Pandangan Dasar Sistem Ekonomi Islam (Part 2): Distribusi Barang dan Jasa di Tengah-Tengah Manusia (Dalam Tinjauan Fakta)

masalah-Distribusi-Barang-Jasa-di-Tengah-Tengah-Manusia-Dalam-Tinjauan-Fakta

Sebelumnya kita telah membahas Pandangan Dasar Sistem Ekonomi Islam (Part 1): Produksi Bukan Prioritas Masalah. Yang mana sudah kita bahas, ternyata memang produksi itu bukanlah problem yang asasi.

Terus, kalau gitu problem asasinya apa? Menurut sistem ekonomi Islam, masalah asasinya akan muncul, adalah ketika manusia sudah berhasil memproduksi barang dan jasa. Ketika sudah ada berasnya, sudah ada gulanya, sudah ada bahan bakarnya, sudah ada gasnya, sudah ada mobilnya, justru saat itulah muncul masalah asasinya.  Dengan kata lain, masalah asasinya adalah persoalan distribusi.

Contohnya nih. Setiap orang itu pasti butuh makan kan? Lebih spesifiknya, orang Indonesia, itu pasti butuh beras. Nah, misalkan sekarang pembaca blog ini ada 50 orang. Kebetulan Anda sekalian lagi lapar. Katakanlah tiap-tiap Anda butuh 1 kilogram beras. Berarti, kita butuh 50 kilogram beras.

Sayangnya, sekarang berasnya belum ada. Berarti, masalah nih. Terus, solusinya gimana? Yasudah, kita tinggal produksi 50 kilogram beras aja, maka selesailah masalah. Apalagi kalau kita bisa produksi 100 kilogram, lebih selesai lagi. Apalagi kalau bisa produksi 200 kilogram? Lebih lebih selesai lagi.

Bener kan? Iya bener, menurut orang Kapitalis.

Menurut Islam, justru sebaliknya. Tatkala ada 50 orang yang totalnya membutuh 50 kilogram, sedangkan kita sudah ada 100 kilogram, justru disinilah problemnya muncul.

Seharusnya, masing-masing orang akan mendapatkan 2 kilogram kan? Namun kerap terjadi, faktanya tidak begitu. Tak jarang, yang terjadi itu, ketika berasnya sudah mulai dibagi-bagi:
  • Orang pertama dapat 2 kilogram
  • Orang kedua dapat 2 kilogram
  • Orang ketiga dapat 2 kilogram
  • Orang keempat dapat 1 kilogram
  • Orang kelima dapat 3 kilogram
  • Orang keenam dapat 0,5 kilogram
  • Orang ketujuh dapat 10 kilogram
  • Orang kedelapan dapat 20 kilogram
  • Orang kesembilan 0,5 kilogram
  • Orang kesepuluh 59 kilogram
  • Orang kesebelas dan seterusnya, nggak dapet
Mungkinkah bisa terjadi seperti itu? Sangat mungkin terjadi. Dan memang faktanya sekarang, yang seperti itu sering banget terjadi.

Distribusi Barang dan Jasa
Bahkan di berita-berita resmi, maupun gosip tetangga, masalah seperti ini lebih kerap nongol. Bukan masalah produksi. Yakni, interaksi manusia terkait barang dan jasa di tengah-tengah manusia.

Bukan persoalan ada nggak barang dan jasanya, melainkan persoalan hubungan manusia dengan manusia lain, terkait rebutan barang dan jasa. Seperti halnya di atas tadi itu, kok bisa ada yang nggak dapet beras, tapi malah ada yang dapet 59 kilogram sendiri pulak dia?

Anda butuh bukti yang lebih kuat? Bisa kita lihat fakta langsung, dan lihat tinjauan Al-Qur'an. Yuk kita cek satu per satu.

