Pandangan Dasar Sistem Ekonomi Islam (Part 3): Distribusi Barang dan Jasa di Tengah-Tengah Manusia (Dalam Tinjauan Al-Qur'an)


Sebelumnya kita telah membahas Pandangan Dasar Sistem Ekonomi Islam (Part 2): Distribusi Barang dan Jasa di Tengah-Tengah Manusia (Dalam Tinjauan Fakta). Ternyata memang faktanya banyak sekali masalah ekonomi itu berupa masalah distribusi dan transaksi di tengah-tengah manusia. Bukan masalah kelangkaan dan produksi.

Namun tentunya sebagai seorang muslim, yang notabene ber-aqidah Islam, sejatinya tiap-tiap keputusan kita haruslah didasari dalil syara'. Pedoman kita adalah Al-Qur'an dan assunnah, bukan apa yang udah terlanjur terjadi (fakta). Adapun kalau ada "maslahat" dari fakta akibat praktek syariat, yah alhamdulillah syukuri saja. Barangkali itu bisa kita jadikan argumen sekunder.

Nah, berikut ini, adalah argumen kuatnya, bahwa memang problem asasi pada urusan ekonomi, menurut Islam adalah, problem distribusi barang dan jasa di tengah-tengah manusia.

#2. Lihat Tinjauan Al-Qur'an

Silahkan Anda simak ayat-ayat berikut ini...

Dalil #1

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.


[QS. Al-Baqarah: 185]
Apa maksudnya tuh? Petunjuk bagi manusia itu artinya, Allah ingin menunjukkan apa saja langkah-langkah manusia yang benar dan salah, dalam kehidupannya di dunia ini. Bisalah Anda pahami, bahwa petunjuk itu sebagai pengatur perbuatan manusia. Dengan begitu, jelas, Allah tidak mengatur kuantitas barang dan jasa tersebut, melainkan kelakuan sang manusianya.

Itu sebabnya pula, Islam tidak mempermasalahkan bila Anda ingin menjadi kaya.
  • Mau punya harta sebanyak apapun, silahkan.
  • Mau punya aset kendaraan berapapun, silahkan.
  • Mau punya aset sebanyak apapun, silahkan.
  • Mau profit berapapun, silahkan.
  • Tapi yang dipermasalahkan nanti adalah perbuatannya, apakah Anda memperoleh kekayaan itu dengan cara yang halal, atau haram. Dan juga apakah kekayaan itu dimanfaatkan dengan cara yang halal, atau haram.
Maka betul juga kalau ada quotes-nya Jogja Muslimpreneur Day (JMDAY 2013) yang bilang bahwa bisnis itu bukan cuma soal untung-rugi, tapi juga soal Surga-Neraka.

bisnis-bukan-untung-rugi-namun-Surga-Neraka

Sedangkan ekonomi Kapitalisme, hobinya membahas untung-rugi. Baik itu ekonomi mikro, maupun makro. Sehingga kerjaannya pun fokus ningkatin produksi terus, supaya katanya pendapatan ikut naik, dan kesejahteraan rakyat pun naik.

Begitulah.. kesimpulannya, Ekonomi Islam terfokus pada perbuatan manusia yang terkait dengan barang dan jasa.

Dalil #2

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ أَعْمَىٰ
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".


[QS. Thaahaa: 124]
"Berpaling dari peringatanKu" disitu maknanya adalah menyimpang dari petunjuk Islam. Alias, Al-Qur'an. Sedangkan "Penghidupan yang sempit" maksudnya dia sengsara di dunia ini. Termasuk pula dia menderita, miskin, tertindas, krisis ekonomi, dan lain-lain sebagainya.

Maka bisa kita lihat, bila sekarang ada negeri yang ekonominya hancur, rusak, hingga orang-orangnya jadi miskin, kenapa bisa mengalami kesempitan hidup begitu, kata Al-Qur'an itu karena mereka menyimpang dari petunjuk Al-Qur'an.

Nggak ada hubungannya kan dengan banyak-sedikitnya barang dan jasa yang diproduksi. Yang bilang kok gagal karena masalah produksi gitu, itu kata-katanya orang Kapitalis. Kalau kita yang muslim, yah bilang bahwa kok gagal karena menyimpang dari Al-Qur'an.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)..


[QS. Ar-Ruum: 41]
Begitulah...

Tapi... seandainya kita udah setia ngikutin Al-Qur'an kok masih "susah rezekinya" kenapa itu? Yaah nggak apa-apa, yang penting Anda sudah menunaikan kewajiban Anda, teruskan dan sabar saja.

Ingat, kan ada hal-hal yang terjadi pada kita, yang di luar kuasa diri kita. Seperti misalnya:
  • ada yang terlahir sebagai laki-laki, ada yang terlahir sebagai perempuan
  • ada yang lahir tahun 1994, ada yang lahir tahun 1990, dll.
  • ada yang lahirnya di Jakarta, ada yang lahirnya di Bandung, ada yang di Tokyo, dll.
  • ada yang rambutnya keriting, ada yang rambutnya lurus, dll.
  • ada yang di jalan ketabrak mobil, ada yang di jalan tiba-tiba menginjak kotoran kucing, ada yang lancar-lancar aja, dll.
  • ada yang dapat jodoh orang Arab, ada yang dapat jodoh pribumi, dll.
  • ada yang duitnya banyak, ada yang pas-pasan, dll.
Kalau seandainya Anda sudah setia mengikuti petunjuk Allah, sudah berikhtiar optimal pula, tapi kok rasanya nyari harta itu masih susah, yah nggak usah pusing. Hasil itu kan di luar kuasa kita. Sedangkan yang bisa kita kuasai adalah proses. Karena apa-apa yang bisa kita pilih itu yang akan dihisab, sedangkan yang tak bisa kita pilih yah tak akan dihisab.

