Bahaya Perayaan Tahun Baru: Apa Penyebabnya, dan Bagaimana Cara Menghilangkannya?

bahaya-perayaan-tahun-baru-penyebab-cara-menghilangkannya
Artikel ini merupakan sambungan dari artikel sebelumnya, "Perayaan Tahun Baru Masehi dalam Pandangan Islam".

Sekiranya Anda belum membacanya, bacalah artikel itu dulu, baru baca yang ini. Karena kalau langsung baca ini, kemungkinan besar Anda bakal bingung dan banyak salah pahamnya. Kalau sudah, silahkan lanjutlah baca paragraf berikutnya.

Well... di artikel sebelumnya sudah kita dalami fakta aktivitas perayaan tahun baru, sehingga bisa dihukumi, bahwa haram merayakannya.

Namun, ternyata, selain memang haram, perayaan tahun baru juga menimbulkan banyak bahaya dan mudharat.

Seperti halnya pesta miras, narkoba, seks bebas, dan lain-lainnya, yang mana itu semua awal mula dari kasus kriminal, penyakit, dan masalah jangka panjang.

Nah, berikut ini detailing bahaya-bahaya dari adanya perayaan tahun baru.

Bahaya #1: Mengantarkan pada Kriminalitas dan Maksiat

Kerjaan-kerjaan geje di perayaan tahun baru yang hanya membuat pusing orang tua, temen sebel, dan tetangga kesel, seperti hal yang dipaparkan di awal paragraf tadi, itu memang condong ke aktivitas kriminal dan maksiat. Seperti halnya konsumsi narkoba, miras dan seks bebas.

Salah satu contoh kasusnya, menurut pantauan Potianak Post (JPNN Group), kondom itu laris manis menyambut malam tahun baru. Pun pembelinya mulai dari anak muda, hingga dewasa. Plus, diinfokan bahwa mulai tambah banyak yang nyari-nyari kondom itu sekitar sore-sore. Malahan katanya itu memang hal yang udah biasa. Bukan hanya satu apotek loh yang bilang seperti itu.

Bahaya #2: Merupakan Virus Hedonisme dari Kaum Kafir (Ghazwul Fikri)

Budaya hedonisme memang sudah sejak lama terjangkit di Indonesia, namun, kenapa bisa tetap ada, salah satunya karena dipelihara melalui budaya perayaan tahun baru ini.

Jelas hedonisme ini ampuh merusak umat muslim. Padahal di lain sisi, cita-cita tertinggi kita di dunia ini adalah mati syahid. Namun, kini banyak orang yang malah takut mati, cinta dunia (hedonisme). Inilah bentuk nyata "rudal" dari perang pemikiran (ghazwul fikri).

Bahaya #3: Langgengnya Budaya Asing, Terpuruknya Budaya Muslim

Budaya BaratSebetulnya masih banyak kesibukan-kesibukan kita sebagai muslim, yang harus segera kita selesaikan. Seperti salah satunya yaitu memahamkan masyarakat agar mereka paham Islam, hingga akhirnya menuntut untuk melanjutkan kehidupan yang Islam.

Sekarang justru sebaliknya. Peraturan hidup dalam Islam belum 100% diterapkan, karena hari ini masyarakat belum paham Islam, lantaran masih tak sedikit budaya asing menjangkiti mereka.

Bahaya #4: Membuat Umat Muslim Lupa Akan Kedzaliman

Begitu banyak kedzaliman yang tengah terjadi, seperti halnya harga BBM yang kemarin dinaikkan. Karena memang BBM masih dikuasai asing. Hal ini tentu bertentangan dengan syariat Islam, yang mana mewajibkan sumber daya alam itu harus dikelola oleh Daulah.

Itu merupakan kedzaliman yang harus kita hentikan. Namun, kini tak sedikit orang yang lupa akan penderitaan tersebut, karena perhatiannya telah dialihkan, sehingga terlena dengan hiburan-hiburan semu, pesta kembang api, minum-minum, film-film, dan lain-lain.

Bahaya #5: Membentuk Persepsi Bahwa Budaya Barat Banyak Diikuti, Berarti Memang Harus Diikuti


Inilah yang terjadi bila tidak adanya keseriusan penanaman tsaqafah Islam pada masyarakat, secara sistemik. Sehingga, bukannya pemikiran yang menghukumi fakta, tapi apa-apa fakta yang udah terlanjur terjadi, malah dijadiin patokan hukum.