#1. Lihat Tinjauan Fakta

Faktanya, manusia itu memproduksi barang dan jasa, nanti bukan untuk dikonsumsi oleh dirinya sendri. Betul nggak?
  • Petani yang tiap hari bekerja keras menanam padi di lahannya yang luasnya 1 hektar, apakah semuanya dia makan sendiri nanti? Paling yang dimakannya sendikit dari itu.
  • Kalau ada pengusaha konveksi, tiap hari dia menjahit baju, sampai selesai jadi ribuan baju, apakah semua bajunya mau dipakainya sendiri tuh? Mana mungkin, hehehe!
  • Ada juga pengusaha rental mobil, dia punya 20 mobil, apakah 20 mobilnya itu mau dipakainya semua gitu? Mana mungkin.
Sejatinya, orang-orang itu, memproduksi banyak barang dan jasa, kemudiannya nanti bukan untuk dikonsumsi oleh dirinya sendiri. Melainkan, untuk kepentingan maupun kebutuhan manusia lain.

Dengan kata lain, produksi itu hanya sebagian kecil dari aktivitas ekonomi. Aktivitas ekonomi yang paling besar dan intens adalah, transaksi barang dan jasa di tengah-tengah manusia. Ntah itu jual-beli, barter, sewa-menyewa, pinjam-meminjam, hutang-piutang, memberi, meminta, dan lain sebagainya.

Kalau ada yang bilang aktivitas ekonomi yang paling besar dan intens itu adalah persoalan produksi, cubit pipinya. Salah besar dia itu.

Jadi... begitulah. Faktanya, proses transaksi itulah yang banyak menimbulkan problem ekonomi, dibandingkan problem barang dan jasa. Makanya banyak terjadi pertikaian, berebutan, munculnya keserakahan, terjadinya kedzaliman, munculnya penindasan, ketidakadilan, penyelewengan, penyimpangan, keruwetan, kesalahpahaman, teman jadi lawan, saudara jadi musuhan, dan sebagainya, itu semuanya hampir bersumber dari masalah transaksi.

Fakta Masalah Pembagian Warisan

Contoh real yang tak jarang ada di sekeliling kita, termasuk di sekeliling saya. Yaitu, persoalan warisan. Pas lebaran tahun lalu, kakak-adik akrab, ketawak-ketawak, ngobrol panjang terus sampai ngantuk. Tiba orang tuanya meninggal, bagi warisan, langsung jadi saling menghujat.

Coba orang tuanya belum meninggal, belum ada barang yang kudu dibagi-bagi, akur itu, hehehe!

Fakta Masalah Pembagian Dana Bantuan

Sesama Korban Akur
Contoh real lainnya lagi, ketika korban gempa bumi. Karena sehidup semati, jadinya makin akrab. Hobi gotong royong, hobi saling membantu, pokoknya baik-baikan deh.

Kemudian semua berubah sejak ada pengumuman, bahwa nanti akan ada bantuan dana. Besar-kecilnya, tergantung dari siapa yang dapat kerusakan besar, kerusakan sedang, dan kerusakan kecil.

Lalu, keluarlah bantuan untuk yang mendapatkan kerusakan besar dulu. Sejak itu, lahirlah 2 jenis kelompok. Yakni, kelompok penuntut bagi rata, dan kelompok penuntut bagi adil.

Yang penuntut bagi adil, yah itu dia setuju dengan konsep pembagian besar-kecil dana tergantung besar-kecil kerusakan yang didapat. Namun kelompok penuntut bagi rata nggak setuju. Karena mereka biasa gotong royong, mereka maunya setiap orang dapat dana yang sama.

Akhirnya, pecahlah itu persaudaraan. Malah sampai dibawa-bawa ke pengadilan. Padahal, sekiranya nggak ada bantuan dana, insya Allah akur juga itu, hehehe!

Begitulah, banyak masalah ekonomi itu terjadi pada saat distribusi. Saat produksi itu hampir nggak ada masalah besar yang menghebohkan. Karena kalau ngurusin produksi itu, mudah, bisa lebih terukur, mudah dihitung, bisa direncanakan, dan mampu diproyeksikan oleh akal manusia.

