Kepemilikan Individu dalam Islam (Milkiyah Fardhiyah)

kepemilikan-individu-Islam-milkiyah-fardhiyah-sebab-asbabut-tamalluk

Sebelumnya kita telah membahas Pondasi & Pilar-Pilar Ekonomi Islam. Yang mana sudah kita pahami bersama, bahwa pada hakikatnya semua harta yang ada di dunia ini adalah milik Allah Swt. Manusia tidak boleh memiliki dan memanfaatkan harta apapun di dunia ini, kecuali kalau mereka minta izin dulu dari Allah. Bagaimana cara biar bisa tahu izin dari Allah? Yah dari hukum syara'.

Misal, ketika Anda jualan kerudung, terus laku, dapat untung Rp45.000, bila menurut Islam "kondisi" itu hukumnya halal, maka duit Rp45.000 dari untung jualan kerudung itu sah menjadi milik Anda. Silahkan Anda pakai itu duitnya.

Tapi misalnya Anda nerima "uang pelicin", alias disogok dapat Rp5.000.000, namun ternyata menurut Islam "kondisi" itu hukumnya haram, maka duit Rp5.000.000 itu tidak sah untuk Anda miliki. Apalagi duit Rp5.000.000 itu malah Anda pakai, Anda belanjakan, maka itu termasuk haram juga.

Makanya, kepemilikan individu itu kan izin syar'i kepada individu untuk memanfaatkan suatu harta. Sebab, definisi kepemilikan individu (milkiyah fardhiyah) adalah: hukum syari'at yang berlaku bagi zat atau manfaat tertentu, yang memungkinkan bagi yang memperolehnya untuk memanfaatkannya secara langsung atau mengambil kompensasi ('iwad) dari barang tersebut.

Namun ingat! Yang namanya sebab-sebab kepemilikan (asbabut tamalluk) itu berarti Anda memulainya dari nol. Mungkin bisa dibilang "modal dengkul" (soalnya kalau Anda udah punya modal duluan itu nanti namanya pemanfaatan kepemilikan (at-tasharruf fil-milkiyah), itu pilar ekonomi Islam yang ke-2 yang insya Allah akan kita bahas di artikel lain).

Nah, apa saja sebab-sebab kepemilikan (asbabut tamalluk) itu? Ada 5 sebab. Enaknya, nanti diantara 5 hal itu, hanya 1 saja yang bersifat aktif. Sedangkan 4 lainnya pasif. Enak kan? Yang 1 itu nanti Anda harus kerja banting tulang peras keringat, lalu Anda dapat harta, maka itu halal dan sah Anda miliki. Namun yang 4 lainnya itu nanti Anda beneran diem aja tau-tau dapat harta, maka itu halal, sah Anda miliki.

Apa saja 5 sebab-sebab kepemilikan individu yang tadi itu? Yaitu:
  1. Bekerja
  2. Waris
  3. Kebutuhan akan harta untuk menyambung hidup
  4. Pemberian harta negara kepada rakyat
  5. Harta yang diperoleh tanpa kompensasi tenaga dan harta
Mari kita bahas satu per satu.

Kepemilikan Individu dalam Islam (Milkiyah Fardhiyah)

Sebab #1: Bekerja

Saya rasa Anda sudah tahu maksud dari bekerja itu bagaimana. Yah pokoknya kerja. Seperti misalnya memasak makanan, men-service alat elektronik, dan lain-lain, pokoknya ada banyak banget deh jenis pekerjaan itu. Di koran aja penuh satu halaman itu bejibun loker semua.

Tapi, ada tapinya. Nggak boleh "pokoknya kerja" aja. Kita harus tahu dulu, apa saja pekerjaan yang di-ridhai Allah Swt. Nggak bebas asal kerja apa aja gitu. Karena ada kerja yang dikategorikan sebagai sebab kepemilikan yang dihalalkan, ada juga kerja yang haram.

