5 Hal Wajar dan Fitrah yang Ada Pada Manusia Mana Pun, Kapan Pun, dan Siapa Pun

khasiat-manusia-potensi-hidup-kebutuhan-hajat-naluri-akal

Seberapa sering Anda menyaksikan orang-orang seperti berikut ini?
  • Ada orang yang mencuri. Ketika kepergok, kemudian dia bilang, "Aku nggak salah kok! Kan aku ini manusia! Aku butuh makan! Kalau nggak makan, nanti aku mati! Karena kami nggak berpendidikan, susah kerja, yah jadi kami mencuri aja! Biar punya duit buat beli makan!"
  • Ada sepasang anak SMA yang berzina. Ketika kepergok, kemudian mereka bilang, "Kami nggak salah kok! Kan kami ini manusia! Manusia itu kan tetap terlestari karena mereka melakukan sebuah 'hubungan'! Dan kalau kami melakukan hal tersebut, berarti kami ini manusia normal! Masak kami jadi manusia normal, terus melestarikan manusia, masak disalah-salahin?"
  • Ada teman Anda yang minjem barang Anda tanpa izin, terus Anda kesel, kemudian dia bilang, "Yaah gimana lagi, mendesak Bro.. Kan biasa kalau manusia mendesak, terpaksa, dia boleh pakai suatu hal, tanpa izin.."
  • Dan lain-lain sebagainya. Intinya, banyak sekarang orang yang membenarkan salahnya keputusan yang dia buat, karena memang itu adalah hal yang wajar sebagai manusia.
Pertanyaannya.. benarkah orang-orang seperti itu? Hmm, barangkali sebagian dari Anda ada yang mengatakan benar. Karena katanya ini negara Demokrasi, jadi orang boleh bebas. Hehehe!
Itu sebabnya, perlulah kita bahas dulu sebenarnya apa sih hal-hal yang wajar dan fitrah manusia itu? Supaya kalau kita sudah tahu secara pasti, yang mana semua manusia tanpa terkecuali mengiyakan fakta tersebut, insya Allah akan ada kejelasan terkait apa yang bisa dimaklumi dan kita anggap wajar pada diri manusia.
Nah, kalau kita perhatikan faktanya, ternyata hanya ada 5 hal yang wajar dan fitrah pada diri manusia. Yakni:
  1. Kebutuhan hajat/jasmani
  2. Naluri ego
  3. Naluri kasih sayang
  4. Naluri mensucikan
  5. Akal
Lebih tepatnya, kita sebut saja 5 hal wajar dan fitrah itu dengan istilah khasiat manusia (khasiatul insan).
Yang mana khasiat manusia itu dapat dibagi menjadi 2, yakni potensi hidup (thaqatul hayawiyah) dan potensi akal (thaqatul aql).
Kemudian, potensi hidup itu dibagi menjadi 2 lagi, yaitu kebutuhan hidup (hajatul 'udhawaiyah) dan naluri (gharaiz).
Lalu, kebutuhan naluri itu terbagi menjadi 3 lagi, yaitu naluri ego (gharizah baqa')naluri melestarikan keturunan (gharizah na'u), dan naluri mensucikan (gharizah tadayyun).
Kalau digambarkan diagramnya, kurang-lebih seperti ini...
Detailnya, masi kita bahas...

Potensi Hidup #1: Kebutuhan Jasmani (Hajat al-'udhawiyah)

Lapar, Kebutuhan Jasmani (Hajat al-'udhawiyah)
Salah satu fakta potensi hidup manusia yang memang ada pada setiap manusia, tidak bisa kita nafikan, harus kita maklumi dan anggap wajar, adalah manusia pasti memiliki kebutuhan jasmani (hajatul 'udhawiyah). Seperti halnya:
  • Makan
  • Minum
  • Menghirup oksigen
  • Bobok
  • Buang air besar
  • Pipis
  • Dan lainnya
Yang mana kalau kebutuhan jasmani seorang manusia tidak dipenuhi, bisa jadi ia akan sakit, bahkan mati.
Pasti itu. Apakah ada orang yang nggak perlu makan? Apakah ada orang yang nggak perlu bobok? Anda sendiri, pasti pernah pengalaman akan kebutuhan jasmani ini kan? Tidak mungkin tidak. Pasti semua manusia memiliki kebutuhan jasmani tersebut. Siapapun dia, hidup zaman apapun, dan di mana pun. Kalau nggak punya, berarti dia bukan manusia. Hehehe!
وَمِنۡ اٰيٰتِهٖ مَنَامُكُمۡ بِالَّيۡلِ وَالنَّهَارِ وَابۡتِغَآؤُكُمۡ مِّنۡ فَضۡلِهٖ‌ؕ اِنَّ فِىۡ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَّسۡمَعُوۡنَ‏

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.