Mau bangun Rumah yang begimana pun, bisa jadi. Mau buat mobil sebanyak apapun, bisa jadi juga. Mau nanem berapa padi pun, bisa cepet jadi juga.

Fakta Masalah Distribusi Sumber Daya Alam

Apalagi di Indonesia, kaya raya, sumber daya alamnya banyak banget. Tapi kenapa rakyatnya pada kere? Ini bukan persoalan apakah gunung di freeport itu bisa dimanfaatkan atau nggak, bukan pula persoalan orang di Indonesia goblok-goblok dan bloon-bloon semua nggak ada yang bisa mengelola SDA.

Kalau soal produksi doang, panggil aja tuh banyak lulusan ITB, lulusan UGM banyak juga, lulusan ITS banyak juga, pokoknya banyaklah insinyur pinter-pinter di Indonesia ini, jago-jago kali lah udahan. Tapi kenapa kere-kere semua?

Sekali lagi, berarti ini bukan masalah produksi. Ini masalah distribusi kekayaan alam di Indonesia.

Masalah produksi sudah hampir berbanding lurus dengan kemajuan teknologi, sehingga hampir dapat dikatakan bukan masalah ekonomi lagi.

Mobil
Seandainya Indonesia mau buat mobil yang 100% asli made in Indonesia tulen, bisa-bisa aja sebetulnya. Tapi kenapa sampai detik ini kita masih belum punya mobil yang asli buatan Indonesia? Bukan karena nggak ada yang bisa buat. Tapi, karena ada yang nggak rela. Pokoknya nggak rela kalau sampai Indonesia bikin mobilnya sendiri.

Misalnya orang Indonesia pakai tambang dari negerinya sendiri, tenaganya dari negeri sendiri, terus dijual ke negeri sendiri, maka nggak lama kemudian dagangan Jepang tutup, dagangan Amerika tutup, pokoknya tutup semua tuh dagangan mobil lainnya.

Bener itu, nggak main-main. Disikat habis semua, makanya kebanyakan orang Indonesia nggak kebayang, mimpi aja pun ragu, untuk punya mobil sendiri.

Udah nanti bagus-bagus ada yang bikin, harganya 100 juta, tiba-tiba yang lain juga bikin persis begitu, tapi harganya 60 juta. Sehingga mobil dalam yang 100 juta bangkrut, barulah yang harga 60 juta dinaikin harganya jadi 100 juta. Gile kan? Sekali lagi, berarti ini bukan masalah produksi. Ini masalah distribusi.

Contoh lain lagi. Kemarin pada ribut-ribut soal masalah ekspor tambang. Ada dikeluarkan undang-undang, tidak boleh mengekspor tambang dalam bentuk mentah. Nggak boleh, maka harus dibangun smelter di Indonesia ya kan? Jadi harus diolah dulu, baru diekspor. Hmm, bisakah seperti itu? Nggak mungkin. Nanti malah pada marah Freeport, New moon, dkk.

Lantaran, kalau sampai harus bangun smelter di Indonesia, maka terancamlah sekitar 30.000 pekerja smelter di Amerika yang akan di-PHK. Bisa-bisa mati kabeh kalau pada nganggur. Karena memang (anehnya) hampir semua tambang di Indonesia itu diolah di Amerika. Dan pekerjanya orang Amerika. Ingat, 30.000 loh, dari Freeport saja.

Makanya, ada yang bilang, hanyalah mimpi, kalau ngomong jangan sampai mengekspor barang mentah. Nggak akan pernah terjadi.

Nyatanya terus-terusan tambang kita kan mentah-mentah itu pada diekspor terus. Misalnya, minyak kita ya. Minyak mentah itu disedot dulu, terus dibawa ke Singapura, lalu diolah menjadi minyak yang bagus, kemudian malah diimpor lagi, tapi udah dengan harga internasional. Disuruhlah orang-orang Indonesia beli minyak itu. -_-

Padahal itu minyak kita sendiri, masak kalau kita mau itu, kita harus beli dengan harga internasional. -_-

Udah gitu katanya itu harus disubsidi lagi, watuh, ngeri banget ah fitnahnya.. -_-

Yaah begitulah...

