Panduan Cara Mengetahui Benar-Salahnya Keharusan

Panduan Cara Mengetahui Benar-Salahnya Keharusan

Pembahasan pada artikel ini adalah lanjutan dari artikel "Panduan Dasar Cara Mendapatkan Kebenaran yang Pasti" dan "Panduan Cara Membenarkan Hal yang Tak Terindera (Ghaib)". Maka dari itu, pastikan Anda telah selesai membaca dan memahami pembahasan di dua artikel sebelumnya tersebut. Kalau tidak, niscaya Anda tak akan nyambung dengan apa-apa yang ada di artikel ini.


Lantaran...
  • Pada artikel pertama kita telah mempelajari skill pemikiran kelas dasar, supaya bisa mendapatkan kebenaran yang pasti secara langsung.
  • Pada artikel kedua kita telah mempelajari skill pemikiran kelas menengah, supaya bisa mendapatkan kebenaran yang pasti akan eksistensi hal-hal yang ghaib.
Untuk me-refresh pemahaman Anda , silahkan lihat blue print dari materi kemarin ini:

Penggunaan Akal VS Penggunaan Perasaan

4 Syarat Proses Berfikir



Sudah? Nah, kalau sudah, sekarang saatnya kita membahas bagaimana pemikiran kelas atas. Hmm.. Ngomong-ngomong, Anda ini termasuk orang yang beruntung. Karena, banyak orang itu capek-capek sekolah, kuliah, TK, SD, SMP, SMA, S1, S2, S3, tapi cuma mendapatkan skill pemikiran kelas dasar dan skill pemikiran kelas menengah saja, bahkan di S3.

Surutnya penerapan skill pemikiran kelas atas ini di tengah-tengah masyrakat, terjadi sejak sekitar tahun 1924 M. Maka, kalau Anda telusuri secara historis, mulai tiba-tiba jumlah kasus kriminal, seperti pemerkosaan, korupsi, kekerasan, pacaran, minum miras, dan kejahatan-kejatahan lainnya masif banget meningkat, terjadi hampir tiap detik, itu mulainya yah dari sekitar tahun 1924. Tentunya, sampai sekarang masih begitu.

Itu sebabnya, ketika kita membandingkan aspek-aspek yang ada di bawah tahun 1924, dengan aspek-aspek yang ada di atas tahun 1924, ternyata perbedannya adalah: tidak terpraktekannya skill pemikiran kelas atas ini secara masif di tengah-tengah masyarakat. Karena memang sistem jahat dan orang jahatlah yang sekarang tengah menguasai negara-negara.

Maka dari itu, dalam rangka melanjutkan kehidupan yang baik (al-khair), perlulah kita kaji secara mendalam terlebih dahulu, bagaimana pemikiran kelas atas itu?

Nah, sila simak gambar berikut ini....

Setiap perbuatan itu berawal dari pemahaman. Dari pemahaman itulah, seseorang menentukan apa yang harus dan pantang dilakukan. Apa yang harus dilakukan dan pantang dilakukan itu biasa disebut istilahnya adalah: peraturan (nizhaam), sistem, konsep, ide, dan aliran. Contohnya seperti kapitalisme, sosialisme, nasionalisme, terorisme, demokrasi, dan isme-isme lainnya.
  • Nah, untuk mengetahui apakah keharusan mengemban kapitalisme, itu benar atau salah, itulah namanya pemikiran kelas atas.
  • Nah, untuk mengetahui apakah keharusan mengemban demokrasi, itu benar atau salah, itulah namanya pemikiran kelas atas.
  • Dan sebagainya. Bisa dibilang, persoalan boleh atau nggak boleh.
Ngomong-ngomong, Anda sudah tahu nggak apa bedanya, dan apa hubungannya, antara pemikiran kelas dasar, kelas menengah, dan kelas atas? Belum tahu?

Kalau gitu, kita coba membahas sesuatu, dengan masing-masing level pemikiran. Misal, ayo kita bahas: Demokrasi. Kan pas Anda Sekolah, maupun kuliah, udah pernah belajar Demokrasi kan? Hehehe! 

1. “Demokrasi” yang Dibahas Pemikiran Kelas Dasar


Adalah ketika Anda menggunakan indera Anda, Anda lihat ada negara yang kedaulatannya itu berada di tangan rakyat. Yaitu, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Kemudian, ada yang bilang, “Ini namanya sistem Demokrasi.. Demokrasi ini artinya kedaultan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Maka Anda bergumam, ternyata pernyataan dia sama dengan kenyataan yang Anda indera.

2. “Demokrasi” yang Dibahas Pemikiran Kelas Menengah

Kenapa kita tidak boleh hanya berhenti sampai di pemikiran kelas dasar, karena, bisa jadi apa-apa yang kita indera itu adalah hasil konspirasi dan sandiwara. Sehingga, ada kalanya ternyata kenyataan dan pernyataan tidak sama.
  • Kalau pemikiran kelas dasar bertanya, “Demokrasi itu apa?”
  • Maka pemikiran kelas menengah bertanya, “Pernyataan soal Demokrasi tadi itu, benar atau salah?”
Kerasa kan bedanya? Nah, supaya kita bisa mengetahui pastinya kebenaran tentang Demokrasi, kita perlu bukti. Kalau gitu, mari kita tanya dengan penggagas Demokrasi yang setia. Kebetulan, ada seorang dosen yang juga merangkap profesinya sebagai penggagas Demokrasi yang setia, nama dosennya: Pak Obama. Hehehe!

