Perkenalan Aqidah Islam

aqidah-Islam

panduan-cara-mengetahui-benar-salahnya-keharusanPembahasan pada artikel ini adalah lanjutan dari artikel "Panduan Cara Mengetahui Benar-Salahnya Keharusan". Maka dari itu, pastikan Anda telah selesai membaca dan memahami pembahasan di artikel sebelumnya tersebut. Kalau tidak, niscaya Anda tak akan nyambung dengan apa-apa yang ada di artikel ini.

Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas pemikiran kelas atas. Yaitu pemikiran yang kerjaannya adalah menilai benar atau salahkah keharusan-keharusan melakukan suatu aktivitas? Seperti halnya:
  • Kuliah di STAN itu benar atau salah ya?
  • Ikutin kerudung model gaul itu benar atau salah ya?
  • Bisnis MLM itu benar atau salah ya?
  • Mengambil bunga di Bank itu benar atau salah ya?
  • Pacaran itu benar atau salah ya?
  • Memakai barang orang tanpa izin itu benar atau salah ya?
  • Dan lain-lainnya
Yang notabene sebelumnya kita telah menyimak kisah perdebatan si Mici yang mencuri LCD baru seharga 5 juta, dengan si Pak Hakim yang memvonis bahwa si Mici harus dimasukkan ke Penjara selama 2 tahun. Nah, keputusan berupa keharusan dipenjara selama 2 tahun itu, benar atau salah? Memang boleh seperti itu, atau tidak boleh?

Cara mengetahuinya, adalah dengan cara menanyakan argumen, atas dasar apa hal itu dilakukan? Kok harus dipenjara 2 tahun, atas dasar apa? Apa argumen kuatnya? Atau kalau nggak boleh dipenjara 2 tahun, atas dasar apa? Apa argumen kuatnya? Namun, ternyata cuma perdebatan harus 2 tahun atau nggak saja udah panjang banget argumennya itu, hampir nggak habis-habis.

Hingga akhirnya mentok pada ujung pertanyaan, yaitu... dari  mana asal-muasal manusia? dari mana asal-muasal alam dan kehidupan ini?

Coba saja sekiranya tadi ada yang bilang, kuliah di STAN, ngambil bunga, MLM, dan lain-lainnya, ketika argumennya dikorek-korek terus, kurang lebih keputusan keharusannya itu adalah karena:

  • Ngikutin teman. Maka, tinggal ditanya lagi, kenapa harus ngikutin teman?
  • Jawabnya, karena biar setia kawan. Maka, tinggal ditanya lagi, kenapa harus setia kawan?
  • Jawabnya, karena itu ajaran gurunya, si Pak Anu misalnya.  Maka, tinggal ditanya lagi, kenapa harus ngikutin ajaran pak Anu?
  • Jawabnya, yah itu pesan dari orang tua. Maka, tinggal ditanya lagi, kenapa harus ngikutin pesan orang tua?
  • Jawabnya, karena itu diajarin nenek. Maka, tinggal ditanya lagi, kenapa harus dengerin kata-kata nenek?
  • Jawabnya, karena itu yang dikasih tahu oleh neneknya nenek.
  • Hingga kemudian ditanya lagi, ujung-ujungnya akan menjadi, "Karena dari neneknya neneknya neneknya neneknya neneknya neneknya neneknya neneknya neneknya neneknya neneknya neneknya nenek..." nggak beres-beres...
  • Sebetulnya ujung yang mentok itu adalah, dari mana asal-muasal manusia? dari mana asal-muasal alam dan kehidupan ini?

Tapi, kenapa kita menanyakan asal-muasal manusia, kehidupan, dan alam semesta saja? Kenapa hanya 3 itu saja? Yah karena memang cuman 3 fakta objek itu yang bisa manusia indera.


dalil aqidah islam

Jadi, begitulah...


Pertanyaan Aqidah #1: Dari Mana Asal-Muasal Manusia, Alam Semesta, dan Kehidupan Ini?

Inilah pertanyaan penting yang harus segera kita jawab, kita bereskan, sekarang ini juga! Detik ini juga! Karena kalau nggak beres, bahaya nanti. Karena Anda bakal bingung nggak bisa ngapa-ngapain, tidak punya argumen. Dan hati-hati pula, jangan sampai salah pula menjawabnya, nanti jadinya hidup Anda pun salah.

Lihat tuh kisah si Mici dengan Pak Hakim kemarin, galau mereka kan? Hingga sampai sekarang pun belum tahu siapa yang menang, si Mici atau Pak Hakim? Maka dari itu, mari kita jawab pertanyaan mendasar tersebut, dari mana asal-muasal manusia, kehidupan, dan alam semesta..

Pertama-tama, kita harus mengetahui dulu fakta yang pertama, yakni, manusia.

1. Fakta Kepastian Manusia

Mari kita indera manusia, dengan jurus pemikiran kelas menengah, sebagaimana yang kita kaji di artikel "Panduan Cara Membenarkan Hal yang Tak Terindera (Ghaib)". Disitu ada pembahasan, bahwa apa benar tadi malam ada kuda yang lewat di depan Rumah Anda? Kita tidak mudah menjawabnya, karena itu adalah sesuatu yang di masa lalu, alias perihal ghaib.

Kalau mau jawab, kita harus punya bukti, alias dalil. Kemudian disitu kita menemukan bukti berupa bekas telapak kaki kuda kan. Karena memang bekas telapak kaki kuda itulah satu-satunya hal yang bisa kita indera. Dari dalil itulah, kita bisa memikirkan sesuatu yang ghaib.

Maka, pun penilaian dari dalil itu tergantung. Nilainya bisa pasti benar, bisa mungkin benar-mungkin salah, bisa pasti salah.

Begitu pulalah bila kita menilai manusia, penilaian kita terhadap manusia itu, bisa pasti benar, bisa mungkin benar-mungkin salah, bisa pasti salah.