[TQS. Ar-Ruum (30): 23]
Dengan begini, pastilah Anda akan memaklumi orang butuh makan, bobok, buang air, dan sebagainya. Nggak bisa kita salahin dan kita larang orang-orang yang laper, haus, sesak pipis, ngantuk, dan sebagainya.

Potensi Hidup #2: Naluri (Gharaiz)

Naluri juga merupakan satu hal yang wajar, dan fitrah bagi manusia. Conttohnya:
  • Suka dengan lawan jenis
  • Marah kalau diejek-ejek
  • Kepingin punya Rumah dan mobil mewah
  • Meminta pertolongan Tuhan, tatkala stress
  • Dan lain-lain
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالۡبَـنِيۡنَ وَالۡقَنَاطِيۡرِ الۡمُقَنۡطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالۡفِضَّةِ وَالۡخَـيۡلِ الۡمُسَوَّمَةِ وَالۡاَنۡعَامِ وَالۡحَـرۡثِ‌ؕ ذٰ لِكَ مَتَاعُ الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا ‌ۚ وَاللّٰهُ عِنۡدَهٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

[TQS. Ali Imran (3): 14]
Lebih lengkapnya, berikut adalah fakta 3 jenis naluri yang kita miliki, sebagai manusia:

1. Naluri Mempertahankan Diri (Gharizah Baqa)

gharizah-baqa-naluri-mempertahankan-diri
Naluri mempertahankan eksistensi diri atau gharizatul baqa ini biasa disebut juga dengan istilah egoisme. Intinya sih dirinya sendiri (individu) mendapatkan keuntungan. Contoh penampakan pemenuhannya:
  • Marah ketika sisi buruk Anda dibuka-buka
  • Senang dipuji (dibilang ganteng, cantik, pintar, hebat)
  • Pingin pakai pakaian yang keren, biar ngeksis
  • Selfie pas lagi di tempat-tempat wisata
  • Punya makanan banyak tapi dimakan sendiri, nggak mau dibagi-bagiin ke orang
  • Bangga dengan kota kelahiran
  • Pingin rank 1
  • Pingin balas dendam
  • Dan lain-lain sebagainya

2. Naluri Melestarikan Keturunan (Gharizah Nau')

gharizah-nau-naluri-melestarikan-keturunan
Sejatinya setiap manusia pasti punya rasa kasih sayang, makanya wajar manusia memiliki naluri untuk melestarikan keturunannya (spesies manusia). Intinya sih manusia lain (selain dirinya) mendapatkan keuntungan, bahkan bisa jadi disaat yang sama ia mendapat kerugian. Contoh penampakan pemenuhannya:
  • Mentraktir makan teman-teman
  • Melindungi adik dengan sekuat tenaga
  • Menghormati yang lebih tua
  • Menggombal lawan jenis
  • Merawat anak dengan sebaik-baiknya
  • Hobi ngasih sesuatu buat anak dan istri, biar mereka senang
  • Seneng lihat dedek bayi yang unyu-unyu
  • Cinta mama sama ayah, pingin membahagiakan mereka
  • Dan lain-lain sebagainya

3. Naluri Mengagunggkan (Gharizah Tadayyun)

gharizah-tadayyun-naluri-mensucikan-Allah-beragama
Beragama, atau menuhankan sesuatu, pun termasuk naluri manusia. Memang faktanya fitrah. Setiap dari kita, pasti ada dorongan untuk memuja, mensucikan, mengagungkan, dan menghebat-hebatkan sesuatu. Ada yang ia anggap lebih hebat, lebih mantap, lebih jago, lebih bagus, patut diikuti, patut digembar-gemborkan.
Contoh penampakan pemenuhannya:
  • Beriman dan bertaqwa kepada Sang Pencipta
  • Memuja patung
  • Mengagung-agungkan dan rela berkorban demi idolanya
  • Adanya perasaan kurang, lemah, dan membutuhkan hal lainnya
  • Berdo'a
  • Bersumpah atas sesuatu
وَاِذَا مَسَّ الۡاِنۡسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهٗ مُنِيۡبًا اِلَيۡهِ

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya.....

