah itu adalah pemimpin di suatu negeri. Kayak Presiden, atau Raja gitu. Seperti misalnya kalau di Indonesia, Khalifahnya pada tahun 2014-2015 ini adalah Pak Jokowi. Sedangkan Khalifah pada tahun 2004-2014 kemarin adalah Pak SBY. Bahkan bisa pula Khalifah itu adalah pemimpin Perusahaan, atau suatu organisasi.
Sayang sekali.. makna Khalifah telah menjadi sangat salah seperti itu..
Sejatinya, Khalifah adalah kepala negara dalam negara Islam bersistem Khilafah. Khalifah ini adalah seorang pemimpin terpilih yang mendapat otoritas kepemimpinan dari kaum Muslim, yang secara ikhlas memberikannya berdasarkan kontrak politik yang khas, yaitu bai’at.
Maka dari itu, ketahuilah, adalah beda antara Khalifah, Presiden, dan Raja. Pak SBY dan Pak Jokowi merupakan Presiden, bukan Khalifah.
Contoh fakta Khalifah:
  • 632-634 M - Khalifah Abu Bakar as-Siddiq
  • 634-644 M - Khalifah Umar Al-Khattab
  • 644-656 M - Khalifah Utsman bin Affan
  • 656-661 M - Khalifah Ali bin Abi Talib
  • 1922-1924 M - Khalifah Abd-ul-Mejid II
Indonesia merupakan negara republik bersistemkan ideologi (katanya) Pancasila (aslinya Kapitalisme), dengan dasar aqidah sekulerisme. Setiap kepala negara republik, punya kepala negara yang memiliki istilah khas, yakni Presiden. Jadi, jelaslah berbeda antara Khalifah dengan Presiden. Nggak bisa disamakan.
Silahkan simak gambar di bawah ini.

Hari ini, sedang tidak ada negara Islam Khilafah. Otomatis, kalau Khilafah nggak ada, yah berarti Khalifah nggak ada jugalah. Karena Khilafah telah runtuh pada tahun 1924 masehi. Dan insya Allah sedang proses untuk didirikan kembali..
Karena, Khilafah itu adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia. Khilafah bertanggung jawab menerapkan hukum Islam, dan menyampaikan risalah Islam ke seluruh muka bumi.
Nah, pada hari ini tidak ada fakta negara yang seperti itu. Indonesia bukan Khilafah. Termasuk, Saudi Arabia hari ini bukanlah Khilafah. Juga, ISIS bukanlah Khilafah.
Got it?

