Bagaimana Muslim di Indonesia Diserang Liberalisme Toleransi Natal yang Bablas, Dan Bagaimana Cara Mencegahnya

mengatasi-liberalisme-serangan-toleransi-natal

Melanjutkan artikel yang saya tulis tahun lalu Logika Sederhana Kenapa Mengucapkan Selamat Hari Natal Bagi Muslim itu Haram, yang mana setelah kita baca, jadinya kita udah paham logika kenapa ikut natalan itu haram bagi seorang muslim. Pun, ada pula nash-nash yang menjelaskan keharamannya.

Namun.. ternyata.. tahun ini pun masih tak sedikit pula ada muslim yang belum paham.
  • Masih ada juga muslim yang berniat mengucapkan selamat natal
  • Masih ada juga muslim yang mengagendakan hendak natalan bersama
  • Masih ada juga muslim yang mengenakan atribut natal
  • Masih ada juga muslim yang menggunakan dalih toleransi, padahal kebablasan
Hmm.. Penasaran nggak Anda? Sudah kita beritahu bahwa hal tersebut haram, tapi kok tetap aja masih banyak fakta prakteknya?

Maka dari itu, haruslah kita berpikir:
  1. Bagaimana solusi cara mengatasi mereka yang sudah telanjur mengagendakan dan mempraktekkan perihal natal, agar segera kembali ke jalan yang lurus?
  2. Serta yang nggak kalah penting, apa penyebab masalah tersebut kenapa masih saja terjadi?
  3. Dan yang sangat sangat penting, bagaimana cara mencegah\nya, agar praktek toleransi natal yang bablas tersebut tidak muncul lagi, untuk selama-lamanya?
1. Solusi Bagi Individu yang Sudah Telanjur Bablas Toleransi Natalnya

Ingatlah sabda Rasulullah Saw:
Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya (kekuasaan). Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.

[HR. Muslim]
Terus? Yah tinggal Anda hentikan saja aktivitas toleransi bablas Anda. Ntah itu berupa atribut natal, ucapan selamat natal, agenda natalan bersama, dan sebagainya.

Hati-Hati sama Penyakit Nggak Enakan, Paman Nabi Nggak Jadi Masuk Islam, Karena Nggak Enakan

Coba, barangkali Anda bisa mencoba melakukan apa yang dilakukan Ustadz Saad di Balikpapan berikut ini:

Sang Ustadz terkejut melihat para kasir dan pelayan sudah berbaju Sinterklas, dikarenakan akan menyambut Natal dan tahun baru. Tiba-tiba beliau menghampiri 1 orang pegawai yang benar-benar sudah memakai baju Sinterklas (dari atas sampai bawah ).
“Assalamualaikum,” sapa beliau.
“Walaikumsalam,” Sinterklas menjawab.
“Eh, Mas muslim ya?”
“Iya, Pak…”
“Kenapa kok pake baju orang Kristian?” tanya Ustadz.
“Ya, ini perintah dari manajer saya, Pak…”
“Siapa manajer kamu? Saya mau ketemu…”
“Manajer saya namanya Pak Made, orang Bali,” jawab sang Sinterklas.
“Malah bagus, saya pingin ketemu …”
Akhirnya si karyawan menyampaikan ke manajernya bahwa ada seorang ustadz yang mau berjumpa. Lengkap dengan alasan pertemuan bahwa ada orang Islam disuruh mengenakan baju Sinterklas.
Akhirnya datanglah sang manajer. “Iya Pak Ustadz, ada apa?”
“Bapak ya yang perintahkan karyawan Bapak yang muslim memakai baju Sinterklas?”
“Iya, Pak… Ini sudah aturan dari pusat…”
“Mengapa karyawan yang Islam harus dipaksa pake baju Sinterklas, padahal muslimah di Bali di tempat asal Bapak karyawan-karyawan di sana dilarang pake jilbab? Mengamalkan agama adalah hak seseorang, arti daripada menghormati bukan dengan memakai pakaian yang tidak sesuai dengan keyakinan, tapi mempersilahkan agama lain melakukan agamanya dengan aman dan nyaman….” cerocos Ustadz.
“Baik Pak, saya sampaikan ke direksi saya dulu di Jakarta. Saya minta no HP Pak Ustadz …”
Malam harinya, ada telpon masuk pada HP Ustadz. Nomor tidak dikenal.
“Assalamualikum…” ujar suara dari seberang sana.
“Wa alaikum salam ….”
“Pak Ustadz, saya dari Lottemart pusat Jakarta …”
“Oooh Iya bagaimana, Pak… Kok karyawan Bapak yang muslim diharuskan pakai baju Sinterklas?”
“Ooh maaf Pak Ustadz, jadi tidak boleh ya?”
“Begitulah…”
“Baik, Pa Ustadz mulai besok, saya suruh pake baju seragam biasa aja karyawan saya …”
“Alhàmdulillah…”
Wah senangnya berhasil mereformasi kebiasaan orang-orang di luar Islam yang memaksakan pakaian keagamaan mereka pada orang Islam.
Jangan Takut dengan Bos, Takutlah Pada Allah