Dalam ekonomi Islam, bekerja yang merupakan sebab kepemilikan itu ada 7. Dan semuanya ini modal dengkul. Enak kan? Nah, apa saja 7 pekerjaan itu, ini:

Pekerjaan #1: Menghidupkan Tanah Mati (Ihya'ul Mawat)

Menghidupkan-Tanah-Mati-Ihya'ul-Mawat

Gimana tuh kerja menghidupkan tanah yang mati? Gampang, Anda cuma harus jalan-jalan aja. Terus sambil celingak-celinguk kiri-kanan, carilah tanah yang masih kosong. Yang nggak ada bekas-bekas pemagaran gitu, atau nggak ada bekas-bekas tanaman gitu. Lebih tepatnya, tanah yang nggak ada pemiliknya dan nggak dimanfaatkan oleh satu orang pun.

Kemudian, Anda pasang pagar di tanah ini pakai tali rafia. Maka, tanah itu sah menjadi milik Anda. Enak kan? Hehehe! Kalau susah nyari tali rafia, pakai kayu aja buat garis di tanah itu, hehehe!

Tapi, ada syaratnya. Tanah itu harus Anda olah. Ntah itu dengan cara menanam tanaman, maupun mendirikan bangunan di atas tanah tersebut, itulah yang namanya menghidupkan tanah yang mati.

Namun, kalau Anda cuma pasang pagar doang, maka tanah itu hanya boleh nganggur selama 3 tahun. Kalau nggak, nanti akan diambil oleh pemerintah. Karena memang di dalam Islam, yang namanya tanah itu harus produktif.
مَنْ أَحْيَا أَرْضاً مَيْتَةً فَهِيَ لَهُ

"Siapa saja yang menghidupkan tanah mati, maka tanah tersebut adalah miliknya."

[HR. Imam Bukhari, dari Umar bin Khattab]
مَنْ عَمَّرَ أَرْضاً لَيْسَتْ لِأَحَدٍ, فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا

"Siapa saja yang memakmurkan tanah yang tidak dimiliki siapapun, maka dia berhak atas tanah itu."


"Kaum manapun yang menghidupkan sesuatu dari Bumi atau mereka memakmurkannya, maka mereka berhak atasnya."
مَنْ أَحَاطَ حَائِطًا عَلَى أَرْضٍ فَهِيَ لَهُ

"Siapa saja yang membatasi tanah dengan dinding, maka dia berhak atas tanah itu."
“Bagi orang yang membiarkan tanahnya, maka tidak ada hak baginya, setelah dbiarkan selama tiga tahun.”

[Umar bin Khattab]
Khalifah Umar memang sudah melaksanakan hal tersebut, kemudian sahabat melihat dan mendengarnya, tapi nggak ada satu pun sahabat yang mengingkarinya, maka hal tersebut termasuk ijma' sahabat.

Pekerjaan #2: Menggali Kandungan Bumi

menggali-kandungan-bumi

Yah menggali. Carilah apapun yang ada pada kandungan Bumi. Ntah itu mencari harta karun, silahkan. Mau menggali tambang, silahkan. Asalkan bukan tambang gede yang biasa dibutuhkan oleh umum.

Tapi jangan lupa, kalau misalnya nanti Anda dapat harta yang pernah dibuat manusia, seperti halnya mahkota emas peninggalan manusia di zaman dulu, maka itu termasuk harta rikaz. Bukan tambang. Kalau rikaz itu, ada khumus-nya, kena zakat 20% (1/5-nya).
مَا كَانَ فِي طَرِيقٍ مَأْتِي أَوْ فِي قَرْيَةٍ عَامِرَةٍ فَعَرِّفْهَا سَنَةً فَإِنْ جَاءَ صَاحِبُهَا وَإِلاَّ فَلَكَ وَمَا لمَ يَكُنْ فِي طَرِيقٍ مَأْتِي وَلاَ فِي قَرْيَةٍ عَامِرَةٍ فَفِيهِ وَفِي الرِّكَازِ الْخُمْسُ

"Apa yang ditemukan di jalan yang sering dilalui atau di kampung yang ramai maka umumkan satu tahun. Jika pemiliknya datang (serahkan kepadanya) dan jika tidak maka untukmu. Adapun yang bukan di jalanan yang sering dilalui dan tidak di kampung yang ramai maka di dalamnya dan di dalam rikaz ada khumus ."

