Perayaan Tahun Baru Masehi dalam Pandangan Islam

perayaan-tahun-baru-masehi-dalam-pandangan-Islam

Apakah Anda pernah merayakan tahun baru? Atau belum pernah, tapi rencananya akhir tahun ini baru mau ikutan, udah diagendakan sama temen? Atau mungkin malah udah sering banget?

Ketika mendengar "perayaan tahun baruan", apa yang Anda di benak Anda? Bisa jadi, setiap dari Anda memiliki penyikapan yang berbeda-beda pada momen tahun baru masehi tersebut. Itu sebabnya, ada baiknya kita bersikap objektif, di artikel berikut ini, kita akan bahas fakta fenomena perayaan tahun baruannya saja.

Fakta Fenomena Perayaan Tahun Baru

Fakta fenomena perayaan tahun baruan itu biasanya:
    Kerjaan Geje di Perayaan Malam Tahun Baru
  • Konvoi dengan motor atau mobil, di malam hari
  • Menggunakan topi kerucut
  • Meniupkan terompet
  • Mengeluarkan duit lebih banyak daripada hari biasanya
  • "Bermain" kembang api, petasan, mercon, dan sebagainya 
  • Makan-makan di tempat makan, seperti Kafe, Restoran, Warung, dan sebagainya
  • Minum-minum, baik meminum minuman yang halal, maupun minuman yang haram, seperti alkohol, miras, dan sebagainya
  • Membuat keributan hingga orang susah tidur
  • Membuat jalanan macet, hingga menganggu operasional aktivitas orang yang lebih prioritas saat itu
  • Menghadiri konser musik
  • Pacaran, bahkan campur baur laki-laki dengan perempuan. Pokoknya harus ada perempuannya biar lebih greget katanya
  • Bahkan yang lebih parah, berzina di Hotel
  • Dan yang tidak kalah parah lainnya, wasilah menuju keharaman tersebut pun ditingkatkan, barusan dilansir berita stock kondom diperbanyak (Merdeka.com, 28/12/2014), promo penginapan pun digencarkan. Karena memang kelihatan dari hasil research, demand-nya banyak menjelang perayaan tahun baru
  • Mengonsumsi narkoba
  • Dan lain-lainnya, silahkan Anda tamabahi di kotak komentar di bawah

Itulah faktanya.. lumayan banyak juga rupanya.. Pertanyaannya, kok bisa gitu? Siapa yang nyuruh?

Awal Mula Adanya Perayaan Tahun Baru, dan Aktivitas Buruk Itu

Dewa MatahariAwal-awalnya banget itu, perayaan tahun baru masehi pada tanggal 1 Januari itu merupakan ibadah kepada Dewa Matahari, yang dilakukan di Romawi dulu.

Seperti yang kerap kita lihat di film-film, maupun berita-berita, biasanya di Bumi Utara, tempat Romawi berada, pada akhir tahun gini sedang turun salju kan? Atau dikenal dengan istilah winter, yakni musim dingin. Nah, anggapan mereka, musim dingin itu artinya matahari "mati".

Karena memang saat sekitar 21 Desember, matahari sedang jauh-jauhnya dari utara. Nanti mulai agak naik lagi, tanggal 25 Desember. Hingga akhirnya baru agak kerasa lagi kehadiran mataharinya, pada tanggal 1 Januari. Itulah makanya mereka merayakan kembalinya matahari, dengan mengadakan acara besar.

Pertanyaannya.. gimana tata cara dan panduan untuk merayakannya? Tidak lain dan tidak bukan, dulu mereka biasa merayakannya dengan cara:
  • Bermain judi
  • Bermain perempuan
  • Mabuk-mabukkan
  • Dan aktivitas-aktivitas buruk lainnya
Hingga kemudian beberapa tahun kemudian.. saat negara Romawi menggunakan Kristen menjadi agama negara mereka, jadinya mereka juga menyesuaikan kebiasaan-kebiasaan mereka, dengan kebiasaan-kebiasaan Kristen.

Salah satunya, dijadikanlah pemahaman di Romawi soal tanggal 25 Desember, sebagai hari Natal. Lalu, 1 Januarinya pun diresmikan sebagai hari paskah, dan tahun baru oleh Kaisar Romawi Julius Caesar (tahun 46 SM). Kemudian diresmikan ulang oleh pemimpin tertinggi Katolik, Paus Gregorius XII tahun 1582.

Hingga akhirnya penetapan ini diadopsi oleh kebanyakan negara-negara di Eropa Barat yang Kristen, sebelum mereka mengadopsi kalender Gregorian tahun 1752..

Kesimpulannya: perayaan tahun baru masehi pada tanggal 1 Januari, bukan berasal dari Islam, dan memang bukan hari raya umat Muslim. Melainkan, jelas-jelas merupakan hari raya kaum kafir. Termasuk hadharah asing. Itu sebabnya, haram hukumnya muslim ikut merayakan tahun baru masehi tersebut.