Kita tanya ke pak Obama, “Pak.. Demokrasi itu apa Pak?” Nah, nanti dari jawaban yang dinyatakan penggagas setia itu, itulah yang benar.
  • Kalau penggagas setia Demokrasi bilang, Demokrasi itu dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, berarti jawaban itu bisa dijadiikan bukti untuk menilai benar atau salahnya arti Demokrasi.
  • Kalau penggagas setia Demokrasi bilang, Demokrasi itu dari korporasi, oleh korporasi, untuk korporasi, berarti jawaban itu bisa dijadiikan bukti untuk menilai benar atau salahnya arti Demokrasi.

3. “Demokrasi” yang Dibahas Pemikiran Kelas Atas

Bisalah Anda tarik kesimpulan, perbedaan dan hubungan antara pemikiran kelas dasar, kelas menengah, dan kelas atas:
  • Pemikiran kelas dasar bertanya, “Demokrasi itu apa?”
  • Pemikiran kelas menengah bertanya, “Pernyataan soal Demokrasi tadi itu, benar atau salah?”
  • Pemikiran kelas atas bertanya, “Keharusan mengemban Demokrasi itu, benar atau salah?”
Makanya saya pernah kerja kelompok sama teman-teman Kampus. Suatu waktu, saya diminta melakukan hal-hal yang “keharusan untuk melakukannya itu salah”. Karena nggak sesuai dengan syariat. Tapi tetep aja saya dimarah-marahin. Kenapa saya nggak mau, karena saya menggunakan skill berpikir kelas atas. Hehehe! 

Tanya Kebenaran Arah
Begitu pula Anda, jangan terburu-buru mengikuti keharusan (dogma). Tanya dulu: 
  • Masuk STAN itu benar atau salah ya? 
  • Ikutin kerudung model gaul itu benar atau salah ya? 
  • Bisnis MLM itu benar atau salah ya? 
  • Dan lain-lainnya 
Jangan kayak kucing dkk, nggak mau mikir dan nggak mau tahu kelakuannya itu benar atau salah, asal terkam aja ikan yang ada di depannya, asal terkam aja betina yang ada di depannya. Karena beda kucing dkk dengan manusia adalah, manusia itu punya akal. 

Tapiiii.. Kita harus menilai benar-salah itu standart-nya pakai apa? Nah, makanya kita perlu mempelajari skill berpikir kelas atas. Baiklah, mari kita simak, berikut ini, adalah studi kasus bagaimana orang yang mengamalkan pemikiran kelas atas, yang kurang-lebih pernah dijelaskan oleh Ustadz Dwi Condro..




Ternyata, sebelum diadili begini, saudara Mici pernah baca sebagian isi artikel ini. Dia sudah mengkaji pemikiran kelas atas. Hehehe! Emangnya kenapa? Karena, kalau orang yang belum belajar pemikiran kelas atas, paling-paling jawabannya itu seputar:


Kalau orang kayak saudara Mici yang pernah belajar pemikiran kelas atas, ketika hakim memutuskan...


...maka dia akan berkata.......




















Sebetulnya.. Ini pertanyan bakal berhenti sampai kapan sih? Apakah memang akan berhenti? Ada ujungnya? Tentu saja, ada. Pertanyaan ini pasti akan berhenti pada pertanyaan yang paling mendasar.

Itu sebabnya pemikiran kelas atas ini punya juga nama lainnya, yaitu, pemikiran mendasar. Dengan pemikiran mendasar, pasti pertanyaan ini akan terlihat titik hentinya. Yaitu, pada pertanyaan yang paling mendasar.

Dari mana sebetulnya asal-muasal manusia? Dari mana sebetulnya asal-muasal alam semesta? Dari mana sebetulnya asal-muasal kehidupan?
Makanya, jika ditanya lagi tadi itu nenek nenek neneknya lagi darimana, akan sampai pada pertanyaan:
  • Dari mana sebetulnya asal-muasal manusia?
  • Dari mana sebetulnya asal-muasal alam semesta?
  • Dari mana sebetulnya asal-muasal kehidupan?
Kalau sudah sampai disitu, pasti pertanyaannya akan berhenti. Semua dasar dari dasar, yang paling mendasar, adalah dari 3 pertanyaan tersebut. Tidak ada lagi yang lebih mendasar daripada 3 itu.

Termasuk, kalau mau memutuskan benar atau salahnya harus vonis 2 tahun dipenjara, maka harus menjawab 3 pertanyaan mendasar tersebut dulu.




وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

[QS. Al-Maidah: 38]
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ ِللهِ
Sesungguhnya menetapkan hukum hanyalah hak Allah.

[QS. Yusuf: 40]
فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ
Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.

[QS. Al-Maidah: 48]
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

[QS. Al-Maidah: 44]
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim.

[QS. Al-Maidah: 45]
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasiq.

[QS. Al-Maidah: 47]


Bersambung....

Insya Allah kita akan lanjutkan pembahasan ini, dalam artikel selanjutnya, yang berjudul Perkenalan Aqidah Islam.

Wallahua'lam bishshawab..
download-ebook-panduan-cara-mengetahui-benar-salahnya-keharusan
Panduan Cara Mengetahui Benar-Salahnya Keharusan Panduan Cara Mengetahui Benar-Salahnya Keharusan Reviewed by Dani Siregar on Rabu, Februari 25, 2015 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.