Nah, tugas kita sekarang adalah, mengumpulkan pernyataan-pernyataan yang pasti benar terkait penialaian manusia. Yuk lah, silahkan Anda cari pernyataan apa saja yang pasti benar yang ada pada diri manusia itu. Yang mana setiap manusia, siapapun dia, pasti juga ikut membenarkan pernyataan itu.

Kebetulan, setelah jauh lama saya mengkaji, saya dapat, ternyata, kurang-lebih ada 6 yang pasti pada manusia. Yaitu, manusia itu pasti:
  • Terbatas
  • Teratur
  • Terpaksa
  • Lemah
  • Serba kurang
  • Bergantung
  • Dan sebagainya
Iya kan? Apa Anda meragukannya? Pasti tidak. Lantaran memang faktanya begitu. Atau biar rasanya nggak kayak saya paksakan, yasudah, Anda nafikan saja poin-poin di atas. Terus, Anda cari lagi sendiri. Paling-paling yang ketemu poin-poin di atas itu juga.

Biar Anda makin paham, mari kita bahas kepastian tersebut satu per satu.

Fakta #1 Manusia: Manusia itu PASTI Terbatas

Maksud manusia itu pasti terbatas adalah, pasti ia berawal, dan berakhir. Ada lahirnya, ada matinya. Iya kan? Pasti itu kan? Tentu.

Saya belum pernah ada lihat langsung di depan mata saya, orang yang umurnya 2015. Jangankan yang umurnya 2015, yang umurnya 200 aja belum pernah. Misal lahirnya tahun 1815, tapi sampai sekarang dia masih hidup, tidak ada manusia yang seperti itu.

Malahan sampai ada orang yang umurnya 115 tahun, kerjaannya itu setiap hari ke Kuburan, berdo'a supaya ia segera diwafatkan. Hingga ujung-ujungnya akhirnya ia wafat juga.

Jelaslah, setiap manusia itu terbatas. Ia punya awal, dan punya akhir. Ia ada lahirnya, ada matinya.


Fakta #2 Manusia: Manusia itu PASTI Teratur (Terpaksa)

Setiap manusia itu pasti teratur, banyak hal yang di luar kuasa dirinya, tak bisa dikendalikannya.

Misal, ketika makan, meskipun makanannya enak banget, tapi nanti ketika dikeluarin di Kamar Mandi, menjadi eek. Sesuatu yang nggak enak banget..

Coba pas Anda makan martabak spesial double coklat + triple keju + kacang + susu, enak tuh kan.. :9 Tapi, apakah bisa nanti pas dikeluarin di Kamar Mandiri, bukannya menjadi eek malah tetap jadi martabak itu juga? Biar bisa dimakan lagi.. kalau bisa gitu enak ya kan? Hehehe! Tapi sayangnya kita tak bisa seperti itu.

Pun, kalau mau ke Mesjid, pas kita jalan, kaki kita harus nempel di Bumi iya kan? Nggak bisa kita lompat gitu terus ngambang di udara..

Pun, ketika mata kita melihat, cuma bisa ngelihat apa-apa yang wajah kita hadapi di depan kan. Nggak bisa kita geser mata kita ke samping, jadi kayak ayam gitu, hehehe! Nggak bisa pula mata kita ada di jari tangan, biar bisa ngintip gitu ya kan, hehehe! Tapi yah untung juga sih, soalnya bahaya juga nanti kalau makan ikan sambel, nanti malah kepedesan terus mata kita, hehehe!

Pun, cobalah Anda buka-tutup-buka-tutup telapak tangan Anda. Lama-lama capek kan? Anehnya, jantung itu, dia tiap hari berdetak terus, tapi nggak berhenti-berhenti gitu. Sampai pas Anda tidur pun dia tetep jalan. Jantung saya juga gitu (yaiyalah saya manusia, hehehe!) udah 20 tahun saya hidup, jantung saya tetap berdetak. Meski saya suruh, "Woi cak berhenti dulu kau woi." tapi tetap berdetak aja dia terus.

Berarti, memang pasti, manusia ini bersifat teratur, alias terpaksa. Ada sesuatu yang mengatur diri kita.. 

Fakta #3 Manusia: Manusia itu PASTI Lemah (Serba Kurang dan Bergantung)

Manusia itu pasti lemah, dia nggak bisa hidup sendiri. Dia harus hidup dengan yang lainnya, baik hidup dengan manusia lainnya, maupun hidup dengan hewan, tumbuhan, dan benda mati. Dengan kata lain, ia serba kurang, dan senantiasa bergantung pada hal lain.
  • Coba aja Anda hidup tanpa nasi, bisa?
  • Tanpa roti, bisa?
  • Tanpa air, bisa?   
  • Bahkan tanpa baju, bisa?
  • Tanpa teman, bisa?
  • Tanpa sendal, mau?
  • Tanpa handphone, apalagi?
Kalau Anda ngaku hebat, nggak mau dibilang lemah, yah coba aja lepas segala-galanya. Tahan berapa hari palingan? Tidak mungkin bisa bertahan. Karena faktanya, Anda serba kurang, dan Anda pasti bergantung pada yang lain.


Manusia Lemah, Membutuhkan yang Lain

Sampai disini, Anda sepakat kan? Pernyataan-pernyataan di atas itu adalah pernyataan pasti pada manusia, right? Exactly, right


2. Fakta Kepastian Alam Semesta

Alam semesta itu adalah, kumpulan benda-benda di angkasa. Nah, ternyata, fakta alam semesta ini juga sama dengan fakta manusia. Yaitu, terbatas, terpaksa, teratur, lemah, dan bergantung.

Lihatlah planet Bumi, bentuknya agak bulat. Ia terpaksa jadi bulat begitu. Meskipun dia udah bosen gitu-gitu aja, kepingin ganti bentuk jadi kotak, tetep aja dia nggak bisa.

Udah gitu, bumi itu asih berputar-berputaaaar melulu.. dan berputarnya di porosnya saja.. Ajaibnya, dia nggak pernah capek..
Fakta Kepastian Alam Semesta
Tidakkah Anda bertanya, energi apa yang membuatnya bisa terus berputar seperti itu? Siapa yang memutarnya seperti itu? Pesawat saja terbangnya itu maksimal sekitar 7 sampai 10 jam, setelah itu ia sudah harus mendarat. Tidak bisa terbang melulu. Kalau mau terbang lagi, isi dulu bahan bakarnya.