Perayaan Tahun Baru Masehi dalam Pandangan Islam

Berikut adalah dalil-dalil syara' yang menjelaskan keharamannya.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَقُوۡلُوۡا رَاعِنَا وَ قُوۡلُوا انۡظُرۡنَا وَاسۡمَعُوۡا ‌ؕ وَلِلۡڪٰفِرِيۡنَ عَذَابٌ اَلِيۡمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa'ina", tetapi katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih

[TQS. Al-Baqarah (2): 104]

"Raa 'ina" berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Di kala para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut "Raa'ina" padahal yang mereka katakan ialah 'Ru'uunah" yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Tuhan menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar perkataan "Raa'ina' dengan "Unzhurna" yang juga sama artinya dengan "Raa'ina'.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, 1/149, Imam Ibnu Katsir menjelaskan tafsir ayat ini, bahwa Allah SWT telah melarang orang-orang yang beriman, untuk menyerupai orang-orang kafir, baik dalam hal ucapan, maupun perbuatan mereka. Karena orang Yahudi menggumamkan kata ‘ru’uunah’ (bodoh sekali) sebagai ejekan kepada Rasulullah SAW seakan-akan mereka mengucapkan ‘raa’ina’ (perhatikanlah kami).
وَلَٮِٕنۡ اَ تَيۡتَ الَّذِيۡنَ اُوۡتُوا الۡكِتٰبَ بِكُلِّ اٰيَةٍ مَّا تَبِعُوۡا قِبۡلَتَكَ‌ۚ وَمَآ اَنۡتَ بِتَابِعٍ قِبۡلَتَهُمۡ‌ۚ وَمَا بَعۡضُهُمۡ بِتَابِعٍ قِبۡلَةَ بَعۡضٍؕ وَلَٮِٕنِ اتَّبَعۡتَ اَهۡوَآءَهُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَكَ مِنَ الۡعِلۡمِ‌ۙ اِنَّكَ اِذًا لَّمِنَ الظّٰلِمِيۡنَ‌ۘ‏

Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.

[TQS. Al-Baqarah (2): 145]
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَكُوۡنُوۡا كَالَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا وَقَالُوۡا لِاِخۡوَانِهِمۡ اِذَا ضَرَبُوۡا فِى الۡاَرۡضِ اَوۡ كَانُوۡا غُزًّى لَّوۡ كَانُوۡا عِنۡدَنَا مَا مَاتُوۡا وَمَا قُتِلُوۡا ۚ لِيَجۡعَلَ اللّٰهُ ذٰ لِكَ حَسۡرَةً فِىۡ قُلُوۡبِهِمۡ‌ؕ وَاللّٰهُ يُحۡىٖ وَيُمِيۡتُ‌ؕ وَ اللّٰهُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِيۡرٌ‏

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: "Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh." Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.

[TQS. Ali 'Imran (3): 156]
وَلَا تَكُوۡنُوۡا كَالَّذِيۡنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنۡسٰٮهُمۡ اَنۡفُسَهُمۡ‌ؕ اُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ‏

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.

[TQS. Al-Jatsiyah (45): 18-19]
ثُمَّ جَعَلۡنٰكَ عَلٰى شَرِيۡعَةٍ مِّنَ الۡاَمۡرِ فَاتَّبِعۡهَا وَلَا تَتَّبِعۡ اَهۡوَآءَ الَّذِيۡنَ لَا يَعۡلَمُوۡنَ‏
اِنَّهُمۡ لَنۡ يُّغۡنُوۡا عَنۡكَ مِنَ اللّٰهِ شَيۡــًٔـا‌ ؕ وَ اِنَّ الظّٰلِمِيۡنَ بَعۡضُهُمۡ اَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ‌ ۚ وَاللّٰهُ وَلِىُّ الۡمُتَّقِيۡنَ‏

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. Dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.

[TQS. Al-Hasyr (59): 19]
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.

[HR Ahmad, 5/20; Abu Dawud no 403). Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan sanad hadits ini hasan. (Fathul Bari, 10/271)]
Haram hukumnya bagi  kita umat Islam menyerupai kaum kafir, termasuk dalam perihal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka, mulai dari aqidah mereka, hingga ibadah mereka. Seperti halnya hari raya mereka, pakaian khas mereka, cara hidup mereka, dan lain sebagainya. Tentunya, termasuk aktivitas perayaan hari natal dan tahun baru mereka.
Dari Anas RA, dia berkata,”Rasulullah SAW datang ke kota Madinah, sedang mereka (umat Islam) mempunyai dua hari yang mereka gunakan untuk bermain-main. Rasulullah SAW bertanya,’Apakah dua hari ini?’ Mereka menjawab, ’Dahulu kami bermain-main pada dua hari itu pada masa Jahiliyyah.’ Rasulullah SAW bersabda, ’Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.”

[Shahih riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai dan al-Hakim]
Intinya cukup jelas, kita diharamkan untuk merayakan tahun baru masehi tiap 1 Januari itu, karena kalau nanti kita ikut itu berarti kita bakal tasyabbuh bi al kuffaar (menyerupai kaum kafir).


Dan memang diharamkan karena ada dalil khusus yang disampaikan Rasulullah di atas, mengharamkan kita kaum muslim untuk ikut-ikutan hari raya kaum kafir. Got it?

Bersambung ke artikel "Bahaya Perayaan Tahun Baru: Apa Penyebabnya, dan Bagaimana Cara Menghilangkannya?".

Wallahua'lam bishshawab..

Referensi:
Sumber gambar: Pixabay
Perayaan Tahun Baru Masehi dalam Pandangan Islam Perayaan Tahun Baru Masehi dalam Pandangan Islam Reviewed by Dani Siregar on Minggu, Desember 28, 2014 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.