10. Akhlak

Apa yang terbayang di pikiran Anda, ketika mendengar kata akhlak?
Kebanyakan orang hari ini, memahami bahwa akhlak itu artinya hanya sekadar sifat ramah dan sopan santun. Sehingga, anehnya bisa pula ada istilah orang Kristen, Budha, Sinto, dan beragama lainnya yang akhlaknya bagus.
Sayang sekali.. makna akhlak telah menyempit seperti itu..
Sejatinya, akhlak itu bagian dari hukum syara'. Iya, akhlak itu yah hukum syara'. Siapa yang senantiasa melakukan yang halal, apalagi bila dia istiqamah pada yang wajib dan giat pada yang sunnah, maka dia orang yang berakhlak bagus. Sebaliknya, bila ia senantiasa melakukan yang haram, meninggalkan yang wajib, berarti dia orang yang tidak berakhlak.
Maka dari itu, bagaimana mungkin orang yang tidak beraqidah Islam, bisa berakhlak baik?
Agar Anda semakin paham, perlu Anda ketahui, bahwa Islam didefinisikan sebagai agama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yang mengatur hubungan manusia dengan Khaliq-nya, dirinya, dan dengan sesamanya.
  • Hubungan manusia dengan Khaliq-nya, tercakup dalam aqidah dan ibadah.
  • Hubungan manusia dengan dirinya sendiri, tercakup dalam akhlak, makanan/minuman, dan pakaian.
  • Hubungan manusia dengan sesamanya, tercakup dalam mu’amalat dan uqubat.
Syariat Islam telah merinci sistem peraturannya. Ada peraturan ibadahmu’amalat, dan uqubat. Tapi, syariat Islam nggak menjadikan akhlak sebagai bagian khusus yang terpisah.
Meskipun demikian syariat Islam telah mengatur hukum-hukum akhlak berdasarkan suatu anggapan bahwa akhlak adalah perintah dan larangan Allah SWT, tanpa melihat lagi apakah akhlak mesti diberi perhatian khusus yang dapat melebihi hukum-hukum atau ajaran Islam lainnya.
Akhlak adalah bagian dari rincian hukum-hukum. Bahkan porsinya paling sedikit dibandingkan rincian lainnya. Dalam fiqih tidak dibuat satu bab pun yang khusus membahas akhlak.
Karena itu, dalam buku-buku fiqih yang mencakup hukum-hukum syara’ tidak ditemukan satu bab khusus dengan sebutan bab akhlak. Para fuqaha dan mujtahidin tidak menitikberatkan pembahasan dan pengambilan hukum dalam perkara akhlak.
Got it?
Begitulah...
Sebetulnya penjelasan dari tiap-tiap satu istilah di atas masih sangat ringkas. Bisa saja dibuat yang lebih lengkap pembahasan khususnya dalam satu artikel lain. Insya Allah, kalau ada kesempatan, saya coba buat..
Namun, sekiranya Anda bergegas ingin mendalaminya, barangkali saya dapat memberikan refrensinya ke Anda. Silahkan, layangkan saja permintaan tersebut via kotak komentar di bawah ini..
Terakhir, silahkan Anda sebarkan artikel ini. Harapannya, semoga kesalahpahaman-kesalahpahaman terhadap 10 istilah di atas yang ada pada orang zaman sekarang, bisa segera terperbaiki..
Wallahua'lam bishshawab..
Baca Selengkapnya
Syariat Islam, Aturan Etika Atau Aturan Hukum?

Syariat Islam, Aturan Etika Atau Aturan Hukum?

syariat-Islam-aturan-etika-atau-hukum

Ada 2 jenis aturan. Yaitu...
Pertama, aturan sebagai etika, sebagai norma-norma gitu.
Kedua, aturan sebagai hukum.
Hmm... apa bedanya?
Kalau seseorang mengerjakan aturan etika, maka dia akan dianggap sebagai orang yang terpuji. Bila ia melanggar, maka ia hanya akan dipandang buruk saja, paling banter diejek "Kurang ajar lu.." udah, gitu aja.
Kalau seseorang mengerjakan aturan hukum, maka dia akan dianggap sebagai orang yang ta'at. Bila ia melanggar, ia akan diberi sangsi. Maka pihak keamanan seperti polisi, akan menindaknya. Bisa dengan peringatan terlebih dahulu, dan atau bahkan langsung diberikan sanksi hukum seperti halnya didenda, dipenjara, bahkan siksaan fisik, bahkan pula bisa dihukum mati.
Contohnya gimana?
Kalau di Indonesia, contoh aturan etika adalah: menghormati orang tua. Siapa yang hormat ke orang tua, berarti dia orang yang terpuji. Kalau dia melawan orang tua, maka dia kurang ajar. Udah gitu aja, nggak perlu manggil-manggil polisi buat menindak siapa yang melawan orang tuanya tersebut. Karena memang tidak tertulis di Undang-Undang.
Sedangkan contoh aturan hukum adalah, jangan mencuri. Siapa yang mencuri, dia akan diberi sangsi. Buka Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Lihat, Pasal 216 ayat 1. Di situ disebutkan, setiap pencurian yang nilainya 1 juta ke atas, hukumannya adalah 2 tahun dipenjara. Begitu... berarti, kalau Anda mencuri seperti itu, Anda bukan sekadar dipandang jelek oleh masyarakat, tapi juga dikenai sangsi...!!
Nah, terus.. setelah Anda tahu bahwa ada yang namanya aturan etika, dan ada yang namanya aturan hukum, coba Anda jawab pertanyaan yang ada di judul artikel ini.. Syariat Islam, etika atau hukum?
Sejatinya, syariat Islam adalah aturan hukum. Namun, sejak tahun 1924 masehi, syariat Islam tidak lagi dipraktekkan sebagai aturan hukum. Sejak itu, Islam dijadikan aturan etika.
Dulu, wanita tidak berhijab "ditilang". Karena memang wajib secara undang-undang. Kini, wanita yang tidak berhijab hanya sekadar dianggap tidak sopan. Karena memang ideologi di Indonesia saat ini tidak melahirkan aturan hukum seperti itu.
Zaman sekarang, orang yang mengambil riba, dianggap sebagai perbuatan yang tidak etis. Hanya itu saja, tidak ada sangsi apa-apa.
Termasuk sholat. Kini orang yang tidak sholat hanya sekadar dianggap kurang ajar.
Tidak ada polisi patroli memastikan agar setiap muslim sholat. Tidak ada polisi patroli memastikan agar setiap muslimah berhijab syar'i. Karena memang, secara sistem di negeri ini, kita tidak diwajibkan untuk itu. Karena memang Demokrasi tidak melahirkan aturan hukum seperti itu.
Makanya kini apa-apa yang ada di Kitab Fiqih, hanya tinggal teori semata.. Hanya segelintir kita praktekkan apa-apa yang ada di Kitab-Kitab Fiqih itu. Seputar syariat terkait hablum minallah..
Padahal, Allah Swt. berfirman....
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ ِللهِ
Sesungguhnya menetapkan hukum hanyalah hak Allah.