Meskipun begitu, lebih baik lagi sekiranya Anda, bersama teman-teman Anda, bahkan juga dengan para ulama, dan bahkan lagi dengan mereka yang memiliki kekuasaan, mengingatkan dan menasehati siapa saja yang belum mengerti tentang haramnya muslim terlibat dalam perihal haram, karena itu akan mengganggu aqidah kita.

Sekiranya Anda sudah mati-matian bersungguh-sungguh untuk memberitahukan keluarga Anda, teman-teman, rekan kerja, mitra, atasan, saudara, pemerintah, dan lain-lainnya yang masih saja kekeuh 'mengharuskan' Anda untuk terlibat pada perihal Natal, insya Allah Anda termasuk sudah menunaikan kewajiban Anda.


تجاوز الله عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

Sesungguhnya Allah telah mengangkat (dosa) dari umatku; yaitu (dosa karena) tersalah (tidak sengaja), lupa, dan apa-apa yang dipaksakan atas mereka.

[HR Ibnu Majah no 2045 dan Al Hakim, Al Mustadrak, no 2801). (Imam Shan’ani, Subulus Salam, 3/176, hadits hasan]
Begitulah.. Sekiranya Anda punya saran solusi lain, silahkan Anda share di kotak komentar di bawah artikel ini yaa.. :D

2. Apa Penyebab Toleransi yang Kebablasan Tersebut Terus-Menerus Terjadi?

Biasanya dalihnya adalah dalam rangka toleransi, makanya banyak muslim yang dipaksa dan terpaksa mengenakan atribut natal, dan ikut perayaan natal. Yaah, toleransi.

Ah, apa benar?

Sebelum ada yang ngoceh based on emotional belaka, baiknya kita bersama-sama bersikap objektif dulu. Apa sih defenisi toleransi itu?
to·le·ran·si n 1 sifat atau sikap toleran: dua kelompok yg berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dng penuh --; 2 batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yg masih diperbolehkan; 3 penyimpangan yg masih dapat diterima dl pengukuran kerja;

me·no·le·ran·si v mendiamkan; membiarkan: Pemerintah tidak akan ~ aparat yg menggunakan dana pembangunan dng dalih berbelit-belit

[KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Offline v1.3, Freeware ©2010-2011 by Ebta Setiawan]
to·le·ran a bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb) yg berbeda atau bertentangan dng pendirian sendiri

[KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Offline v1.3, Freeware ©2010-2011 by Ebta Setiawan]
Toleransi (tasamuh) artinya sikap membiarkan (menghargai), lapang dada (Kamus Al-Munawir, hlm. 702, Pustaka Progresif, cet. 14). Toleransi tidak berarti seorang harus mengorbankan kepercayaan atau prinsip yang dia anut (Ajad Sudrajat dkk, Din Al-Islam. UNY Press. 2009).
Got it? Anehnya, malah sebaliknya pula yang terjadi..

Padahal kita tidak ada sama sekali agenda maupun praktek "menggusur" properti-properti natal, dan acara natal itu sendiri, tapi malah ada tak sedikit orang-orang yang ngebet banget aqidah Islam kita rusak, dengan cara memaksa kita mengenakan atribut natal, memaksa kita membantu operasional natal, hingga memaksa kita mengucapkan selamat natal.

