Searching...
Rabu, 25 Juli 2012

Inilah Sebab Krisis Moral Terlestari

Inilah Sebab Krisis Moral Terlestari
Inilah Sebab Krisis Moral Terlestari
Seperti yang kita ketahui, krisis moral sudah begitu banyak lahir. Tidak lagi sekedar menjadi budaya. Tapi juga sudah melembaga. Anda boleh memperhatikan lingkungan sekitar Anda, atau perhatikan juga media-media seperti televisi, koran, dan sebagainya. Kasihan iya? Iya, sangat merisihkan. Selain merisihkan, bencana ini juga mengherankan. Mengherankan gimana? Heran karena mereka sudah berpendidikan tinggi-tinggi, namun kenapa moralnya sangat buruk? Coba perhatikan kalimat-kalimat yang barangkali terlampau sering kita dengar berikut:
  • "Padahal mereka cerdas semua, tetapi mengapa kerjaannya kebanyakan galau terus?
  • "Padahal dia itu doktor loh, kok bisa sih berlaku zholim seperti itu?"
  • "Dia itu memang mahir jika diminta melakukan ini-itu. Sayang sekali dia mudah dipengaruhi untuk melakukan ini-itu yang negatif."
  • "IQnya tinggi . Tetapi kenapa integritasnya kacau banget iya?"
  • dan sejenis lainnya.
Kenapa bisa begitu iya? Telah begitu pintar, pandai, belajar ilmu-ilmu di Sekolah favorit, di Universitas Favorit, bahkan di luar negeri, dikatain jenius pun cocok, tetapi kok perilakunya tidak manusiawi? Sebabnya tidak lain adalah yang mereka pelajari selama bertahun-tahun itu adalah mayoritas kecerdasan IQ, sedangkan SQ dan EQ disekiankan. Inilah inti dari segala inti kerusakan.

Robert Stenberg -seorang pakar Succesfull Intelligences- pernah berpesan, "Bila IQ yang berkuasa, ini karena kita membiarkannya berbuat demikian. Dan bila kita membiarkannya berkuasa, kita telah memilih penguasa yang buruk." Ia juga menjelaskan bahwa ada sebuah sikap yang paling membahayakan yang sudah dibudidayakan oleh budaya kerja modern saat ini. Sikap apa itu? Yaitu sikap kita tidak diizinkan untuk mengikuti intuisi, dalam keadaan apapun. Padahal intuisi itu datangnya dari hati. Itulah fitrah yang diberikanNya kepada kita sebagai kekuatan kita. Sebaliknya, malah yang diizinkan adalah harus yang lain yang bukan itu. Kalau saya bilang, masak harus nggak boleh sih? Parah.

Ada baiknya saya akan menunjukkan ke Anda beberapa fenomena yang tersirat ini. Coba perhatikan:
  • Ada berapa banyak orang yang nilai akademiknya hebat-hebat, namun nilai pendapatannya tidak jelas?
  • Ada berapa banyak orang yang IPKnya tinggi-tinggi, kemudian, apakah hasilnya ketika memasuki dunia yang sebenarnya, apakah sesuai dengan usahanya?
  • Ada berapa banyak orang yang 100% mengandalkan ilmu-ilmu lain selain EQ dan SQ dalam mengambil sebuah keputusan, lalu interaksinya tidak membuahkan yang begitu baik?
  • Ada berapa banyak orang yang sudah dipuji besar-besaran, dikatain hebat, tetapi ketika praktek di dunia yang lebih nyata, dia keawalahan?
  • Ada berapa banyak orang yang kelihatannya smart banget, bisa menghafal 100% apa yang ada di buku, namun, ternyata kerjaannya hanya bisa ikut-ikutan, ketika dituntut untuk kreatif, dia malah menggaruk-garuk kepala?
  • Ada berapa banyak orang yang bicara dan tampangnya luar biasa sekali, sampai dianggap super pemberani, tetapi tidak pernah berani untuk memulai untuk berwirausaha?
  • Ada berapa banyak orang yang paling rajin jalan-jalan diantara teman-temannya, namun dialah yang paling sering galau diantara temannya-temannya?
  • Ada berapa banyak orang yang kelihatannya elegan, memiliki beribu alasan logis yang dahsyat, namun less action bahkan no action?
  • Ada berapa  banyak orangyang berkata, "Kita itu pergi ke Sekolah, ke Kampus, untuk menuntut ilmu." Tapi lebih cinta dengan ijazahnya daripada ilmunya?
  • Berapa banyak orang beranggapan bahwa dengan gelar dan jabatannya yang berjibun akan membuktikan bahwa mereka adalah orang yang sangat cerdas? Padahal kalau memang mereka sangat cerdas, seharusnya mereka tidak sekadar mencari pekerjaan. Tetapi juga berusaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan!
  • dan sejenis lainnya.
Begitulah. Jangan heran, memang karena ketidakdiajarkannya ilmu EQ dan SQlah sebab perkara-perkara di atas. Memang kita perhatikan, tidak perlu menuding orang-orang yang berkecimbung di bidang pendidikan, dari diri kita pribadi saja pun kita bisa memulai. Bahkan begitu banyak ilmu EQ yang gratisan. Tapi tidak mau. Padahal penguasaan EQ ini jauh lebih penting dibanding penguasaan hafalan dan hitungan. Misalnya seperti:
  • Integritas
  • Cita-cita
  • Keloyalan
  • Wisdom
  • Pengambilan hikmah dari kegagalan dan kesalahan
  • Otak Kanan
  • Amanah
  • Istiqomah
  • Prinsip
  • Kreativitas
  • Ikhlas
  • Mental
  • Sinergi
  • Dan lain-lain sejenisnya
Ada yang bilang, "Ilmu yang begitu sudah kami pelajari kok!"Iya, namun masih minoritas. Penelitian menunjukkan, ilmu EQ yang biasa ada di Sekolah maupun di Kampus itu minoritas. Padahal, kata penelitian lagi, kesuksesan seseorang dapat diprediksikan dengan faktor 85% EQ dan 15% IQ. Bukan 100% IQ! Ini bukan kata saya, ini kata penelitian loh.