[QS. Yusuf: 40]
فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ
Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.

[QS. Al-Maidah: 48]
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

[QS. Al-Maidah: 44]
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim.

[QS. Al-Maidah: 45]
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasiq.

[QS. Al-Maidah: 47]
Terakhir, saya kutip catatan Profesor Fahmi Amhar...
Islam kini tinggal ahlaq - tanpa jihad,
Islam kini tinggal ibadah (ritual) - tanpa syari'ah,
Islam kini boleh menyinari rumah, tapi bukan pasar, pabrik atau bank,
Islam kini boleh menguasai masjid, tapi tidak menguasai kantor,
Islam kini boleh bicara tentang akherat, tapi tidak tentang negara,
Islam yang boleh disanjung adalah Islamnya para pertapa shufi, dan bukan Islamnya umara' yang zuhud, ulama faqih yang zuhud, aghniya' yang zuhud atau mujahidin yang zuhud.
Islam yang tidak mampu menolong ummatnya sendiri, baik di Bosnia, Palestina, Chechnya atau Sudan, apalagi menolong dunia dari disorientasi kehidupan, dari AIDS, dari kerusakan lingkungan, dari kesewenang-wenangan para kapitalis di era globalisasi.
dan Qur'an boleh didendangkan di MTQ, dan bukan di Pengadilan,
dan Qur'an boleh dibacakan pada orang mati, bukan pada orang hidup,
dan Qur'an boleh diajarkan di pesantren, dan bukan di universitas,
dan Qur'an boleh untuk menghitung pembagian zakat, namun bukan untuk membagi kekayaan alam dengan adil, dsb.
Ini masalah. Nah, maka dari itu, bertanyalah kita, apa penyebabnya? Dan apa solusinya? Kenapa umat muslim mundur, dan bagaimana cara membangkitkannya kembali..??
Tidak lain dan tidak bukan, umat muslim hanya bisa benar-benar 100% hidup Islami dengan cara menerapkan seluruh 100% syariat Islam, dengan mendirikan kembali Negara Islam Khilafah.
Khilafah, adalah negara yang menerapkan ideologi Islam. Sedangkan Indonesia, adalah negara yang menerapkan sistem kufur Demokrasi. Meski sejatinya sih Pancasila itu bukan bisa dianggap sebagai ideologi. Faktanya sih, Indonesia menerapkan ideologi Kapitalisme.
Karena memang, secara fiqih wajib bagi kita hidup Islami menerapkan seluruh syariat Islam dalam bingkai Khilafah. Selain itu, memang juga seperti itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw, para sahabat, tabi'in, tabiut tabi'in, dan seterusnya.
Terus.. bagaimana caranya agar negara Islam Khilafah itu bisa tegak kembali..?? Tidak lain dan tidak bukan, adalah dengan cara dakwah. Lebih tepatnya, dakwahnya dengan metode dakwah sebagaimana Rasulullah Saw berdakwah.
Dengan begitu, insyaAllah umat sebagai pemegang kekuasaan akan sadar bahwa mereka tidak mau hidup kalau tidak diatur dengan syariat Islam, lalu Allah Swt menurunkan pertolongannya, sehingga berdirilah kembali Negara Islam Khilafah yang mengikuti metode Rasulullah Saw..
Wallahua'lam bishshawab..
Sumber gambar: Pixabay
Baca Selengkapnya
Ketika Kesel dengan Tingkah Orang yang Bandel: "Biarkan" Saja...