Ketika orang-orang yang belajar Islam, namun di sekelilingnya banyak fakta-fakta buruk, bisa jadi ia akan terpengaruh dengan fakta-fakta buruk tersebut. Seperti halnya budaya buruk berupa perayaan tahun baru tersebut.

Bahaya #6: Melanggengkan Kapitalisme

Jelas banget, aktivitas-aktivitas hedon, sekuler, liberal, dan sebagainya, membuat kaum kapitalis semakin untung besar. Baik secara langsung, maupun dalam jangka panjang.

Piramida Kapitalisme
Piramida Kapitalisme
Kenapa Bisa Seperti Itu?

Sejatinya memang maksiat-maksiat tersebut marak hampir tiap hari. Namun, fenomenanya memuncak tatkala perayaan tahun baru masehi.

Anehnya, meski memang sudah banyak usaha razia, perapihan, kebersihan, rekayasa lalu lintas, dan sebagainya, tapi maksiat di perayaan tahun baru tak kunjung hilang juga, bahkan tidak ada pula penurunan yang drastis.

Sebab, tidak lain dan tidak bukan, kenapa masyarakat bisa seperti itu, adalah karena pertama, lemahnya iman. Kedua, lemahnya hukum.

Sebab #1: Nggak Serius Mendidik Masyarakat Agar Imannya Kuat

Tidak ada upaya serius untuk menguatkan iman masyarakat, terbukti dari kurikulum di Sekolah formal yang sekuler, mengajarkan hadharah-hadharah asing, bertentangan dengan Islam. Seperti halnya teori evolusi di mata pelajaran Biologi, hukum kekekalan energi di mata pelajaran Fisika, Demokrasi di PKN, dan lain-lainnya.

Pun prakteknya juga, seperti misalnya laki-laki dan perempuan dibiarkan ikhtilath, perempuan yang tak berhijab syar'i, dipaksanya perempuan membuka aurat tatkala mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, khususnya tatkala praktek renang. Hal ini tentu akan memicu gharizah nau' yang terimplementasi secara kacau, karena masyarakat tidak memiliki ma'lumat assabiqoh tentang bagaimana menyikapi gharizah yang memuncak, dengan benar.

Itu baru segelintir contoh di Sekolah, belum lagi soal pendidikan non-formal melalui lingkungan seperti TV, internet, media, pasar, dan sebagainya. Dan belum lagi pula soal pendidikan non-formal melalui keluarga, yang mungkin pun belum optimal.

Sistem Pendidikan Indonesia Hari Ini: Kebijakannya Dipengaruhi Kaum Kapitalis

Dengan kata lain, pada sistem negeri ini sekarang, urusan iman itu urusan individu. Orang mau murtad yo wes monggo ora opo-opo menurut Undang-Undang negeri ini. Pokoknya bebas. 180 derajat terbalik dengan yang dicontohkan Rasulullah dan para next Khalifah, yang mana sadar bahwa adalah kewajibannya mengikhtiarkan agar tiap masyarakat berkepribadian Islami.

Sebab #2: Lemahnya Hukum, Tak Menimbulkan Efek Jera

Kemudian, sekarang ini hukum-hukum yang berlaku relatif ringan. Nggak bikin orang takut. Malah bisa jadi bikin seneng, sekiranya ada pelaku kriminal yang masuk Penjara, dia bersyukur. Sungkem ke sesepuh kriminal lainnya di Penjara, berguru deh.. Hehehe!

Ini pun 180 derajat terbalik dengan yang dicontohkan Rasulullah dan para next Khalifah terdahulu.

Terus, Gimana Cara Menghilangkannya?

Lemahnya Hukum di Indonesia
Semua kekacauan itu, akar masalahnya berasal dari sistem Demokrasi negeri ini, yang nobene dibawah cengkraman Kapitalisme, yang notebene pula berasaskan aqidah sekulerisme.

Sedangkan dengan adanya sekulerisme, tidak bisalah syariat Islam diterapkan secara kaffah 100%.

Padahal, dalam Islam, adalah wajib hukumnya pemerintah memastikan setiap individu-individu masyarakat memiliki tingkat keimanan yang tinggi. Karena, keimanan itu kan modal besar sebagai kontrol individu.

Seseorang nggak akan bermaksiat, ntah maksiat kecil maupun besar, sebab mereka udah paham bahwa hal tersebut haram, Allah nggak ridha.