Ngomong-ngomong, kita kerap mengulang sebuah bab SD di SMP. Juga mengulang bab SMP di SMA. Misalnya saja, dalam pelajaran matematika, bab Pemfaktoran. Dalam biologi, Hukum Mendel, Tumbuhan, Sistem Organ, dan sebagainya. Bab-bab tersebut kerap kita ulang kembali ketika memasuki jenjang yang lebih tinggi. Coba perhatikan. Ketika SD, bab Sistem Organ yang harus dipelajari sedikit sekali. Bahkan, dengan membacanya satu kali saja kita sudah bisa hafal di luar kepala. Karena kini soal Sistem Organ ini biasa kita bicarain sehari-hari. Lalu, ketika SMP, bab Sistem Organ itu diulang lagi. Namun, kini dibahas lebih dalam lagi. Sudah mulai mengenal jaringan-jaringan dari suatu organ. Ketika SMA IPA, bab Sistem Organ ini diulang lagi! Namun, kini dibahas jauuuh lebih dalam lagi. Sudah mulai mengenal sel-selnya, hingga fungsinya, siklusnya, dan sebagainya. Apalagi ketika kuliah?

Begitu pula soal ilmu EQ, terkadang, hanya dipelajari satu kali saja pada level SD. Meski sudah SMP, dan SMA, bahkan ilmu EQ yang dipelari masih dalam level SD. Tidak ada perkembangan. Buktinya? Begini, apa Anda pernah mengikuti sebuah seminar motivasi? Atau membaca buku motivasi? Atau, yang lebih umum, apa Anda pernah menonton pak Mario Teguh di Golden Ways? Oke, coba perhatikan. Bukankah ilmu-ilmu yang mereka ajarkan itu sama saja dengan ilmu EQ yang Anda pelajari ketika SD? Iya, jelas sama. Namun levelnya sudah berbeda. Kelihatan, ilmu IQ terus dikembangkan dengan meninggalkan ilmu EQ di belakang. Salah satu hasilnya adalah krisis moral dan krisis ekonomi dan krisis-krisis lainnya.

Pun pernah ada sebuah survei yang dilakukan terhadap banyak orang dengan bermacam-macam kualitas finansial. Survei apa itu? Yaitu mereka ditanya begini, "Coba, angkat tangan, siapa yang sekarang mencari nafkah dengan ilmu yang sesuai dengan pendidikannya?" Ternyata, 90% lebih tidak mengangkat tangan. Mungkin 95% persen pun! Dan memang 10% atau 5% sisanya yang mengangkat tangan itu tempat duduknya di bagian pojok dan gelap-gelap. Hahaha!

Ada yang bilang, "Ilmu yang begitu bisa dipelajari di luar Sekolah kok!" Iya, benar. Lalu, apakah Anda benar-benar mempelajarinya di luar Sekolah? Tidak perlu repot-repot, ilmu ini tersebarluas dimana-mana kok. Mas Ippho pun sering berkata, "Ilmu di Sekolah itu penting. Ilmu di luar Sekolah, jauuuh lebih penting." Dengan lain kalimat pak Mario Teguh berpesan, "Sebagian besar dari kita tidak perlu sekolah lagi. Dengan membongkar masalah yang telah lalu saja itu sudah cukup." Lagi, Anda tahu Andrie Wongso? Beliau tidak tamat SD. Betul, SD saja tidak tamat. Namun, bagaimana kesuksesannya? Boleh Anda cek di situsnya - www.andriewongso.com.

Dan memang terbukti. Ada kisah nyata, beberapa mahasiswa lulusan sebuah Universitas ternama, yang begitu cerdas dan banyak skillnya, baru diterima sebagai karyawan di sebuah Perusahaan. Kemudian, mulailah mereka bekerja. Terus, bagaimana hasil kerja mereka? Ternyata omzet tak kunjung dapat mereka jemput. Kemudian apa? Kemudian sang atasan membuat sebuah program, dimana para karyawan diharuskan untuk mengikuti seminar rutin dalam waktu-waktu tertentu. Hasilnya? Omzet melonjak. Penghargaan pun berjibun!