[HR. an-Nasai, Ibn Khuzaimah, Ibn Abdil Barr, asy-Syafii]
وَفِيْ الرِّكَازِ الْخُمُسُ

"…dan di dalam rikaz ada khumus."

[HR. Jamaah]
Khumus secara bahasa artinya adalah satu dari lima bagian atau seperlima. Istilah khumus sering digunakan untuk menyebut bagian seperlima dari harta tertentu. Dalam ketentuan syariah ada seperlima dari harta tertentu yang diambil dan menjadi milik Baitul Mal, yaitu khumus dari ghanimah, khumus dari rikaz dan tambang yang depositnya kecil serta khumus luqathah dengan ketentuan tertentu.
Begitulah...

Pekerjaan #3: Berburu

berburu-dalam-Islam

Yaps, berburu. Baik buruan di darat maupun di laut.
...وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا۟...

“...dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. ....”

[QS. Al-Maidah: 2]
سْـَٔلُونَكَ مَاذَآ أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبٰتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُم مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللّٰـهُ ۖ فَكُلُوا۟ مِمَّآ أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا۟ اسْمَ اللّٰـهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا۟ اللّٰـهَ ۚ إِنَّ اللّٰـهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?". Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.”

[QS. Al-Maidah: 4]
أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُۥ مَتٰعًا لَّكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا۟ اللّٰـهَ الَّذِىٓ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.”

[QS. Al-Maidah: 96]
Begitulah...

Pekerjaan #4: Makelar (Samsarah)

Konsep-Dropship

Nah, makelar. Kerjaannya cuman mencari permintaan pasar, dan perusahaan yang bisa men-supply permintaan tersebut. Intinya yah dia itu sebagai perantara yang menghubungkan penjual dengan pembeli.

Belakangan dekade ini lumayan banyak juga yang melakukan praktek samsarah, karena cukup mudah.
كنا نبتاع الأوساق في المدينة ونسمي أنفسنا السماسرة فخرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فسمّانا باسم هو أحسن من اسمنا قال صلى الله عليه وسلم: يا معشر التجار إن البيع يحضره اللغو والحلف فشوبوه بالصدقة

"Kami, pada masa Rasulullah SAW, biasa disebut (orang) dengan sebutan samasirah. Kemudian --suatu ketika-- kami bertemu dengan Rasulullah SAW, lalu beliau menyebut kami dengan sebutan yang lebih pantas dari sebutan tadi. Kemudian beliau bersabda:"Wahai para pedagang, sesungguhnya jual beli itu bisa mendatangkan omongan yang bukan-bukan dan sumpah palsu, maka kalian harus memperbaikinya dengan kejujuran."

[HR. Abu Dawud]
Begitulah...

Namun hati-hati juga, nggak sedikit pula orang yang bermasalah dalam perihal samsarah ini. Baik "masalah dunia" maupun "masalah akhirat". Ada baiknya Anda perjelas akad Anda dengan sang supplier, dan atau dengan sang customer. Dan tentunya pula, ada baiknya Anda dan pihak-pihak lainnya yang terlibat, mengkaji fiqih muamalah terlebih dahulu, khususnya pembahasan-pembasahan yang terkait dengan samsarah ini. Sebentar kok, nggak lama.

Pekerjaan #5: Mudharabah

mudharabah

Mudharabah merupakan salah satu jenis syirkah, kerja sama dalam artian perseroan gitu. Sebut saja, syirkah mudharabah itu adalah perseroan antara 2 orang atau lebih dalam suatu perdagangan (usaha), satu pihak sebagai pemodal dan pihak lain sebagai pekerja. Inti prakteknya sih syirkah mudharabah itu meleburnya badan (tenaga) dengan harta. Ada pihak yang memberikan harta modalnya (shahibul-mal) dan ada pihak lain yang memberikan tenaganya, sebagai pengelola (mudharib). Terus, keuntungan dibagi sesuai dengan kesepakatan.

Nah, yang dimaksud asbabut tamalluk pada pekerjaan #5 ini adalah, bila Anda menjadi si pengelolanya (mudharib). Karena mudharib itu kan modal dengkul, alias tanpa modal. Nah, nanti kalau kalian untung, lalu keuntungannya dibagi-bagi, maka bagian yang Anda dapat itu sah menjadi milik Anda.