[TQS. Az-Zumar (39): 8]
Begitulah... Terlepas apakah itu cara pemenuhan yang benar atau tidak yaa..
Terus, Apa Bedanya Hajatul 'Udhawiyyah dengan Gharaiz?
Seperti yang  kita bahas sebelumnya, hajatul 'udhawiyah itu harus dipenuhi. Tidak bisa tidak. Sekiranya tidak dipenuhi, maka kita akan sakit, bahkan mati.
Nah, kalau gharaizsekiranya gharizah tidak dipenuhi, maka ia hanya akan gelisah, dan galau. Tidak memenuhi gharaiz, tidak akan membuatnya mati. Karena memang gharaiz tidak harus dipenuhi.
Seperti halnya ketika Anda yang laki-laki, suka dengan seorang perempuan. Atau Anda yang perempuan, suka dengan seorang laki-laki. Nah, sekiranya tuntutan pemenuhan tersebut tidak Anda turuti, maka Anda tidak akan kenapa-napa. Tapi, cuman galau saja.
Kemudian perbedaan berikutnya, kalau tuntunan pemenuhan hajatul 'udhawiyyah itu pasti akan selalu muncul begitu saja, dari dalam diri (internal) setiap manusia. Sedangkan gharaiz, tuntutan pemenuhannya tidak akan muncul, kalau tidak ada pemicu dari luar diri (external) manusia. Adapun pemicu itu bisa berupa fakta aktivitas, benda, maupun pemikiran.
Misal. Kalau Anda berdiam diri saja di kamar 24 jam. Yah, bener-bener diem. Nggak ngapa-ngapain. Bahkan jangan ngelamun. Jadi kayak patung gitu. Pasti lama-lama, nanti tiba-tiba muncullah tuntutan pemenuhan hajatul 'udhawiyyah. Tiba-tiba perut bunyi, laper. Tiba-tiba haus. Tiba-tiba sesak pipis. Tiba-tiba ngantuk. Tanpa harus disodorkan makanan enak (pemicu, eksternal) pasti tetep bakal ngerasa lapar.
Lain halnya dengan gharaiz, akan muncul, hingga menggebu-gebu, sekiranya ada rangsangan dari luar. Misalnya saja, seseorang yang dari awal niatnya ke Supermarket buat belanja sembako. Tiba-tiba ketemu lawan jenis yang cakep, rasanya jadi pingin berecengkrama dengan lawan jenis tersebut. Padahal tadi niatnya hanya mau belanja sembako doang kan, tapi karena ada pemicu itu, jadinya gharizah nau'-nya muncul.
Contoh lainnya lagi, setibanya di tempat belanja, dia melihat ada baju cantik. Sehingga tiba-tiba jadi terpiculah gharizah baqa-nya, dia kepingin pakai baju itu, biar nanti dipamerin ke orang-orang. Biar ngeksis, katanya. Hingga akhirnya ia beli baju itu, padahal itu nggak ada dalam daftar belanja tadi. Hehehe!

Begitulah...

Dengan begini, menjadi pahamlah Anda, bahwa ada fakta hal-hal yang ada pada diri manusia, yang harus kita maklumi dan harus kita anggap wajar. Yakni, potensi hidup manusia berupa kebutuhan hajat (hajatul 'udhawiyah) dan naluri (gharaiz). Yang mana naluri itu ada naluri mempertahakan diri (gharizah baqa), naluri melestarikan keturunan (gharizah nau'), dan naluri mensucikan (gharizah tadayyun).
(ngomong-ngomong, apa sih bedanya gharaiz dengan gharizah? Samakah? Kalau gharaiz itu jamak, gharizah itu satu. Gharaiz itu "naluri-naluri", kalau gharizah itu "naluri" aja. Hehehe....)
Namun, pembahasan pendalaman fakta khasiat manusia ini belum selesai. Perlu diketahui pula, khasiat manusia itu, selain ada potensi hidup berupa kebutuhan jasmani dan naluri tadi, ada lagi khasiat manusia satu lagi. Yaitu, potensi akal.