Terus Bumi ini gimana ceritanya dia tuh? Udah berjuta-juta tahun berputar terus begitu, bahan bakarnya apa coba?? Dia tak pernah protes satu kali pun. Udah gitu, berputarnya melawan arah jarum jam lagi.

Dan yang tak kalah keren lagi, selain memang dia berputar pada porosnya, dia itu juga berevolusi mengelilingi matahari, berbarengan dengan tata surya lainnya. Sangkin mantapnya, titik orbitnya pun tak pernah bergeser 1 milimeter pun! Dan jangan lupa, tanpa pilot! Kebayang nggak? Pesawat yang udah ada pilot dan teknologi secanggih apapun aja nggak bisa kayak Bumi gitu..

Padahal seandainya Bumi itu bergeser 2 milimeter saja mendekati ke matahari, maka seluruh permukaan Bumi akan hangus.. Kalau bergeser 1 milimeter saja menjauhi matahari, maka seluruh permukaan Bumi akan membeku.. Berarti, memang selama ini dia 100% akurat nan tepat di orbitnya itu...

Cobalah pikirkan, siapa yang memaksa Bumi itu jadi seperti itu? Jelaslah, ia bersifat terbatas, teratur, terpaksa, lemah, dan berketergantungan.

Iyaps, berketergantungan. Semua benda-benda di angkasa itu semuanya saling bergantung. Itu sebabnya posisi Bumi bisa seperti itu, itu karena daya tarik-menarik antar benda-benda di angkasa. Kalau ada perubahan sedikit aja, terus Bumi terpental, maka hancurlah semua itu seluruh isi Bumi itu..


3. Fakta Kepastian Kehidupan

Sama juga, perihal yang pasti pada kehidupan adalah, kehidupan itu bersifat individual. Seperti halnya seekor ayam. Seekor ayam itu hidup, hanya pada individu ayam itu saja, tidak bisa untuk yang lain. Anda pun juga begitu, Anda hidup hanya untuk individu Anda sendiri.


Fakta Kepastian Kehidupan

Misalnya, Ustadz Dwi Condro pernah cerita, beliau itu dulu katanya pernah punya ayam. Satu induk ayam, dengan 6 anak-anaknya yang masih kecil, yang masih diasuh. Namun, sayangnya sang induk kurang cermat dalam mengurus anak-anaknya. Ada satu anak ayam yang lari-lari, kemudian nyemplung ke selokan.

Si anak ayam pun minta ditolong. Padahal dia udah teriak-teriak, malah induknya sibuk yang lain. Untung setelah itu ketahuan oleh beliau, kemudian diangkatlah anak ayamnya.. Sayangnya si anak ayam itu udah keburu kedinginan banget.. Lalu beliau berikanlah si anak ayam itu selimut, supaya si anak ayam merasa hangat..

Semalam suntuk beliau terus menyelimuti si anak ayam.. terus mendampinginya.. Tapi.. ternyata.. yaah... kondisinya semakin parah... Hingga akhirnya, si anak ayam mengalami sakaratul maut.... :(

Kemudian beliau berprasangka... Anak ayam itu kan kecil.. sedangkan badan beliau besar.. beliau ingin memberikan sedikit nyawa beliau buat ke si anak ayam tersebut. Beliau terus-menerus meniupi si ayam, namun sayang nyawa beliau tak kunjung keluar. Yang ada malah beliau kehasuan. Hehehe!

Lalu, akhirnya, meninggal dunialah si anak ayam tersebut.. :'( inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.. T^T Hiks hiks.. T~T

Meski beliau heran, orang tuanya nggak sedih gitu. Biasa aja ekspresinya. Padahal udah dikasih tahu, "Maaf ya Buk.. Anaknya meninggal dunia, saya tidak bisa menolongnya.." Eh malah diem aja tuh induk ayam. Nggak ada meneteskan air mata! Dasar ayam! Hehehe!

Begitulah.. kehidupan itu terbatas, hanya bisa ada pada satu individu itu saja. Sekaligus bersifat teratur, lemah, serba kurang, dan bergantung.

Semua kehidupan seperti itu. Setiap makhluk hidup butuh makhluk hidup lain, tanaman butuh tanaman lain, hewan butuh tanaman, manusia butuh tanaman, tanaman butuh manusia, dan lain hubungan lainnya antar makhluk hidup. Tidak ada yang bisa hidup sendiri.


Apa yang Bisa Disimpulkan Dari 3 Kepastian Tersebut?

Kita telah mendapatkan fakta apa saja yang pasti-pasti pada manusia, alam semesta, dan kehidupan. Berarti, kesimpulannya adalah, manusia, alam semesta, dan kehidupan itu, mustahil bersifat azali.


belajar akidah islam

Azali itu artinya, tidak berawal dan tidak berakhir. Kekal gitu. Selalu adaaa terus.

"Mustahil" itu kebalikan dari "pasti". Kalau mustahil azali, berarti...?? Berarti, manusia, alam semesta, dan kehidupan, pasti ada Yang Menciptakannya, pasti ada Yang Mengaturnya, pasti ada Yang Memaksanya. Dengan kata lain, pasti ada eksistensi Sang Pencipta.

Tidak mungkin semua apa-apa yang ada di sekeliling kita ini, yang kita indera ini, bisa menjadi ada secara tiba-tiba. Tidak mungkin. Pasti ada eksistensi Sang Pencipta.


Kemungkinan Sifat Sang Pencipta

Menurut akal manusia, ada 3 kemungkinan sifat Sang Pencipta:
  • Ada yang menciptakan Sang Pencipta
  • Sang Pencipta menciptakan dirinya sendiri
  • Sang Pencipta itu bersifat azali
Menurut Anda, yang mana yang benar diantara 3 kemungkinan tersebut? Apakah kemungkinan yang pertama, kedua, atau ketiga? Atau justru benar semua? Mari kita telaah satu per satu..