Ketika Kesel dengan Tingkah Orang yang Bandel: "Biarkan" Saja...

tingkah-orang-teman-menyebalkan-biarkan-saja

Anda sudah berusaha memberikan pemahaman yang baik kepadanya berkali-kali, tapi dia tetap tidak mau mengemban pemahaman tersebut, dan bersikeras tetap mengemban pemahamannya yang membuatnya jadi nakal tersebut..
Kalau sudah gitu, "biarkan saja" (dalam tanda kutip)...
Ada dua cara orang bisa menjadi dewasa dan membaik:
  • Pertama.. ikuti nasehat, lalu mendewasa dan membaik..
  • Kedua.. Abaikan nasehat, tiba-tiba celaka, lalu menyesal, barulah belajar mendewasa dan membaik..
Ada kalanya memang kita harus "membiarkan" (dalam tanda kutip) seorang teman ataupun kenalan kita yang tingkahnya kurang baik, padahal sudah dinasehati berkali-kali, tapi tetap saja dia bandel..
Kenapa?
Karena..
  • Sejatinya setiap kebaikan yang kita lakukan, akan kembali ke diri kita sendiri...
  • Sejatinya setiap keburukan yang kita lakukan, akan kembali ke diri kita sendiri...
Berangkat dari situ saja, sudah sepatutnya kita terus-menerus melakukan kebaikan. Apabila nanti kita malah dapat keburukan, yah tinggal introspeksi diri saja, barangkali ada keburukan yang sebelumnya kita lakukan.
(Atau barangkali itu ujian)
Nah, terkait teman atau saudara Anda yang bandel dan nakal tersebut yang notabene bukan kebaikan, maka tidak menutup kemungkinan ia juga akan menuai hal-hal yang bukan kebaikan pula.
Kasarnya, dia nanem yang buruk, kelak dia tuai yang buruk.