Fakta Berlimpah Ruahnya Barang dan Jasa

Kemudian, faktanya, barang dan jasa saat ini sudah bisa diproduksi manusia dengan begitu masif, sehingga sudah berlimpah ruah. Bahkan udah lewat dari angka cukup. Udah berlebih. Jadi kalau masih ada yang bilang kelangkaan-kelangkaan, cubit pipinya. Udah nggak zaman lagi ngomong langka-langka begitu.

Tadi kan udah kita bahas, mau buat mobil sebanyak gimana pun bisa kita sebetulnya. Tapi kenapa sekarang kita pada nggak punya mobil? Yah itu tadi, persoalan distribusi saja ini sebetulnya, hehehe! Malahan, beberapa tahun yang lalu, di Brunei itu jumlah penduduknya sekitar 350.000. Sedangkan jumlah mobilnya, 1.200.000. Amazing!

Sayangnya, yah itu, untuk kesekian kalinya, barang dan jasa tidak terdistribusi secara adil di tengah-tengah manusia.

Kata kuncinya, "adil" itu loh.

Itu sebabnya Islam turun, untuk menyelesaikan persoalan kata "adil" itu. Karena kata "adil" itu nggak bisa diselesaikan hanya dengan menggunakan akal manusia. Berarti, Allah perlu "turun tangan" untuk mengutus RasulNya, dalam rangka menjawab "adil" itu apa dan bagaimana. 

Karena kalau nggak diserahkan kepada Allah Swt, tidak ikut syariat Islam, maka setiap akal manusia bakal ngomong "adil" sak karepnya dewe.

Fakta Masalah Mempraktekkan "Keadilan"

Fakta Masalah Mempraktekkan "Keadilan"
Contohnya, persoalan waris lagi nih. Misal, Anda meninggal dunia. Anda meninggalkan warisan senilai 100 juta. Sementara anak Anda ada 50, misalnya, hehehe! Terus Anda pernah nulis surat wasiat ternyata. Disitu tertulis, "Tolong warisan buat anak-anak saya, dibagikan oleh si Dani yaa.. Tolong dibagikan seadil-adilnya.." udah gitu aja.

Yasudah, saya kumpulkanlah anak-anak Anda. Terus saya tanya ke mereka, gimana nih cara membagi uang 100 juta ini dengan seadil-adilnya? Silahkan dimusyawarahkan, ntar hasilnya gimana, saya ngikut ajalah.

Kemudian ada salah seorang yang menjawab, "Udahlah Pak, nggak usah capek-capek. Dibagi rata aja Pak. 100 juta buat 50 orang, berarti masing-masing dapat 2 juta. Selesai kan Pak?"

Oh begitu, okey, yang lain gimana, setuju begitu? Masing-masing dapet 2 juta? Kalau setuju saya ketuk nih palunya.

Kemudian ada salah seorang lain yang angkata tangan, "Pak.. mohon maaf Pak.. Saya ini mahasiswa Pak... 2 juta mah kurang Pak.. 2 juta mah buat apa untuk mahasiswa kayak saya.. Lihat tuh Pak, yang masih kanak-kanak masak dikasih 2 juta juga, kelelep mah nanti dia itu. Mending gini aja Pak, dapat banyak-dikitnya disesuaikan dengan umur aja Pak. Yang makin muda dapet sedikit aja, yang makin tua dapat banyak. Gitu Pak. Kalau bisa yang kecil-kecil itu kasih permen sama mainan ajalah, udah diemnya mereka itu."

Oh begitu, okey, yang lain gimana, setuju begitu? Kita bagi aja sesuai umurnya?