Pertama, kemungkinan "Pencipta itu ada yang menciptakan", mungkinkah? Tidak mungkin. Kalau pencipta itu ada yang menciptakan, berarti bukan pencipta. Berarti namanya "yang diciptakan". "Pencipta" itu bahasa Arabnya "Khalik". "Yang diciptakan" itu bahasa arabnya "makhluk".

Kemungkinan kedua, "Pencipta menciptakan dirinya sendiri", mungkinkah? Tidak mungkin juga. Kalau begitu, berarti dia pencipta sekaligus makhluk. Atau, dia makhluk sekaligus pencipta. Anda pusing? Sama, saya juga.. Nggak kebayang sama sekali.. -_-

Tinggal satu kemungkinan berarti, kemungkinan ketiga. Otomatis, kemungkinan ketiga inilah yang pasti benar. Yakni, Pencipta itu bersifat azali. Pencipta itu tidak pernah tidak ada. Selalu adaaaaa terus. Tidak berawal dan tidak berakhir, begitulah azali. Kalau pencipta itu ada awalnya, pastilah ditanya, yang mengawali itu siapa? Yang mengadakan itu siapa? Tidak masuk akal kan.

Begitulah. Akal kita memahami, bahwa Pencipta itu memang tidak berawal. Wajibul wujud, wajib adanya. Kalau tidak ada Ini, maka makhluk tidak akan ada.


maksud aqidah islam

Selesai...

Paham kan? Clear ya? Alhamdulillah kalau Anda sudah paham.. :D

Nah, karena Anda udah paham, sekarang saatnya Anda ujian. Silahkan ambil kertas dan pulpen, jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini, hehehe.


Ujian

Silahkan Anda jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Pertanyaan awal nanti ini, merupakan pertanyaan yang bahkan tidak bisa dijawab oleh seorang profesor ahli Filsafat di IPB, Dr. Ir. H. Andi Hakim Nasution. Guru besar di IPB nih beliau ini (katanya). Dia ini nulis Kata Pengantar di buku Filsafat Ilmu. Uniknya, kata pengantarnya ringkas saja. Hanya berupa, "Saya merasa tidak layak memberi kata pengatar dari buku yang ditulis mantan mahasiswa saya, yang dulu pernah ngambil kuliah Filsafat Ilmu.. yang dia pernah menanyakan satu pertanyaan, namun saya tak bisa menjawabnya.." Seringkas itu saja kurang-lebih.

Nah, kok bahkan profesor pun nggak bisa menjawab? (Yah karena dia belum baca blog ini, hehehe!). Emang pertanyaannya itu seperti apa? Silahkan, Anda coba ikut jawab pertanyaannya tersebut, yakni, ini:

Soal #1: Jika Tuhan Maha Kuasa, mampukah Tuhan menciptakan batu yang sangat besar sekali, sehingga Tuhan tidak mampu mengangkatnya?

Gimana? Hmm?? Apa jawabannya? Tahukah Anda??

Kalau Anda jawab "Bisa!", berarti batunya kurang besar itu, hehehe!

Jangan salahin saya juga yaa, soalnya yang nanya bukan saya.. :D

Atau kalau nggak mampu, yaudah nggak apa-apa bilang aja, hehehe!

Susah kan jawabnya? Wong yang udah profesor aja mumet.. :V

Sebetulnya, cara menjawabnya cukup mudah, sekiranya Anda udah paham materi skill berpikir kelas menengah yang kita bahas sebelumnya. Nah, karena pertanyaannya itu ghaib, maka ada 3 kemungkinan kan:
  • Wajib aqli (pasti benar)
  • Jaiz aqli (mungkin benar-mungkin salah)
  • Mustahil aqli (pasti salah)
Jawabannya, mustahil aqli (pasti salah). Udah, beres, gitu aja (kalau Anda masih mumet, silahkan kaji kembali skill pemikiran kelas menengah).

Jangan sampai Anda terjebak dengan pertanyaannya. Sebetulnya itu pertanyaan yang sederhana. Cuman ada pengembangan aja. Aslinya kalau diringkas, itu pertanyaannya sama saja dengan pertanyaan "Mungkinkah Tuhan itu berkuasa sekaligus tidak berkuasa?" Tentu menurut akal kita, itu mustahil. Sama dengan kemungkinan sifat Tuhan yang kedua sebelumnya, "Mungkinkah Sang Pencipta itu sekaligus yang diciptakan?" Mustahil.

Clear ya? Kalau begitu, silahkan Anda jawab pertanyaan kedua.

Ini pertanyaannya dari setan nih. Hehehe! Ada setan bapak, dan setan anak. Nah, suatu hari, setan anak sedang bergembira. Jingkrak-jingkrak gitu dia, hingga bapaknya heran, "Kenapa Kamu bergembira Nak?" Si anak menjawab, "Gimana nggak bergembira Pak? Hari ini musuh kita berkurang satu!"

Si bapak nanya balik, "Kenapa?" Jawabnya, "Di Kampung ini ada Kiyai yang meninggal dunia!" Ditanya lagi, "Lah kiyai satu doang meninggal kok seneng?" Jawabnya, "Woaah kiyai satu itu ilmunya tinggi banget Pak! Buanyak banget Pak! Kalau meninggal satu itu aja, kan bisa mengurangi beban kita kan Pak!"

Si bapak nanya lagi, "Emang Kiyai yang mana sih?" Jawab si anak, "Itu Kiyai yang sebelah Kampung itu Pak." Bapaknya membalas, "Lah Kiyai gitu aja kok takut? Itu Kiyai level rendah itu mah.. Memang ilmunya banyak, pinter bahasa Arab, nguasai banyak Kitab, tapi nggak bisa mikir dia tuh.. Dia belum pernah belajar skill berpikir kelas atas.." Hehehe!