Kisah #1. Biji Malas dan Buah Malas

Ada sebuah Asrama bernama BungaCerdas. Di Asrama tersebut, ada sebuah peraturan di mana setiap orang harus disiplin. Seperti misalnya:
  • Jangan buang sampah sembarangan.
  • Matikan TV dan lampu kamar mandi setelah digunakan.
  • Tutup dan kunci kembali pintu, setelah dibuka.
  • Segera cuci piring, gelas, sendok, panci, wajan, ember, dan sebagainya yang milik umum, seusai dipakai.
Peraturannya tidak aneh. Wajar. Bagus itu. Sehemat informasi yang saya dapat, hampir semua Asrama memang ada peraturan seperti itu.
Nah, seiring berjalannya waktu, ternyata ada sebagian penghuni yang tidak mengemban pemahaman tersebut.
Mereka kelihatannya lebih hobi mengemban pemahaman buang sampah sembarangan, boros membiarkan listrik terus jalan meski tak digunakan, malas menutup pintu kembali, malas mencuci, dan sebagainya.
Maka dari itu, haruslah mereka dinasehati.
Kalau bandel lagi? Ya tinggal nasehati lagi..
Tapi tetap terus bandel lagi? Ya terus nasehati..
Tapi ini tetap bandelnya gak hilang-hilang juga? Ya teruslah nasehati..
Meski hingga jauh-jauh hari, mereka tak mau berubah juga..
Yasudah..
Ingat yang tadi, setiap apa yang akan kita lakukan, akan kembali kepada diri kita.
Termasuk perbuatam malas. Bila misalnya saya malas cuci piring, dan malas bersih-bersih, biasanya akan berimbas juga pada pekerjaan lainnya. Misalnya, saya jadi malas membesarkan Perusahaan saya.
Iya, karena sudah menjadi kebiasaan. Awalnya, "Aduh males banget mundar-mandir ke Dapur, nyuci piring lagi..", "Aduh males banget ke Kamar mandi, membersihkannya lagi..", "Aduh males banget nyuci baju lagi..", "Aduh males banget berdiri buang sampah ke tempat sampah..". Besok-besok, saya malah jadi berkata, "Aduh males banget ngelayani customer lagi..", "Aduh males banget research lagi..", "Aduh males banget tugas dari Dosen lagi..", "Aduh males banget revisi skripsi lagi..".
Silahkan nikmati buah malas itu. Itulah hasil dari biji malas yang ditanam.
Hingga tiba suata masa di mana kita stres karena kebutuhan dan keinginan kita tak kunjung tercapai.. Lalu kita merenung... kenapa..? Apa sebabnya...?? Kemudian kita sadar, ternyata selama ini kita memelihara sifat malas kita. Dari malas yang kecil, akhirnya tumbuh jadi malas yang besar..
Rasain, enak kan..?? :P <---bercanda, jangan dikata-katin "Rasain emangnya enak!" begitu yaa ke temannya..  :)
Meski memang padahal sudah dinasehati...
Yah itu tadi kan, ada dua cara orang bisa menjadi dewasa dan membaik:
  • Pertama.. ikuti nasehat, lalu mendewasa dan membaik..
  • Kedua.. Abaikan nasehat, tiba-tiba celaka, lalu menyesal, barulah belajar mendewasa dan membaik..
Begitulah maksud saya "biarkan".. Bukan dibiarkan dalam artian pada lingkaran yang kita kuasai (ikhtiar), tapi biarkan waktu dan kejadian turut serta "membantu" kita untuk menasehati dirinya...

Kisah #2. Biji Munafik dan Buah Munafik

Suatu hari si Agigix ngomong ke si Bininix.. "Bininix, gue ada duit Rp300.000... Beli pizza yuk?" Tanggap si Bininix, "Oh gitu? Ayo! Nih saya tambahin Rp100.000... Biar bisa beli banyak.. Nanti kita makan bareng teman-teman..". Lalu si Agigix pun menerimanya, "Okey siipp..".
Kemudian, akhirnya si Bininix pergi dengan si Cicicix yang notabene si Cicicix ini delegasinya si Agigix, untuk pergi membeli pizza..
Setibanya di tempat, ternyata si Cicicix bilang, kita beli pizza-nya yang mana nih, budget-nya hanya Rp150.000.."
"Haah..?? Kok cuman Rp150.000...?? Mana cukup..?? Paling beli satu porsi pizza doang..??" heran si Bininix.
Si Cicicix pun menjawab, "Nggak tahu.. yaa si Agigix ngasihnya segini ke gue.."
Karena hal ini, si Bininix dan si Cicicix pun akhirnya hanya membeli satu porsi pizza saja..
Sepulangnya mereka bertemu dengan si Agigix, si Bininix pun komplain, "Kok cuman segini budget-nya Gix..?"
Namun, si Agigix hanya ngeles sebanyak-banyaknya...
Karena tingkah si Agigix yang menyebalkan tersebut, si Bininix pun jadi kecewa dan kehilangan kepercayaan.. Namun, si Bininix menasehati si Agigix, dan terus menasehatinya..
Seperti kisah sebelumnya juga, sekiranya sudah dinasehati berkali-kali, namun perbuatan buruk itu tetap terus dilakukannya, maka "biarkan" saja..
Mungkin (mungkin yaa) dia mau mencicipi dulu "buah" dari "biji" yang ia tanam. Mungkin (mungkin yaa) dia mau coba bikin lebih banyak orang-orang disekelilingnya kehilangan kepercayaan dulu. Hingga akhirnya nanti dia stres karena hidupnya sulit bila orang tidak memiliki kepercayaan kepada dirinya, lalu dia sadar dan menyesal telah mengemban pemahaman yang keliru tersebut...
Rasain, enak kan..?? :P <---bercanda, jangan dikata-katin "Rasain emangnya enak!" begitu yaa ke temannya..  :)
Meski memang padahal sudah dinasehati...
Yah itu tadi kan, ada dua cara orang bisa menjadi dewasa dan membaik:
  • Pertama.. ikuti nasehat, lalu mendewasa dan membaik..
  • Kedua.. Abaikan nasehat, tiba-tiba celaka, lalu menyesal, barulah belajar mendewasa dan membaik..
Terkadang kita belajar dari waktu dan kejadian yang turut serta "membantu" teman dan keluarga yang menasehati diri kita...