Kemudian yang kecil-kecil pun protes, "Walah nggak adil itu Pak! Terbalik! Harusnya yang kecil-kecil dapat banyak, yang udah tua-tua itu dikasih sedikit aja. Mereka itu kan udah lama banyak makan harta Ayah kami, udah kenyang banget. Kami yang kecil-kecil ini baru aja lahir, jadi belum banyak menikmati harta Ayah kami. Jadi yang adil itu, buat yang kecil dikasih banyak, buat yang tua dikit aja, kalau bisa nggak usah dikasih aja."

Oh begitu, okey, yang lain gimana, setuju begitu? Kita balik yang kecil dapat banyak yang tua dapat dikit?

Kemudian ada lagi yang protes, "Wah itu nggak adil. Yang adil itu, besar-kecilnya jatah disesuaikan dengan jarak Rumah Pak. Yang deket, dapat banyak. Yang jauh, dapet sedikit aja. Karena yang jauh-jauh itu pada kurang ajar. Jarang dateng ke Rumah ayah. Datangnya pas kalau mau bagi warisan aja."

Oh begitu, okey, yang lain gimana, setuju begitu?

Kemudian yang Rumahnya jauh protes, "Jangan Pak, terbalik itu.. Justru yang jauh dikasih banyak, yang deket dikasih sedikit. Wong yang deket udah makan harta Ayah banyak, yang jauh mah jarang-jarang hampir nggak pernah menikmati harta Ayah kami."

Oh begitu, okey, yang lain gimana, setuju begitu?

Kemudian ada pula lagi yang protes, "Gini aja, disesuaikan dengan jenis kelamin aja. Yang laki-laki dapat banyak, yang perempuan dapat sedikit."

Oh begitu, okey, yang lain gimana, setuju begitu?

Kemudian yang perempuan malah pada protes, "Pak.. kita ini makhluk yang lemah Pak.."

Walah, yang adil ini gimana nih? Yasudah, gini aja, yang adil itu, 100 juta ini buat diri saya sendiri aja yah. Wassalam! #Kabur

Hehehe! Sering kan ada fakta seperti itu? Sering bingits!

Mau sampai hari kiamat kita bahas adil itu apa dan bagaimana nggak akan selesai-selesai kalau cuman pakai akal manusia. Lantaran, serba relatif. Makanya, perlulah Allah Swt "turun tangan" untuk menyelesaikan persoalan adil ini. Kalau nggak, akan terus adalah penindasan terhadap manusia lain.

Makanya, persoalan utama Ekonomi Islam itu yah persoalan ini. Persoalan keadilan. Yang diatur itu adalah, persoalan interaksi manusia dengan manusia lain, dalam urusan barang dan jasa.

Makanya di kitab-kitab fiqih, ada bab jual-beli, syirkah, ijarah, ghanimah, ihtikar, salaf, samsarah, tanah, hutang-piutang, waris, jiyah, dharibah, ada pula pembahasan khiyar, akad, khitab wadh'i, dan lain-lain.

#2. Lihat Tinjauan Al-Qur'an

Baiklah, selanjutnya, kita bahas bagaimana tinjauan Al-Qur'an, yang menjelaskan bahwa masalah asasi dari ekonomi itu adalah masalah interaksi di antara manusia dengan manusia, terkait distribusi barang dan jasa.

Insya Allah akan kita bahas di artikel selanjutnya yang berjudul "Pandangan Dasar Sistem Ekonomi Islam (Part 3): Distribusi Barang dan Jasa di Tengah-Tengah Manusia (Dalam Tinjauan Al-Qur'an)".

Wallahua'lam bishshawab..

Refrensi:
Pandangan Dasar Sistem Ekonomi Islam (Part 2): Distribusi Barang dan Jasa di Tengah-Tengah Manusia (Dalam Tinjauan Fakta) Pandangan Dasar Sistem Ekonomi Islam (Part 2): Distribusi Barang dan Jasa di Tengah-Tengah Manusia (Dalam Tinjauan Fakta) Reviewed by Dani Siregar on Jumat, Februari 13, 2015 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.