Potensi Akal

khasiyatul-insan-potensi-akalInilah yang membedakan manusia dengan hewan. Meski memang hewan juga punya hajatul 'udhawiyah dan gharaiz, namun hewan asal-asalan dalam memenuhi tuntutan potensi hidupnya, karena hewan tak punya akal.
Kalau manusia, ia punya akal, maka ia tidak sembarang asal memenuhi. Ia bisa berpikir, mengaitkan fakta dengan informasi terdahulu di otaknya, bagaimana cara memenuhi tuntutan yang baik, benar, dan santun (sesuai informasi terdahulunya).
Lihat saja kucing, ia asal terkam ikan yang ada di hadapannya. Tak peduli itu punya siapa. Ia pun asal terkam betina yang ada di hadapannya. Tak peduli apakah betina itu adalah induknya, saudara sekandungnya, atau kucing asing.
Lain halnya manusia, ia memiliki akal yang bisa mempertimbangkan pilihan. Tatkala tuntutan hajatul 'udhawiyah berupa lapar, maka ia bisa berfikir. Dia akan makan apa, dan bagaimana cara mendapatkan makanannya. Apakah makan daging babi yang haram, atau daging ayam yang halal. Apakah akan memakan ayam dengan cara membeli, atau mencuri.
Contoh lainnya, tatkala Anda yang laki-laki suka dengan seorang perempuan. Anda bisa memilih, ingin memenuhi tuntuan gharizah nau' tersebut dengan cara bagaimana? Apakah dengan mempersiapkan diri, hingga layak, kemudian datangi ayahnya atau walinya, untuk melamar putrinya?
Atau dengan caranya kucing, tanpa akal, asal terkam? Cukup modal sisir rambut, miripin wajah jadi kayak artis, meskipun mukanya kayak tempe, nggak apa-apa, yang penting wajahnya mirip artis aja dulu, lalu tembak ceweknya. Tanpa sepengetahuan ayahnya. Kemudian pas udah diterima, pacaran, nggak tahu saya kok tiba-tiba ntah kenapa itu perempuan udah jadi boleh dipegang tangannya, boleh dicium, boleh dipeluk, bahkan boleh "ditidurin" tuh perempuan.
Nggak paham saya kenapa bisa seperti itu. Yang jelas, akal sudah tertutup syahwat. Sak karepnya dewe..
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai akal, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

[TQS. Al-A'raf (7): 179]
Dengan begini, jadi pahamlah Anda gimana solusi atas masalah yang dipaparkan di cerita awal paragraf tadi. Memang kita manusia memiliki hajatul 'udhawiyyah dan gharaiz yang harus dipenuhi, namun, kita juga punya akal, untuk memikirkan bagaimana cara memenuhi yang benar.
Kenapa kita bisa punya hajatul 'udhawiyyah dan gharizah, itu tidak usah dipermasalahkan. Karena itu memang udah takdir. Kita tidak pernah memilih untuk punya itu, maka hal tersebut tidak akan dimintai pertanggungjawaban. Cukup kita imani saja, karena memang itu adalah qadar, dan beriman pada qadar kan merupakan rukum iman yang ke-6. Tapi kita punya akal, untuk memilih bagaimana cara memenuhi hajatul 'udhawiyyah dan gharizah tersebut. Semua pilihan-pilihan yang kita pilih, itulah yang akan dimintai pertanggungjawabanright?

Wallahua'lam bishshawab..
Referensi:
  • Kitab "Nizhamul Islam", karya Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani
  • Buku "Fikrul Islam: Bunga Rampai Pemikiran Islam", karya Muhammad Ismail
  • Buku "Udah Putusin Aja!", karya Felix Siauw
  • Buku "Penjelasan Menyeluruh tentang Qadha' dan Qadar (Bayaan asy-Syaamil 'an mas'aalah al-Qadha' wa al-Qadar Radd 'alaa Ra'y al-Mu'tazila, Jabariyyah wa Ahlu sunnah", karya A. Said Aqil Humam 'Abdurrahman
  • Slide Ppt "Hakikat Manusia", karya Ir. H. Dwi Condro Triono, M.Ah, Ph.D.
Sumber gambar: DesignrfixPixabayThinkStockPhotos.
5 Hal Wajar dan Fitrah yang Ada Pada Manusia Mana Pun, Kapan Pun, dan Siapa Pun 5 Hal Wajar dan Fitrah yang Ada Pada Manusia Mana Pun, Kapan Pun, dan Siapa Pun Reviewed by Dani Siregar on Sabtu, Desember 27, 2014 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.