Kemudian si bapak pun lanjut mengatakan, "Kalau nggak percaya, coba.. sekarang cari di Kampung ini mana Kiyai yang paling hebat, paling gede, paling pinter, tunjukkan! Biar nanti saya kasih dia satu pertanyaan, pasti nanti dia akan langsung musyrik!"

Pertanyaan apa itu? Nah, ini dia pertanyaannya.. Silahkan Anda siap-siap jugalah untuk menjawab nanti, hehehe!

Nah, akhirnya, si setan bapak dan setan anak, pura-pura menyamar menjadi manusia. Kemudian nyari Kiyai yang tergede di Kampung itu, lalu si setan anak menunjukkannya, "Ini dia Pak Rumahnya.. Ayo kita masuk.."

"Assalamu'alaikum.." kata mereka. "Wa'alaikumsallam.." jawab sang Kiyai. Kemudian mereka basa-basi sebentar dululah. Yah namanya juga setan, hehehe! Akhirnya setannya ngomong, "Pak Kiyaii.. Ini saya lagi ada sedikit masalah nih Pak.." Kiyai menyaut, "Ada masalah apa?" Setan menjawab, "Gini Pak Kiyai.. Saya ada pertanyaan.. Pertanyaannya gini Pak..

Soal #2: Kalau Tuhan Maha Kuasa, mampukah Tuhan memasukkan seluruh alam semesta ini ke dalam telur ayam?

Langsunglah dijawab oleh sang Kiyai, kemudian langsung lari dia. Tuh bener kan, satu jawab, langsung musyrik. Hehehe!


Kalau Tuhan Maha Kuasa, mampukah Tuhan memasukkan seluruh alam semesta ini ke dalam telur ayam?

Nah, cobalah Anda jawab... gimana? 

Sekali lagi, ada 3 kemungkinan kan:
  • Wajib aqli (pasti bisa)
  • Jaiz aqli (mungkin iya-mungkin tidak)
  • Mustahil aqli (pasti tidak)
Hati-hati Anda menjawabnya yaa, jangan salah. Tapi kalau Anda takut nanti jadi musyrik, Anda niatkan ini cuma latihan aja. Kan nggak mungkin masak latihan aja malah jadi musyrik, hehehe! Yuklah, latihan aja nggak apa.. hehehe.. Silahkan Anda pilih jawabannya tuh, A, B, atau C?

Apa mungkin jawabannya adalah, wajib aqli (pasti bisa)? Kalau wajib, itu kan artinya tidak ada alternatif lain yang bisa dibenarkan. Berarti sekarang kita wajib di dalam telur ayam dong? Benerkah begitu?

Baiklah, biar memudahkan Anda, kita lihat dulu apa jawaban si Kiyai yang salah, yang sampai-sampai bikin setan kesenengan. Nah, ternyata, sang kiyai menjawab C, mustahil. Begitu Kiyainya jawab gitu, langsung lari. Betul kan begitu jawab langsung musyrik, hehehe!

Tentu saja jawaban sang Kiyai itu salah, karena tentu Allah bisa-bisa aja memasukkan alam semesta ke telur ayam. Jangankan gitu, menghapus kita semua beserta alam semesta ini saja bisa. Itu hanya perkara yang mudah. Tinggal Kun! fa, yakun!

Ada baiknya juga coba Anda kaji ulang skill pemikiran kelas menengah, biar Anda mudah paham.

Sudah? Kalau sudah, pastilah Anda paham, bahwa jawabannya adalah, Jaiz aqli. Tentu pula jangan lupa bahwa sifat jaiz bagi Tuhan, berbeda dengan sifat jaiz pada manusia. Kalau pada manusia, mungkin bisa-mungkin tidak. Kalau pada Tuhan, mungkin mau-mungkin tidak, terserah Tuhan.

Jadi, begitulah..

Nah, masih ada 1 soal ujian lagi nih. Tapi nggak ngeri-ngeri banget. Silahkan nanti Anda jawab, karena saya yakin insya Allah Anda bisa. Sekarang, pertanyaan ini dari orang Kristen nih. Namun tetap hati-hati, karena kalau Anda salah jawab, bisa-bisa Anda jadi orang Kristen. Hehehe! Karena pondasi akalnya orang Kristen itu, bisa dilihat dari pertanyaan ketiga ini, beserta jawabannya.

Soal #3: Jika Tuhan Maha Kuasa, mampukah Tuhan menciptakan Tuhan?

    Tuhan anak gitu misalnya. Tahukah Anda apa jawabannya? Selalu ada 3 kemungkinan jawabannya:
    • Wajib aqli 
    • Jaiz aqli
    • Mustahil aqli
    Kalau Anda jawab mustahil aqli, selamat! Jawaban Anda bener! Berarti Anda udah makin jago sekarang, hehehe!

    Tapi, emangnya kalau orang Kristen itu menjawab apa? Orang Kristen itu menjawab jaiz. Karena, mereka memahami bahwa, "Tuhan itu Maha Kuasa, Maha Menciptakan segala-galanya! Menciptakan alam semesta dari tidak ada menjadi ada aja bisa! Apalagi cuma menciptakan tuhan Yesus? Yesus itu kan ciptaan Tuhan! Apakah nanti disebutkan tuhan anak, tuhan istri, tuhan roh kudus."


    Jika Tuhan Maha Kuasa, mampukah Tuhan menciptakan Tuhan?

    Anda masih ingat kan maksud dari mustahil aqli? Maknanya itu, dibayangkan aja nggak bisa. Nggak ada peluang sekecil apapun. Kalau jaiz, itu tetap mungkin aja walaupun kemungkinan kecil. Seperti misalnya, bisakah kita membuat roti yang gedenya segede pulau jawa? Mungkin-mungkin aja. Meskipun kemungkinan kecil, tapi akal kita bisa membayangkannya.

    Kalau hal yang udah jelas mustahil, tapi ada orang yang bilang hal itu memungkinkan dan bisa dibayangkan, berarti dia gila. Karena nggak mungkin terbayangkan mah kalau udah mustahil. Apalagi dipraktekkan?