High emotional intelligence equals top performance
Statistik EQ -  www.talentsmart.com
Terakhir, mau bukti yang nyata? Mau? Oke. Lihatlah masa-masa dimana EQ dan SQ sungguh-sungguh dipelajari. Atau lihat tempat-tempat dimana EQ dan SQ sungguh-sungguh dipelajari. Contohnya? Mari kita perhatikan Rasulullah Saw. beserta beberapa sahabat. Mereka baik, bijak, cerdas, kayak, bahagia, dan masih banyak lagi. Kita ambil satu aspek, yaitu kaya. Iyah, mereka kayanya luar biasa. Bahkan Michael H. Hart membuat nama beliau berada berada di peringkat pertama diantara tokoh yang memilki pengaruh kuat dalam sejarah manusia! Wuih! Lantas, ada beberapa orang yang berusaha untuk menandingi kekayaan beliau dengan sebuah usaha, yang di dalam usaha itu tidak ada ilmu EQ dan SQ. Hasilnya? Mereka tidak pernah mampu menandingi kekayaan Rasulullah Saw. beserta beberapa sahabat yang dibangun dengan ilmu EQ dan SQ.

Kebetulan, barusan, pagi ini saya update status di Facebook seperti ini:


 ·  · 


Sekarang, jawablah pertanyaan berikut berdasarkan status di atas:
  • Ada berapa banyak orang yang seperti itu?
  • Ada berapa banyak orang yang berusaha mengulangi hal itu?
  • Ada berapa banyak orang yang tidak seperti itu?
  • Ada berapa banyak orang yang berusaha melakukan hal yang baru -bukan hal itu-?
  • Seharusnya dan sebaiknya yang mana yang harus kita lakoni?
  • Kira-kira saja, kita termasuk yang mana?
Kebetulan, sudah lama sekali ada sebuah survey di Amerika soal ini. Saat ini, anak-anak maupun orang-orang dewasa yang berIQ tinggi tidaklah bisa dikatakan langka lagi. Bahkan IQnya semakin tinggi. Pilunya, EQnya semakin menurun. Buktinya sudah terlalu konkrit. Bukti apa itu? Yaitu saat ini mereka cenderung kerap mengalami masalah emosi lebih intens lagi daripada orang-orang terdahulu. Makanya mereka mudah marah, mudah stress, mudah pesimis, banyak mengeluh dan kesulitan menghadapi masalah yang datang di kehidupannya. Istilahnya, musim galau.

Masih kelanjutan dari survey tadi, ada sekitar akhir puluhan tahun saat ini, hampir jutaan para pencari nafkah, yakni mulai dari karyawan, wirausaha, pejabat, dan lainnya memiliki beberapa sikap yang sama dalam menjeput rezeki. Dan pokok terpenting dari keberhasilan mereka adalah kecerdasan emosi. Kalau kata saya, bisa jadi salah satu pokok dari kegagalan kita adalah EQ rendah.

Begitulah, bicara soal bukti pengabaian ilmu EQ dan SQ sebab pelestarian krisis moral ini maemang terlalu banyak bila disebutkan disini. Namun, sebagian yang tengah diterangkan tadi rasanya sudah cukup menyadarkan kita untuk lebih sadar lagi. Pun sebetulnya dengan menggali pengalaman saja sudah cukup. Lantas, sekarang, apakah yang harus kita lakukan? Tidak lain dan tidak bukan adalah, tingkatkanlah fokus untuk mempelajari ilmu EQ dan SQ tersebut. Dimana? Dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Itulah istimewanya ilmu EQ dan SQ. Pastinya sebaik-baiknya orang adalah yang mahir IQ, EQ, dan SQ. Bila ini dilakoni dengan serius, bukan mustahil Indonesia akan maju drastis. 

Jadi kesimpulannya:
  • Pelajarilah ilmu EQ dan SQ lebih fokus lagi. Sebagaimana Anda fokus mempelajari IQ.
  • Satu aset yang cukup penting dalam mempelajari ilmu EQ dan SQ adalah hati Anda. Itu sebabnya, bila pada suatu saat ada keputusan yang berbeda soal otak dan hati, ikutilah hati Anda. Bukankah hati tidak perna berbohong?
  • Satu lagi aset yang terpenting dalam mempelajari ilmu EQ dan SQ adalah konsep agama.
  • Ingat, pengalaman adalah adalah guru terbaik. Betul, pengalaman adalah guru EQ dan SQ terbaik. Itu sebabnya, rajin-rajinlah menggali ilmu-ilmu baik dan hebat dari pengalaman Anda.
  • Pastinya sebaik-baiknya orang adalah yang mahir IQ, EQ, dan SQ.
Sumber gambar: gambar 1gambar 2gambar 3, gambar 4.
Gambar bisa saja memiliki hak cipta.




gabung dengan hizbut tahrir
 
Ke Atas!