Kisah #3. Biji Kapitalisme dan Buah Kapitalisme

Suatu hari ada seorang perempuan alim, namanya Dizizi, yang didatangi teman sekelasnya yang perempuan juga, namanya Hihihi.
Memang Dizizi ini dicap alim oleh sebagian temannya, karena memang dia adalah seorang pengemban dakwah. Dia biasa ber-amar ma'ruf nahi munkar. Dan gara-gara itu, sebagian teman-temannya ada yang meledeknya "Bu Ustadzah..", "Bu Haji..", "Bu Hajjah.." hingga ada sebagian temannya yang akhirnya terbiasa memanggilnya Bu Ustadzah..
Nah, si Hihihi tersebut tiba-tiba curhat ke si Dizizi, "Bu Ustadzah.. Saya mau minta solusi Islam mengatasi masalah saya Bu Ustadzah.."
Si Dizizi menyaut, "Iyaa..?? Silahkan aja Hik.. ^_^"
Si Hihihi berkata, "Saya hamil, Bu Ustadzah.. Gimana ya solusinya menurut Islam, Bu Ustadzah..??"
Si Dizizi pun kaget, "MasyaAllah.. Serius Hik..?? Kok bisa sih..??"
Jawab si Hihihi, "Iya Bu Ustadzah.. gimana tuh solusinya menurut Islam ya Bu Ustadz.. Soalnya saya pacaran Bu Ustadzah.."
Tanggap si Dizizi, "Wah.. yang nyuruh pacaran siapa..??"
Balas si Hihihi, "Yang nyuruh pacaran, ideologi Kapitalisme, Bu Ustadz.. Terus gimana tuh solusinya menurut Islam Bu Ustadz..?"
Lalu si Dizizi berkata, "Maaf aku kurang tahu Hik.. Coba tanya sama pengemban ideologi Kapitalisme..."
Si Hihihi pun kembali menyaut, "Tapi Bu Ustadz.. gimana tuh solusinya menurut Islam Bu Ustadz..?"
Si Dizizi pun bilang, "Kalau menurut Islam, dari awal jangan pacaran harusnya.. Pacaran itu kan bagian dari penerapan ideologi Kapitalisme ya kan.. Aqidahnya sekulerisme ya kan.. Nah coba saja Kamu gali siapa tahu aqidah sekulerisme itu bisa melahirkan solusi dari penyimpangan aktivitas pacaran, buat para aktivis pacaran yang tidak sukses pacarannya.."
...
Hehehe! XD Tentulah kisah ini 100% fiktif.. :D Jangan ditiru yaa.. :P Nanti kalau ada teman Anda yang curhat begitu, Anda ngomongnya baik-baik yaa.. InsyaAllah ada kok solusinya kalau sudah terlanjur hamil.. Kisah di atas tersebut hanya guyon saja.. :)
Yah itu tadi kan, ada dua cara orang bisa menjadi dewasa dan membaik:
  • Pertama.. ikuti nasehat, lalu mendewasa dan membaik..
  • Kedua.. Abaikan nasehat, tiba-tiba celaka, lalu menyesal, barulah belajar mendewasa dan membaik..
Terkadang kita belajar dari waktu dan kejadian yang turut serta "membantu" teman dan keluarga yang menasehati diri kita...
Termasuk saya juga kadang begitu.. Saya dinasehatin orang tua supaya rajin beres-beres, saya malah malas.. saya sukanya berantakan.. Hingga tiba suatu masa di mana akhirnya berantakan membawa malapetaka kepada saya.. Bisa jadi dari berantakan tersebut mendatangkan kecoak dan semut.. Bahkan mendatangkan penyakit.. demam, diare, dan lain-lain.
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.”