Enak kan? Makanya siapa bilang untuk punya bisnis itu harus ada banyak modal dulu? Padahal, asal Anda punya skill aja, Anda bisa punya bisnis tanpa modal. Caranya? Yah itu tadi, pakai aja duit orang lain atau tempat orang lain (dalam artian syirkah mudharabah), hehehe.
قَالَ اَللَّهُ: أَنَا ثَالِثُ اَلشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ, فَإِذَا خَانَ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا

"Allah berfirman: Aku adalah pihak ketiga (yang akan melindungi) dua orang yang bersyirkah, selama di antara mereka tidak mengkhianati temannya. Apabila salah satu di antara mereka telah mengkhianati temannya, maka Aku keluar dari keduanya."

[HR. Abu Dawud]
Begitulah...


Pekerjaan #6: Musaqah


Musaqah ini agak mirip dengan mudharabah, tapi musaqah ini khusus syirkah dalam bidang perkebunan (bukan pertanian yaa). Di musaqah ini nanti ada pihak pemilik kebun, dan ada pihak pengelola. Nah, bila Anda menjadi si pengelola, terus Anda dapat bayaran dari hasil panen pohon milik si pemilik kebun, itu halal. Ntah itu karena Anda sudah menyirami pepohonan tersebut, dan atau memberikan perawatan lainnya. Enak kan? Apalagi kalau perjanjiannya 50:50, bisa-bisa kalah gaji karyawan, hehehe!

Namun jangan lupa, kebun itu berarti tumbuhannya udah gede-gede. Dan pengelola disitu maksudnya orang yang mau merawat kebun tersebut.
أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَامَلَ أَهْلَ خَيْبَرَ بِشَطْرِ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا مِنْ ثَمَرٍ, أَوْ زَرْعٍ

"Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah mempekerjakan penduduk Khaibar dengan bagian (upah) dari hasil yang diperolehnya baik berupa buah ataupun tanaman."

[HR. Muslim]
Begitulah...

Pekerjaan #7: Ijarah

ijarah

Naah, yang paling banyak dipraktekkan sekarang ini biasanya ini nih, ijarah. Karena memang pun contohnya banyak. Ijarah itu adalah transaksi jasa tertentu yang disertai dengan kompensasi (upah). Yang mana nanti ada seorang ajir (yang dikontrak tenaganya) oleh musta'jir (orang yang mengontrak tenaga). Mungkin bisa dibilang ngaryawan. Nah, bila Anda sebagai ajir, dapat gaji, maka gaji itu halal, sah menjadi milik Anda.

Misalnya, menjadi koki, arsitek, akuntan, guru, dosen, customer servicer, web developer, dokter, tukang tambal ban, asisten, dan lain-lainnya.
...فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَـَٔاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ...

“...kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya...”

[QS. Ath-Thalaaq: 6]
"Rasulullah Saw dan Abu Bakar pernah mengontrak (tenaga) orang dari Bani Dail sebagai penunjuk jalan, sedangkan orang tersebut beragama seperti agamanya orang kafir Quraisy. Beliau kemudian memberikan kedua kendaraan beliau kepada orang tersebut. Beliau lalu mengambil janji dari orang tersebut (agar berada) di gua Tsur setelah tiga malam, dengan membawa kedua kendaraan beliau pada waktu shubuh di hari yang ketiga."

[HR. Bukhari]
قَالَ اَللَّهُ تعالى ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ, وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا , فَأَكَلَ ثَمَنَهُ، وَرَجُلٌ اِسْتَأْجَرَ أَجِيرًا , فَاسْتَوْفَى مِنْهُ, وَلَمْ يُعْطِهِ أَجْرَهُ

"Allah Swt berfirman: "Tiga orang yang Aku musuhi pada hari kiamat nanti adalah: orang yang telah memberikan karena Aku, lalu berkhianat; dan orang yang membeli barang pilihan, lalu ia makan kelebihan harganya; serta orang yang mengontrak pekerja, kemudian pekerja tersebut menunaikan transaksinya sedangkan upahnya tidak diberikan."