Juga, syari'at Islam memberikan ancaman dan hukuman yang berat bagi pelanggar syari'at seperti meminum miras, seks bebas, narkoba, pembunuhan, dan sebagainya.

Dengan kata lain, agar kekacauan berupa perayaan tahun baru masehi itu bisa dihilangkan untuk selama-lamanya, maka yang harus dilakukan adalah 2 hal. Pertama, adanya keseriusan upaya peningkatan iman masyarakat. Dan tentu itu akan optimal bila diikhtiarkan secara sistemik. Kedua, haruslah hukum-hukum Islam diterapkan.

Kalau sudah begitu, insya Allah, seperti ketika Daulah Khilafah masih tegak, masyarakat takut untuk maksiat melanggar hukum, karena mereka takut Allah tidak ridha padanya. Kemudian, takut pula akan hukuman yang akan diterimanya sekiranya ia maksiat, karena hukumannya menimbulkan efek jera.

Misalnya...
» ‏عن ‏ ‏عبد الله بن عمرو ‏ ‏قال ‏ ‏قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏من شرب الخمر وسكر لم تقبل له صلاة أربعين صباحا وإن مات دخل النار فإن تاب تاب الله عليه وإن عاد فشرب فسكر لم تقبل له صلاة أربعين صباحا فإن مات دخل النار فإن تاب تاب الله عليه وإن عاد فشرب فسكر لم تقبل له صلاة أربعين صباحا فإن مات دخل النار فإن تاب تاب الله عليه وإن عاد كان حقا على الله أن يسقيه من ردغة الخبال يوم القيامة قالوا يا رسول الله وما ردغة الخبال قال عصارة أهل النار ‏ «

Dari Abdullah bin Amr berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang minum khamar lalu mabuk, tidak diterima shalatnya 40 hari. Bila dia mati, masuk Neraka. Bila dia taubat, maka Allah akan mengampuninya. Namun bila kembali minum khamar dan mabuk, tidak diterima shalatnya 40 hari. Bila mati, masuk Neraka. Bila dia kembali minum, maka hak Allah untuk memberinya minum dari Radghatul Khabal di hari kiamat." Para shahabat bertanya, "Ya Rasulallah, apakah Radaghatul khabal?" Beliau menjawab, "Perasan penduduk Neraka."

[HR. Ibnu Majah]
Selain itu, pemabuk ketika masih hidup dunia pun juga akan diberikan hukuman yang berat. Agar insya Allah menjadi penghapus dosa baginya. Kalau kata Ibnu Qudamah rahimahullah, dalam "Al-Mughni": hukuman bagi pemabuk adalah dicambuk 80 kali.
Sesungguhnya mereka telah meriwayatkan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu bermusyawarah bersama kaum muslimin tentang hukuman bagi peminum khamr, maka Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu berkata: Cambuklah dia 80 kali, dengan pendapat itu pula ia menulis risalah kepada Khalid radhiyallahu ‘anhu dan Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu di Syam.
Misalnya lagi..
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.

[QS. An-Nuur (24): 2]
Pastilah hal ini membuat orang-orang berfikir 1000 kali untuk meminum miras, mengonsumsi narkoba, apalagi melakoni seks bebas. Betapa luar biasa kan, bagaiamana sistem Islam membendung dan memberantas secara cepat dan tepat terhadap perilaku merusak seperti yang dipaparkan di paragraf awal pada artikel sebelumnya?

Itu sebabnya, pentinglah kita berdakwah, dalam rangka mengembalikan syariat Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyyah, 'ala minhaj nubuwwah. Agar insya Allah tidak ada lagi kemaksiatan dan kriminalitas yang demikian banyak pada perayaan tahun baru masehi, seperti saat sekarang ini.

Karena memang has been proven, sejarah menunjukkan selama 13 abad, hanya tercatat 16 kali kasus kriminal. Bettul-betuuuull, ini bukan hanya andil orangnya, tapi juga lantaran sistemnya mampu membuat orang berpikir berulang kali untuk melakukan maksiat.

Wallahua'lam bishshawab..

Referensi:
Sumber gambar: GettyImages.com, PurpleTrial.com, Dafhy.net, ThinkStockPhotos.in.
Bahaya Perayaan Tahun Baru: Apa Penyebabnya, dan Bagaimana Cara Menghilangkannya? Bahaya Perayaan Tahun Baru: Apa Penyebabnya, dan Bagaimana Cara Menghilangkannya? Reviewed by Dani Siregar on Rabu, Desember 31, 2014 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.