Islam Mengajarkan Kerukunan, Tapi Bukan Mencampurkan Aqidah dan Ibadah Agama Lain

Sekiranya kita tak mau mengikuti paksaan berupa perusakan aqidah kita, maka kita dibilang nggak toleran.

Justru itu 100% antonim dari toleransi.

Hmm... ngomong-ngomong, apa yah motif di belakangnya?

Bisa jadi, salah satunya adalah motif ekonomi, supaya mereka yang mengkampanyekan toleransi bablas tersebut semakin melejit-lejit profitnya. Terutama profitnya kaum kapitalis.

Kedua, motif politik. Penguasa, pejabat, dan para influencer, ikut kebablasan. Ntah mereka jadi "ikut natalan" karena diajak, karena memang niat, karena mental block, atau karena "pesanan". Yang jelas, gara-gara kekuatan influence mereka, kan jadinya orang-orang awam pun menonton, dan akhirnya mudah terbawa.

Ketiga, motif ghazwul fikri. Orang-orang yang nggak senang dengan Islam, seperti halnya kaum penganut sepilis (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme) serta kaum kafir, ingin sekali kaum muslim tetap lemah, tetap buta dan samar akan tsaqafah Islam, jauh dari Allah.. Mereka sangat takut sekiranya kaum muslim seluruhnya bangkit, kemudian bertaqwa secara kaffah..

Bisalah kita simpulkan, bahwa sebab permasalahnya adalah permasalahan sistemik..

Begitulah.. memang sekarang ini, Indonesia semakin tercekik dalam ancaman neo liberalisme dan neo imprealisme..

3. Bagaimana Cara Mencegahnya, Agar Toleransi Bablas Tersebut Tak Terjadi Lagi?

Solusinya, yaa lakukanlah toleransi yang sebenarnya. Bukan toleransi yang bablas. Sayangnya, memang sangat sangat sangat sulit kita bertolerir, sekiranya sistem negeri ini justru memaksa kita untuk tidak tolerir.

Maka dari itu, agar bisa, haruslah ada perubahan sistem pada negeri ini. Kita harus hidup dengan sistem yang memang membuat kita semua bisa 100% benar-benar mempraktekkan toleransi yang hakiki.

Seperti misalnya dulu, selama sekitar 1400 tahun, masyarakat di Daulah Khilafah Islamiyyah, bisa saling bersikap tolerir, ketika baik muslim maupun non-muslim tinggal di sana.

Karena tadi kita sudah buktikan bahwa toleransi yang bablas di Indonesia sekarang ini terjadi secara sistemik, maka juga toleransi yang hakiki di Khilafah pun memang terjadi secara sistemik.

Buktinya?

Yah lihat saja, kan asas Undang-Undang di Negara Khilafah adalah hukum syara', termasuk dalil-dalil berikut ini:
La ikraha fi ad-din..

Tidak ada paksaan dalam memeluk [agama] Islam..

[QS. al-Baqarah (02): 256]
Man kana ‘ala Yahudiyyatihi au Nashraniyyatihi fainnahu la yuftannu..

Siapa saja yang tetap dengan keyahudiannya, atau kenasraniannya, maka tidak akan dihasut (untuk meninggalkan agamanya)...

[Lihat, Abu ‘Ubaid, al-Amwal, hal. 28; Ibn Zanjawih, al-Amwal, Juz I/109; Ibn Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah, Juz II/588; Ibn Katsir, as-Sirah an-Nabawiyyah, Juz V/146]
Toleransi dalam Islam

Seperti misalnya ada orang non-muslim yang hendak merayakan Natal, maka Daulah mengizinkan mereka merayakannya di tempat khusus mereka, di dalam Gereja, Asrama, dan Komunitas mereka.

Jelasnya hukum tersebut, sama halnya dengan jelasnya penerapan hukum tersebut di masa-masa tatkala Daulah Khilafah masih tegak.

Exactly, seperti itulah yang kita inginkan dan memang seperti itu seharusnya, right?
Bagaimana Muslim di Indonesia Diserang Liberalisme Toleransi Natal yang Bablas, Dan Bagaimana Cara Mencegahnya Bagaimana Muslim di Indonesia Diserang Liberalisme Toleransi Natal yang Bablas, Dan Bagaimana Cara Mencegahnya Reviewed by Dani Siregar on Rabu, Desember 24, 2014 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.