[QS. Al-Israa’: 7]
Hal ini tentu berlaku pada banyak hal. Termasuk pada mereka yang mengemban aqidah sekulerisme, tentu beserta apa-apa yang lahir darinya: Demokrasinasionalisme, hedonisme, dan lain-lainnya, dalam paket ideologi Kapitalisme.
Mereka tak kunjung sadar betapa rusaknya dan merusaknya Kapitalisme tersebut. Padahal sudah berkali-kali syariat Islam digaungkan untuk diterapkan, dalam bingkai Khilafah.
Itu juga imbasnya dari kebablasan berfikir apa-apa harus ilmiah. Padahal cukup dengan berfikir rasional saja, lalu ta'ati Al-Qur'an dan assunnah.
la tahzanYah itu tadi kan, ada dua cara orang bisa menjadi dewasa dan membaik:
  • Pertama.. ikuti nasehat, lalu mendewasa dan membaik..
  • Kedua.. Abaikan nasehat, tiba-tiba celaka, lalu menyesal, barulah belajar mendewasa dan membaik..
Terkadang kita belajar dari waktu dan kejadian yang turut serta "membantu" teman dan keluarga yang menasehati diri kita...
Meski memang mereka sangat sangat sangat tidak ingin bila kecelakaan tersebut keburu menimpah kita.. Mereka pasti kasihan..
Tapi.. yaa, begitulah.. itu tadi kan, ada dua cara orang bisa menjadi dewasa dan membaik:
  • Pertama.. ikuti nasehat, lalu mendewasa dan membaik..
  • Kedua.. Abaikan nasehat, tiba-tiba celaka, lalu menyesal, barulah belajar mendewasa dan membaik..
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

[QS. Ar-Rum: 41]
Wallahua'lam bishshawab..
Sumber gambar: PixabayWeHeartIt.
Baca Selengkapnya
Ngapain Hemat-Hemat? Uangnya Banyak "Dikeluarin" Aja Sebisa Mungkin!

Ngapain Hemat-Hemat? Uangnya Banyak "Dikeluarin" Aja Sebisa Mungkin!

ngapain-hemat-uang-itu-dikeluarin-aja-sebisa-mungkin

Saat-saat bulan Ramadhan seperti ini, biasanya sebagian anak kost-kostan yang juga biasanya merupakan mahasiswa, menjadi PPT..
Apa itu PPT?
PowerPoint Presentations?
Bukan..
PPT itu, Para Pencari Ta'jil, hehehe...
Kemarin, saya ketemu dengan seorang PPT yang berkata, "Alhamdulillah hari ini nggak ada pengeluaran.." pengeluaran uang maksudnya. Begitu kurang-lebih.. Lantaran dia sudah kekenyangan karena ta'jil yang ia santap, secara gratis..
Menyenangkan memang. Bagi anak kost, khususnya mahasiswa, kebanyakan yang gratis itu rasanya enak. Meski kadang belum tentu juga enak di lidah, hehehe..
Saya pun juga merasa begitu awalnya. Saya merasa senang bila dalam satu hari pengeluaran saya minim, seperti misalnya tidak sampai Rp10.000 per hari. Hanya Rp8.000, atau Rp7.000, atau bahkan Rp5.000. Apalagi kalau pengaluaran per hari saya tidak ada, alias nol. Senang rasanya.
Namun, beberapa saat kemudian, saya jadi kurang senang kalau pengeluaran saya sedikit.. Hmm.. anti-mainstream nih..
Biarin..
Saya pikir setidaknya setiap orang harus seperti saya gitu juga, justru merasa kurang menyenangkan kalau pengeluaran per hari hanya sedikit.
Mengapa?
Karena, bisa jadi itu bentuk dari kelalaian. Iya, kelalaian, karena kita melewatkan kesempatan untuk bersedekah!