[HR. Bukhari]
Nah, itulah 7 hal yang termasuk bekerja, yang notabene merupakan sebab-sebab kepemilikan individu yang halal. Maka, pastikanlah bahwa selama ini pekerjaan Anda itu termasuk dalam 7 hal di atas. Jangan sampai malah ternyata pekerjaan Anda itu haram, seperti halnya mencuri, merampok, ghasab (perampasan), dan sebagainya.

Sebab #2: Waris

waris

Yang namanya waris, berarti hanya bisa terjadi bila orang tuanya sudah meninggal saja. Hebat kan? Pasif nih, nggak perlu capek-capek kerja, cukup diem aja, tiba-tiba bisa jadi kaya raya.

Hebatnya lagi nanti kalau ada anak bayi yang dapat warisan ratusan miliaran gitu, yah silahkan boleh-boleh aja. Sah tuh, halal.
يُوصِيكُمُ اللّٰـهُ فِىٓ أَوْلٰدِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنثَيَيْنِ ۚ فَإِن كُنَّ نِسَآءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِن كَانَتْ وٰحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وٰحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِن كَانَ لَهُۥ وَلَدٌ ۚ فَإِن لَّمْ يَكُن لَّهُۥ وَلَدٌ وَوَرِثَهُۥٓ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَإِن كَانَ لَهُۥٓ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ مِنۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِى بِهَآ أَوْ دَيْنٍ ۗ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِّنَ اللّٰـهِ ۗ إِنَّ اللّٰـهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

[QS. An-Nisa': 11]

Sebab #3: Kebutuhan akan Harta untuk Menyambung Hidup

Kebutuhan akan Harta untuk Menyambung Hidup

Maksud dari kebutuhan akan harta untuk menyambung hidup itu keadaan darurat. Dalam artian Anda tengah di pertaruhan antara hidup dan mati. Kalau Anda nggak makan saat itu juga, maka Anda akan mati. Nah, kalau sudah seperti itu, maka, semua yang Anda temukan itu boleh Anda ambil. Meskipun sesuatu yang Anda temukan itu haram hukum asalnya.

Contoh sederhana yang biasa dibahas di pengajian-pengajian dan di Sekolah adalah, misalnya ketika Anda terjebak di hutan berhari-hari. Anda udah laper banget, bakalan mati kalau nggak segera makan. Sementara di hutan itu udah nggak ada apa-apa lagi, yang ada cuman babi aja. Nah, Anda makan saja babi itu, silahkan (nggak berdosa, karena ada rukhsah).

Bahkan, sekiranya tiba-tiba di depan Anda ada warung gitu, Anda langsung ambil rotinya aja, itu boleh.

Namun jangan lupa, Anda tidak boleh berlebihan. Ingat, itu hanya untuk menyambung hidup. Nggak boleh sampek tambo-tambo kenyang sendawa gitu, apalagi di-upload di Instagram. :V

Dan ingat pula, kebutuhan untuk menyambung hidup itu berarti makanan kan. Berarti mobil, motor, laptop, handphone, itu bisa jadi nggak termasuk yaa.

Prakteknya itu palingan nanti makan satu, atau dua, atau tiga kali suap saja, mungkin sudah cukup.
إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ بِهِۦ لِغَيْرِ اللّٰـهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَآ إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللّٰـهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

[QS. Al-Baqarah: 173]

Sebab #4: Pemberian Harta Negara kepada Rakyat

Pemberian Harta Negara kepada Rakyat

Di zaman ketika Khilafah masih tegak, praktek seperti ini sudah sangat biasa. Adapun hartanya itu dari kas Baitul Mal.

Dan memang sih sejauh yang saya kaji bahwa sepanjang sejarah ketika Daulah Khilafah masih tegak itu harta di kas Baitul Mal berlimpahruah. Buanyak bangets!! Negerinya sejahtera bangets!! Makanya Khalifah hanya memikirkan bagaimana harta-harta itu bisa dihabiskan untuk kepentingan rakyatnya.

Termasuk Imam Ali bin Abi Thalib ketika menjadi Khalifah, baru bisa tidur tenang kalau sudah bisa "menyapu bersih" Baitul Mal, hingga semuanya sudah dibagikan untuk kepentingan rakyat. Begitu ada masuk lagi ke kas, yasudah langsung dibagikan lagi saja ke rakyat. Ketika beres, barulah tenang.