    Contohnya, kayak film Terminator tuh. Coba Anda jawab, mungkinkah seorang anak melahirkan ibunya? Mungkinkah? Mustahil! Ceritanya itu kan, ada orang dikirim ke masa kini, untuk meyelamatkan seorang wanita. Karena wanita itu akan menghasilkan keturunan, nanti keturunannya itu akan mengalahkan musuh-musuhnya.

    Kemudian, musuh di masa depan itu mengirimkan Terminator, untuk membunuh wanita itu. Dan keturunannya wanita itu dikirim ke masa sekarang, untuk menyelamatkan wanita itu. Kemudian, karena diselamatkannya sembari dibawa kemana-mana, akhirnya jatuh cintalah ia, dihamili, hingga hamil. Setelah dihamili, ternyata yang hamil itu, anaknya itu kemudian menghasilkan anak, anaknya yang menyelamatkan itu yang menghamili itu. Itu kalau diterima gitu, apa nggak gilak semua itu yang nonton? Hehehe!

    Begitu pula dengan soal #3 ini. Kalau Tuhan Maha Kuasa, mungkinkah Tuhan menciptakan tuhan? Yah tinggal kita bahas aja dulu apa definisi "Tuhan"?  Tuhan itu kan Pencipta. Kalau ada Tuhan menciptakan tuhan, berarti tuhan yang kedua itu makhluk (ciptaan), nggak bisa disebut Tuhan. Cuman makhluk aja, tapi disebut tuhan, dituhankan oleh manusia.

    Jadi, begitulah..
    إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”


    [QS. Al-Baqarah: 164]
    َأَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?”


    [QS. Al-Ghaasyiyah: 17]
    وَإِلَى السَّمَاء كَيْفَ رُفِعَتْ
    “Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?”


    [QS. Al-Ghaasyiyah: 18]
    وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ
    “Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?”


    [QS. Al-Ghaasyiyah: 19]
    َوَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
    “Dan Bumi bagaimana ia dihamparkan?”


    [QS. Al-Ghaasyiyah: 20]
    فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَباً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ
    “Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam”


    [QS. Al-An’am: 76]
    فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغاً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ
    “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat".”


    [QS. Al-An’am: 77]
    فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَـذَا رَبِّي هَـذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ
    “Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”.


    [QS. Al-An’am: 78]
    إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفاً وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
    “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”.


    [QS. Al-An’am: 79]

    Kesimpulan Sejauh Ini

    Kesimpulannya adalah: pertanyaan dari  mana asal-muasal manusia? dari mana asal-muasal alam dan kehidupan ini? Akal kita bisa menjawabnya. Bahwa, pasti ada Penciptanya. Penciptanya itu bersifat azali, wajibul wujud.


    Jadi kalau ada yang masih hobi dengerin dongengnya Darwin yang bilang asal-muasal manusia itu dari kera, kemudian mempercayainya, erase it now. Kalau ada yang masih percaya sama dongengnya Darwin itu, mohon maaf, berarti dia orang gila.


    Persoalan Berikutnya

    Pertanyaan berikutnya.. sekiranya akal manusia sudah dapat memastikan keberadaan Sang Pencipta, apakah itu saja sudah cukup? Terlebih lagi, kalau memang nanti seluruh manusia di Bumi ini percaya dengan keberadaan Tuhan, apakah seluruh permasalahan bisa beres? Termasuk apakah masalah Mici VS Pak Hakim sebelumnya bisa beres hanya dengan meyakini eksistensi Tuhan? Belum tentu.

    Namun, faktanya, menurut data, hampir 90% penduduk di Bumi ini percaya adanya Tuhan. Berarti, yang atheis cuman sekitar 10%. Sisanya, dia itu beragama, atau dia itu agnostik (percaya adanya Tuhan, tapi tak percaya agama. Selangkah lebih maju dari atheislah, hehehe).

    Udah gitu, hampir semua negara yang berdiri di muka bumi ini selalu didasari oleh kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Amerika pun juga percaya Tuhan, sampai-sampai dicantumin di duitnya. Tetapi, mengapa Bumi ini tidak semakin aman, tidak semakin makmur, dan tidak semakin damai? Apalagi terkait masalah sosial, kenapa selalu ada perdebatan?

    Bagi manusia, percaya kepada adanya Tuhan saja tidak cukup! Termasuk bagi landasan negara! Manusia harus terus berfikir, berfikir dan berfikir, menggunakan akalnya. Hingga sampai kepada pertanyaan aqidah yang berikutnya, yaitu: Apa tujuan hidup manusia di dunia ini?
    hakikat tujuan hidup manusia

    Jawaban dari pertanyaan inilah, yang nanti mampu mengubah dunia, dan yang akan membuat manusia bangkit!

    Itu sebabnya, kalau ada orang yang katanya mau mengubah dunia, belum cukup kalau cuman membahas kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    Yang bisa mengubah segala-galanya, adalah pertanyaan aqidah yang kedua ini. Jika kita telah meyakini bahwa Tuhan itu Pencipta kita, maka pertanyaan berikutnya adalah, apa tujuan Pencipta menciptakan manusia?

    Yah, orang yang sebejat apapun, kalau dia mikirin ini, insya Allah dia bisa berubah total, kalau mau berangkat dari pertanyaan ini.. Renungkan saja.. "Sebenarnya aku ini hidup untuk apa....??", "Sebenarnya aku ini hidup untuk apa....??", "Sebenarnya aku ini hidup untuk apa....??"


    Pertanyaan Aqidah #2: Apa Tujuan Hidup Manusia?

    Langsung saja... menurut Anda, apa tujuan hidup manusia? Sama seperti pembahasan sebelum-sebelumnya, kita harus bisa menemukan, apa jawaban yang pasti benar? Yang mana semua manusia pasti akan ikut mengiyakannya, sepakat 100%. Tidak boleh mungkin benar-mungkin salah.

    Terus, gimana caranya biar kita bisa tahu? Gini aja, kita temui aja manusia-manusia, kemudian kita tanyain satu per satu.

    Meski kemudian ketika ditanyain, malah ketemu jawaban-jawaban yang berbeda-beda. Diantaranya adalah sebagai berikut:

    Jawaban #1. Untuk Mencari Makan?