Sedekah

Maka dari itu, justru sebaliknya. Barangkali seharusnya kita bersedih bila pengeluaran per hari kita sedikit. Kita pertanyakan, kalau pengeluaran sedikit, berarti sedekahnya sedikit dong..??  Atau jangan-jangan tidak ada sedekah..??
Dasar yang paling perlu diingat adalah, hukum asal perbuatan kita harus terikat dengan hukum syara'. Kita harus mengutamakan hal yang wajib, kemudian sunnah. Soal yang mubah, terserah. Yang makruh sebaiknya jangan. Dan yang haram harus ditinggalkan.
Nah, terkait alokasi harta.. haruslah kita mengutamakan alokasi harta yang wajib dan sunnah. Soal yang mubah itu terserah. Yang makruh sebaiknya nggak usah. Dan yang haram, jangan.
Contohnya:
  • Pengeluaran yang wajib, yaitu nafkah dan zakat.
  • Pengeluaran yang sunah, yaitu sedekah.
  • Pengluaran yang mubah, yaitu belanja kebutuhan hidup.
  • Pengeluaran yang makruh, yaitu boros (idha'atul maal).
  • Pengeluaran yang haram, yaitu riswahtabdzirtaraftaqtir, dan israf.
Btw, ini baru soal pengeluaran dalam artian infaqul maal yaa.. Belum bahas pengembangan harta (tanmiyatul milkiyah) seperti investasi, dan sebagainya..
Begitulah..
Jadi, intinya, janganlah kita bangga, bila pengeluaran per hari kita sedikit. Dan jangan pula sedih bila pengeluaran per hari kita banyak. Bukan soal dikit-banyaknya pengeluaran yang membuat kita sedih atau senang.
Tapi, yang membuat kita senang atau sedih adalah, apakah uang kita itu kita keluarkan untuk perkara bermanfaat atau tidak, terlepas sedikit atau banyak.
Kita senang, bila uang yang kita miliki akhirnya kita keluarkan untuk sedekah. Ntah itu hanya Rp2.000, ataupun Rp50.000.
Kita sedih, bila uang yang kita miliki akhirnya kita  keluarkan untuk ngemil snack, seharga Rp50.000, sementara barusan kotak infaq lewat tapi hanya memasukkan Rp2.000. Atau bahkan hanya lewat, tidak memasukkan apa-apa...
Itu masih mending buat yang mubah. Lebih sedih lagi kalau buat yang makruh, apalagi yang haram. Seperti buat beli rokok, atau yang parah buat beli miras.
Yah, itulah kesimpulannya. Sekali lagi, bukan soal dikit-banyaknya pengeluaran yang membuat kita sedih atau senang. Yang membuat kita sedih atau senang adalah, apakah uang kita kita keluarkan untuk perkara yang tidak bermanfaat maupun kurang bermanfaat, atau untuk hal bermanfaat dan kebaikan, terlepas sedikit atau banyak nominalnya..
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:لا يَزُولُ قَدْمَ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْألَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أفْنَاهُ، وَشَبَابِهِ فِيمَا أبْلاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أيْنَ كَسَبَهُ وَفِيمَا أنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ؟

"Kedua telapak kaki seorang anak Adam di hari kiamat masih belum beranjak di sisi Tuhannya sebelum ditanya mengenai lima perkara: tentang umurnya, apa yang telah dilakukannya? Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya? Tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya? Dan untuk apa dibelanjakannya? Tentang ilmunya, apa yang dia kerjakan dengan ilmunya itu?”

[HR. Ahmad dan At-Tabrani]
والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.”

[HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614]
أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”

[QS. Al A’raf: 99]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah:

رجل تصدق بصدقة فأخفاها، حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.”

[HR. Bukhari]
إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.”

[QS. Al Hadid: 18]
Wallahua'lam bishshawab..

Sumber gambar: Pixabay, TribunNews.
Baca Selengkapnya