Pun Rasulullah Saw. pernah memberikan sebidang tanah yang tidak ada pemiliknya kepada seseorang ketika di Madinah. Demikian juga yang pernah dilakukan Abu Bakar dan Umar ketika menjadi khalifah.

Makanya perekonomian ketika itu sangat sehat, karena harta itu beredar terus-menerus.

Nggak kayak di sistem ekonomi Kapitalisme sekarang kan, harta kok di tumpuk-tumpuk. Pada nimbun-nimbun gitu. Mana boleh kek gitu. Kebanyakan orang-orang sekarang itu kan nggak ada harta cash. Semuanya masuk ke Bank, tepatnya di Jakarta. Bahkan menurut database toko online saya, customer saya itu kebanyakan di Jabodetabek.

Sebab #5: Harta yang Diperoleh tanpa Kompensasi Tenaga dan Harta

Harta yang Diperoleh tanpa Kompensasi Tenaga dan Harta

Nah barangkali sebab ke-5 ini sering Anda alami. Bahasa biasanya "dikasih". Contohnya, hibah, sedekah, mahar, diyat, luqatah, santunan, dan lain-lain. Misal kisahnya:
  • Mahasiswa perantauan, biasanya kan mereka itu dapat kiriman dari orang tua mereka setiap tanggal satu
  • Seseorang yang dibeliin motor, oleh orang tuanya
  • Anda ditraktir makan oleh teman Anda
  • Anda dikasih oleh-oleh dari tetanggan Anda, karena kebetulan mereka baru pulang dari luar kota
  • Dan sebagainya
تَهَادُوْا تَحَابُّوا

"Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai."

[HR. Bukhari]
يَا نِسَاءَ اَلْمُسْلِمَاتِ ! لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

"Wahai kaum muslimat, janganlah sekali-kali seorang wanita meremehkan pemberian tetangganya walaupun hanya ujung kaki kambing."

[Muttafaq Alaihi]
لَيْسَ لَنَا مَثَلُ اَلسَّوْءِ, اَلَّذِي يَعُودُ فِي هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَرْجِعُ فِي قَيْئِهِ

"Tidak ada orang yang menandingi kejelekan orang yang menarik hibahnya di antara kita (selain) seperti anjing yang menjilati ludahnya."

[HR. Bukhari]
Jadi, begitulah kepemilikan individu dalam sistem ekonomi Islam. Keren kan? Nggak kayak sistem ekonomi Kapitalisme sekarang, banyak gejenya kan. Bikin orang jadi pada ribet melulu. Yah namanya juga dibangun dari asas sekulerisme, jadi aturannya sak karep hawa nafsu. Hawa nafsu tiap-tiap orang itu kan berbeda-beda, jadinya orang-orang betekak terus tiap hari.

Sayangnya, sistem ekonomi Islam yang luar biasa pernah jaya sekitar 13 abad tersebut "sedang terkubur", sejak sekitar tahun 1924 masehi. Itu sebabnya, wajiblah bagi kita untuk terus-menerus berdakwah, agar Daulah Khilafah bisa tegak kembali, kemudian terterapkanlah sistem ekonomi Islam ini.

Itu baru kepemilikan individu. Belum lagi Anda lihat kepemilikan umum dan kepemilikan negara, luar biasa juga. Nah, insya Allah akan kita bahas kelanjutannya di artikel berikutnya yang berjudul "Kepemilikan Umum (Milkiyah 'Amah)".

Stay tuned dah.. :D

Wallahua'lam bishshawab..

Btw, apakah ada yang kurang Anda pahami dari pembahasan artikel ini? Atau ada pertanyaan? Atau ingin menambahkan? Kalau ada, silahkan layangkan saja di kotak komentar di bawah ini.. ˆ⌣ˆ

Refrensi:
Kepemilikan Individu dalam Islam (Milkiyah Fardhiyah) Kepemilikan Individu dalam Islam (Milkiyah Fardhiyah) Reviewed by Dani Siregar on Minggu, Maret 29, 2015 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.