    Ada yang bilang bahwa tujuan hidup manusia itu untuk makan. Mau orang kurus atau orang gendut, jawabannya sama, hidupnya sama-sama untuk mencari makan. Hehehe!

    Jawaban #2. Untuk Mencari Kekayaan?

    Ini juga banyak yang gini. Sampai-sampai banting tulang, peras keringat, kaki di kepala, kepala di kaki, jadilah 14P: pergi pagi pulang petang pinggang pegel pala pusing penghasilan pas-pasan pas pensiun penyakitan, hehehe! Kenapa mereka seperti itu? Karena biar dapat duit, biar tambah kaya katanya.

    Jawaban #3. Untuk Bersenang-Senang?

    hidup-untuk-senang-senang
    Naah ternyata ada yang bilang tujuan hidupnya untuk bersenang-senang. Maka adalah orang yang cerita, "Gue udah pernah pergi ke Malaysia.. pernah ke Singapura.. ke Inggris juga.. Amerika apalagi.. Jepang pun pernah.. Korea pernah.. Paris pun nggak ketinggalan.. Tidak hanya itu, masakan-masakan di dunia ini pun semuanya udah pernah saya cicipi.. "

    "Memang bener ya, buktinya cek aja di Instagramnya, di Path, dan di Facebook. Mulai dari foto tempat, sampai foto makanan, insya Allah asli semua itu bukan editan." misal gitu katanya..

    Kemudian ketika dia ditanya, kenapa kok Kamu suka keliling-keliling dunia, plus selfie-selfie gitu, sebenarnya tujuan hidupmu apa? Lalu dijawabnya, "Tujuan hidup saya untuk bersenang-senang. Hidup itu kan cuma sekali. Nanti kalau udah mati, nanti nyesel loh! Nggak bisa berseneng-seneng lagi! Hidup ini singkat bingits!"

    Hahaha.

    Jawaban #4. Untuk Kawin?

    Ini katanya yang jawab udah jujur banget nih. Capek-capek belajar pas SD, dimarahin orang tua, dimarahin guru, dapet nilai jelek dan ranking jelek malu sama temen. Udah capek dia begitu, malah mau jadi begitu lagi lanjut SMP. Udah capek dia begitu, malah mau jadi begitu lagi lanjut SMA. Udah capek dia begitu, malah mau jadi begitu lagi lanjut kuliah. Udah gitu, pengen lagi S2 + S3.

    Ditanya, buat apa begitu? Yah biar bisa kawin. Karena katanya lulus S1 aja ngelamar kerjaan susah, apalagi ngelamar anak orang? Yah kuliah lagilah S2. Namun masih susah juga, yah kuliah lagi S3. Barulah diterima kerja. Insya Allah dengan begitu diterimalah kalau ngelamar anak orang.

    Jadi intinya, hidup untuk apa? Untuk kawin, katanya. Hehehe!

    Jawaban #5. Untuk Menjadi Orang Terkenal di Dunia?

    Woaah barangkali ini orang pinter ini :D Mati-matianlah dia ikut lomba nyanyi-nyanyi joget-joget idol indol bandol pentol atau apalah itu yang biasa di TV. Supaya apa, yah supaya jadi terkenal. Kan tujuan hidup ini untuk jadi orang terkenal, katanya.

    Jawaban #6. Untuk Menguasai Dunia?

    Naah ini mungkin yang lebih hebat lagi nih.. :D Biasaya dia punya kelebihan, ntah mungkin dia rank 1 di Sekolah, jago anu, punya skill anu, punya benda anu, pernah anu, dan anu-anu yang langka lainnya.

    Jawaban #7. Untuk Memakmurkan Dunia?

    Barangkali yang ini agak mirip dia seperti orang yang mau menguasai dunia, tapi mungkin ini lebih hebat lagi kali ya?

    Jawaban #8. Untuk Beribadah?

    Nah, kemudian, ketemulah ada orang yang mengatakan bahwa tujuan manusia adalah, untuk beribadah. Kata orang Jakarta, itu. Kata orang Bandung, itu. Kata orang Jogja, itu. Kata orang Medan, itu. Kata orang Aceh, itu. Kata orang Gorontalo, itu. Malahan sampai-sampai orang Malaysia, Inggris, juga ada yang bilang gitu. Tapi, itu sih masih katanya yaa. Biar bisa dibenarkan seluruh manusia, haruslah ada argumennya yang kuat nan pasti.

    Jawaban #9. Untuk Menjadi Wakil Tuhan di Dunia?

    Lumayan.. :D Lumayan apa? Ntahlah saya juga nggak tahu, hehehe!

    Jawaban #10. Untuk Mendapatkan Ridha Allah?

    Sekilas jawaban ini mirip dengan jawaban yang ke-delapan. Namun, belum tentu semua orang sepakat kan? Coba tanya orang Jepang, apa ada yang sepakat kalau tujuan hidupnya untuk mendapatkan ridha Allah? So no baai, hontou ni subarashi da! Hehehe!

    Nah, itulah 10 jawaban yang didapat, dari beberapa orang yang ditanya tentang apa tujuan hidup manusia. Maka, sekarang, saya mohon silahkan Anda pilih, yang mana jawaban yang pasti benar menurut akal manusia?

    Apakah Anda suka jawaban yang nomor 4? Nomor 1? Nomor 7? Nomor 11? Ingat, kita tidak boleh memilih karena suka atau tidak suka. Tapi harus karena memang benar menurut akal kita.

    Oh iya, ngomong-ngomong, saya punya temen di Bandung ini.. Namanya Mas Dhammy. Kebetulan kemarin si Mas Dhammy ini baru dari Malaysia. Nah, pas udah pulang ke Indonesia, terus beliau main-main ke kost-an saya, sambil beliau bawa oleh-oleh yang keren banget, yaitu, beberapa gantungan kunci.. Kebetulan saya suka..

