Kenapa Calon Pemimpin yang Super-Duper Baik Pun PASTI 100% Tetep Nggak Akan Bisa Membawa Perbaikan Hakiki pada Negeri Ini*

Kenapa Calon Pemimpin yang Super-Duper Baik Pun PASTI 100% Tetep Nggak Akan Bisa Membawa Perbaikan Hakiki pada Negeri Ini*
Masih selerakah Anda untuk "nyoblos" pada tanggal 9 April nanti? Sayangnya, ternyata masih saja ada beberapa yang masih selera.

Beberapa orang itu, tetap berharap, Indonesia ini tetep bakal bisa berubah kalau pemimpin yang naik itu baik. Kalau pun belum bisa berubah, yah minimal naik ajalah dulu, supaya mengecilkan kesempatan orang-orang jahat, JIL, "Syiah aneh", dan yang lainnya naik, menjadi penguasa.

HOREE!! Yang Jadi Pemimpinnya Orang Baiiik!! Tapi.. Kok Dia Malah Kerjasama dengan Orang Jahat.. :(

-_-

Lucu ini memang..

Rakyat itu kan, sukanya milih orang yang baik yang jadi pemimpin Negeri ini. Nah, jadi, kalau si calon pemimpin tersebut mau dipilih, yah rakyat harus tahu dulu, bahwa ada nih calon pemimpin yang baik, namanya si Anu gitu..

Pertanyaannya, gimana caranya supaya rakyat bisa tahu? Gampaangg.. Tinggal tonjolin aja banyak-banyak kebaikan si calon pemimpin itu, dan tutupi setutup-tutupnya kejelekan si calon pemimpin itu.. Gampang ngomongnya, tapi susah prakteknya?

Kenapa susah, lihat saja, ada berapa sih orang di Indonesia? Yang punya hak suara, tentunya. Berapa coba? Nah, tugas si calon pemimpin ini, kudu bisa membuat orang-orang tahu, bahwa dia itu orang baik, kebetulan lagi dicalonkan untuk jadi pemimpin. Naaah, untuk melakukan hal itu, tentulah butuh duiitt.. Buat bayar ke "tukang berita" di TV-TV, untuk memberitakan kehebatan-kehebatannya..

Pertanyaan besarnya, uangnya dapet darimana? Jawaban yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang adalah, yah dari kaum Kapitalis. Kapitalis Barat yang ngasih utang ke si calon pemimpin.

Pertanyaan besar berikutnya, kok gajimu dikit doang gitu, tapi berani ngutang banyak banget? Gimana cara bayar hutangnya tuh? Sanggup?

Sempet heran juga si calon pemimpinnya. Namun, kaum Kapitalisnya ngasih saran, "Gini aja Broo.. You kan punya tambang emas, punya minyak, dan punya banyak SDA lainnya kan? Nah, itu, kasih aja ke kami.. Bayar pake itu You..."

Piramida Kapitalisme
Piramida Kapitalisme
Setelah semua SDA udah dikasih, ternyata, hutangnya belum lunas juga. Malah makin banyak, karena kelamaan bayar jadi kena denda (bunga/riba). Pusing deh si pemimpinnya. Besok, kaum Kapitalisnya ngasih saran lagi, "Gini aja Broo.. You kan punya 200 jutaan lebih rakyat kan? Ambil aja duit mereka.. Ntah dengan cara ngutip pajak kek, batalin proyek Sekolah gratis kek, batalin biaya berobat gratis kek, bangun tempat pelacuran kek, banyaklah caranya.. Atau yang tokcer bisa juga nanti kita bantuin juga melalui inflasi uang kertas.."

Pemimpinnya kaget, "Wuih, nggak apa-apa tuh Bro?"

"Yah nggak apa-apalah! Reaksi You berlebihan tauk! Kan You jadinya dapet duitnya juga, bisa kaya juga You nanti, apa yang You khawatirkan lagi?" kata si Kaum Kapitalis.

"Hmmm.." pikir si Pemimpin.
Peta Kepemilikan AS pada Indonesia
Pemimpin yang Sebegimana Baik Pun, Ujung-Ujungnya Kudu Nurut sama AS Dan Kawan-Kawannya
Itulah sebabnya kenapa sampai sekarang negeri ini tetep aja begini. Ternyata ada orang baik yang udah niat nih mau buat hukum yang baik, mau menjalankan dengan baik, tapi, faktanya yang dijalankan dan dipraktekkan malah lain. Makanya nggak heran tiba-tiba kita lihat si Anu sama si Inu yang terkenal alim dan kredibel, rupanya nerima suap dan menyuap. Nggak nyangka banget?



Siapa Jagoanmu? Partai Islam? Joko Wi? Atau?

Siapa? Apakah mereka yang "katanya" partai Islam? Saya setuju sih, kalau orang-orang "Partai Islam" yang banyak baik-baik itu menjadi jagoan. Tapi, kalau mereka diminta masuk ke Demokrasi, saya nggak setuju. Kasihan! Ntar mereka malah "diwarnai".

Padahal mereka udah rajin sholat, rajin sedekah, pergaulannya syar'i, bisnisnya syar'i, tiba-tiba jadi hobi menjauhkan Al-Qur'an dan Assunnah dalam politik. Padahal, Islam itu justru ada dalam segala aspek. Makanya Islam is perfect. Tapi yah mau gimana lagi, mereka kan harus nurut sama bos mereka yang udah minjemin duit.

Pak Joko Wi? Aduuh, jangan jugalaaahh.. Kasihaaann.. Dijadiin Presiden nanti malah makin hancur ntar diutak-atik Kaum Kapitalis.. Janganlah, jangan..

Ini Solusinya: Pakai Aturan Allah untuk Ngatur Negara


Luas Wilayah Daulah Khilafah: 20.000.000 Km persegi

Seperti yang sudah kita simak di artikel sebelumnya, Rasulullah kan mewariskan sistem, yang biasa kita kenal dengan nama Khilafah. Makanya, berarti, selain memang kita butuh pemimpin yang baik, kita juga butuh sistem kepemimpinan yang baik.
Karena kalau pemimpinnya baik, tapi sistemnya nggak baik, yah dia jadi nggak baik. Ibarat kalau Anda yang super baik ini, masuk ke komunitas AMPN (Asosiasi Maling Profesional Nasional). Yang namanya udah masuk organisasi kan, yah harus make sistem di organisasi itu. Nah, kalau Anda udah masuk ke komunitas maling, yah kerjaan Anda harus maling. Kalau nggak mau maling? Yah keluar. Masuk ke komunitas sedekah aja gitu.

Dengan kata lain, mari, kita berjuang membangkitkan umat muslim, melalui luar sistem. Sebagaimana Rasulullah membangun negara, beliau pernah ditawari untuk masuk sistem di Mekkah. Tapi beliau nggak mau. Karena syaratnya, beliau disuruh supaya jangan pakai aturan Allah.

Tidak seperti itu kalau kita lihat calon pemimpin yang sekarang. Mana ada yang mau ngatur negeri ini pakai aturan Allah? Cobalah kalau Anda minta yang Partai Islam kalau terpilih, tutup semua tempat pelacuran, tutup Bank, mana mau? Eh, lebih tepatnya, mana bisa?

Itu sebabnya, sekali lagi, mari, kita perjuangkam kebangkitan umat muslim, dengan cara Rasulullah berjuang membangun negara Islam di Madinah dulu. Takbir! Allahu Akbar!

Diberdayakan oleh Blogger.