Nah, itu sebabnya bila Anda kemalangan, maka yang bisa Anda lakukan hanyalah mengucapkan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun saja. Nggak perlu protes, karena itu adalah perihal yang di luar kuasa Anda. Tapi, kalau fasad (kerusakan) itu Anda nggak disuruh untuk mengucapkan "innaa lillah... " dst, ataupun do'a-do'a lainnya. Melainkan, Allah membiarkan kita jadi fasad terus, kita merasa nggak enak terus, kita miskin terus, kita melarat terus. Yang harus dilakukan adalah kembali ke jalan yang benar, karena itu adalah perihal yang kita kuasai. Sebagaimana QS. Ar-Ruum: 41 di atas.

Begitulah...

Tapi... kok ada negeri yang nggak kenal Al-Qur'an malah bisa banyak duitnya? Yah tinggal ditelusuri saja, kerjaannya apa? Jangan bilang kalau kerjaannya mengeruk sumber daya alam negeri lain, terus dituker sama kertas yang nggak berguna banget.. -_- Tinggal menunggu waktu meledaknya saja.

Dalil #3

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسٰنَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيعًۢا بَصِيرًا
إِنَّا هَدَيْنٰهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِينَ سَلٰسِلَا۟ وَأَغْلٰلًا وَسَعِيرًا
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.
Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala.


[QS. Al-Insaan: 2-4]
Kebetulan sebagian penjelasan ayat ini sudah pernah kita bahas di artikel "Perkenalan Aqidah Islam". Yang  mana sudah kita ketahui bersama, bahwa hakikat dari hidup adalah ujian. Makanya ada yang bersyukur karena dapat petunjuk, namun ada pula yang kufur.

Analoginya, ibarat Anda sendirian berada di hutan belantara rawa-rawa yang luaaaasss banget. Udah gitu pohonnya tinggi-tinggi, gelap pula lagi, ditambah pula becek, kotor, dan bauk, serta banyak suara binatang buas. Gimana perasaan Anda? Pastilah Anda pingin cepat-cepat keluar dari situ. Namun udah berjalan maju terus tapi nggak ketemu ujungnya. Nggak bisa keluar-keluar, udah berhari-hari.

Nah, tiba-tiba, dari atas langit ada sesuatu yang jatuh. Ketika Anda samperin sesuatu itu, ternyata sesuatu itu adalah petunjuk untuk keluar dari hutan tersebut. Kalau begitu, bagaimana perasaan Anda? Wah, pastilah Anda bersyukur banget!

Namun ada orang sombong, yang merasa dia tetap bisa jalan keluar sendiri, dia merasa dia sudah hebat, dia nggak perlu bantuan apa-apa. Kalau pun dia dikasih petunjuk, dia menolak. Berterima kasih aja nggak, langsung "dicampakkan" tuh petunjuknya..

Begitulah ibaratnya, ada orang yang bersyukur, ada orang yang kufur, padahal mereka sama-sama telah menerima petunjuk. Hanya saja mereka yang bersyukur itu paham bahwa masalah mereka itu demikian pelik. Contohnya seperti masalah pembagian waris yang kita bahas di artikel sebelumnya, setiap ahli waris disitu saling memprotes makna keadilan menurut masing-masing mereka.

Makanya bila ada Allah memberitahukan makna adil yang benar, enak banget dong. Dengan aturan-aturan (perintah dan larangan) tersebut, segala masalah interaksi dan distribusi dalam perihal ekonomi, jadi beres.

Begitulah...

Kesimpulan Pandangan Dasar Sistem Ekonomi Islam

Kesimpulannya, benarlah faktanya memang masalah utama dalam persoalan ekonomi adalah, masalah distribusi dan transaksi barang serta jasa yang ada di tengah-tengah manusia. Bukan masalah produksi serta kelangkaan. Inilah pandangan dasar sistem ekonomi Islam.

Nah, kemudian, bagaimana solusinya menurut Islam terkait masalah distribusi dan traksaksi tersebut? Seperti misalnya solusi dari masalah-masalah yang sempat kita singgung di artikel sebelumnya dan masalah lainnya:
  • Masalah pembagian warisan, kok asih bikin keluarga pecah melulu sih?
  • Masalah rebutan sumber daya alam, kok nggak jelas tambang emas di Papua itu punya siapa sih?
  • Masalah pengangguran, kok merajalela sih? Padahal udah S1?
  • Masalah orang udah ikut BPJS kok dipersulit mendapatkan perawatan, hingga kemudian meninggal?
  • Masalah harga BBM, itu beneran harus dinaikin terus atau bisa-bisa aja dimurahin?
  • Masalah uang pensiunan PNS, memang sebaiknya dibayar sekali atau gimana?
  • Dan masalah-masalah lainnya..
Bagaimana tuh solusinya menurut sistem ekonomi Islam? Insya Allah akan kita bahas di artikel selanjutnya yang berjudul "Pondasi & Pilar-Pilar Ekonomi Islam".

Wallahua'lam bishshawab..

Refrensi:
Pandangan Dasar Sistem Ekonomi Islam (Part 3): Distribusi Barang dan Jasa di Tengah-Tengah Manusia (Dalam Tinjauan Al-Qur'an) Pandangan Dasar Sistem Ekonomi Islam (Part 3): Distribusi Barang dan Jasa di Tengah-Tengah Manusia (Dalam Tinjauan Al-Qur'an) Reviewed by Dani Siregar on Kamis, Maret 26, 2015 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.