    Anda mau nggak? Kalau mau, boleh, biar saya kasih ke Anda. Tapi, ada syaratnya. Syaratnya, Anda harus bisa menebak dengan benar, apa tujuan si Mas Dhammy memberikan oleh-oleh berupa gantungan kunci super keren ini ke saya?

    Barangkali Anda akan menjawab:
    • "Biar si Mas Dhammy itu Kamu kenang terus Dan.." Benar! Benar-benar salah maksudnya, hehehe!
    • "Untuk ngasih tahu aja bahwa rupanya beliau baru dari Malaysia.." Bagus! Tapi masih salah, hehehe!
    • "Untuk dijual lagi itu", Pas! Pasti salah, hehehe!
    • "Agar Kamu senang Dan.." Alhamdulillah, jawabannya salah, hehehe!
    • "Biar Kamu juga jalan-jalan ke Malaysia Dan.." Iya, itulah dia, jawaban yang salah, hehehe!
    Jawabannya sebetulnya sederhana, karena kemarin pas saya nge-chat dengan beliau di BBM, saya nggak sengaja nyeletuk minta oleh-oleh, jadinya beliau sediain apa aja oleh-oleh yang ada, gitu aja, hehehe!

    Kenapa jawaban Anda di atas nggak ada yang bener? Karena, Anda terjebak dengan pertanyaan tersebut, apa tujuan si Mas Dhammy memberikan oleh-oleh tersebut ke saya?

    Sejatinya, semua akal manusia tidak dapat menentukan jawaban yang pasti benar. Apapun jawaban itu, bisa jadi salah, selama Anda tidak diberitahu apa jawabannya. Dengan kata lain, semua jawaban Anda itu nilainya jaiz aqli, bisa benar, bisa salah.

    Nah, begitu pula 10 jawaban dari pertanyaan apa tujuan hidup manusia di atas, semuanya itu jaiz. Mau Anda tambah jadi 20 jawaban, jadi 30 jawaban, 50, bahkan 100, 1.000, tetep aja semua jawabannya itu jaizBisa benar, bisa salah. Semuanya itu relatif. Tidak ada yang benar, tidak ada yang salah.


    maksud akidah islam

    Mau tahu jawaban yang pasti benar? Yah harus diberitahu dulu jawaban yang benarnya apa, barulah Anda bisa tahu yang benar. Kayak oleh-oleh tadi itu, kenapa si Mas Dhammy ngasih itu? Anda semua nggak tahu apa jawaban yang benar. Anda bisa tahu jawaban yang pasti benar, ketika saya sebagai penanya memberikan jawaban yang benarnya.

    Maka, haruslah kita ganti pertanyaannya. Bukan apa tujuan hidup manusia, melainkan, apa tujuan Pencipta menciptakan manusia?


    tujuan hidup manusia menurut Islam

    Mari kita tulis ulang judulnya..

    Pertanyaan Aqidah #2: Apa Tujuan Pencipta Menciptakan Manusia?

    Itu sebabnya, Anda yang sudah membuktikan dan mempercayai keberadaan Pencipta, tidak perlu mencari-cari dan mengarang-ngarang apalagi memilih-milih apa tujuan hidup manusia. Anda hanya perlu cukup mencari informasi dari Sang Pencipta, apa tujuan Pencipta menciptakan manusia?

    Begitu pula ketika Anda ditanya, kenapa si Mas Dhammy ngasih oleh-oleh gantungan kunci itu? Biar gampang, Anda yah harus mencari informasi ke si Mas Dhammy. Misalnya Anda minta nomor HP-nya, atau BBM-nya, atau akun facebook-nya, atau jarkom lainnya gitu. Kan enak, dengan begitu, Anda bisa langsung dapat jawaban yang pasti benar.

    Jadi kalau manusia mau tahu apa tujuan hidup manusia, seharusnya manusia itu mencari informasi dari Penciptanya.

    Makanya semua kerja akal manusia yang nebak-nebak apa tujuan hidup manusia, kerja para filsuf, dan sebagainya, itu semua sebetulnya sia-sia. Apapun jawabannya, ketika mereka memaparkan hakikat manusia itu apa, tujuan hidup manusia itu untuk apa, semua itu relatif. Mungkin benar, mungkin salah.

    Begitulah.. jadi, kalau mau tahu jawaban yang pasti tujuan hidup manusia, manusia harus dapat informasi dari Pencipta. Maka dari itu, ada 3 kemungkinan:
    • Manusia langsung mencari informasi kepada Sang Pencipta
    • Pencipta memberi informasi kepada manusia
    • Pencipta tidak memberi informasi apa-apa
    tujuan diciptakannya manusia

    Kemungkinan pertama, manusia langsung mencari informasi kepada Sang Pencipta. Silahkan, apa Anda punya nomor HP Sang Pencipta? Kalau punya, telpon sekarang juga! Tanya apa tujuan hidup kita! Kalau Anda nggak punya, yaudah, besok kita bareng-bareng naik pesawat dateng ke Rumah Pencipta, terus kita tanyain. 

    Kemungkinan kedua, Pencipta memberi informasi kepada manusia. Kemungkinan ketiga, Pencipta tidak memberi informasi apa-apa ke manusia.

    Yang mana yang paling mungkin? Tentu, yang kedua. Itu yang paling masuk akal, Pencipta memberikan informasi kepada manusia.

    Oleh karena itu, selama Pencipta tidak memberi informasi, manusia tidak akan tahu hakikat hidupnya itu untuk apa. Silahkan Anda cari..

    Namun, bagaimana ceritanya kalau nggak ketemu informasi apa-apa yang didapat? Kalau memang sampai tidak ada informasi apa-apa dari Tuhan, berarti manusia itu BEBAS menjalani hidup ini mau seperti apapun juga. Semua jawaban Anda jadi benar.
    • Anda tanya ke orang apa tujuan hidupnya, dia jawab buat kawin, yaudah biarlah dia kawin-kawin terus. Ada yang bisa menyalahkan? Kalau mau menyalahkan, argumennya apa?
    • Ada yang bilang tujuan hidupnya bersenang-senang, yaudah sana keluyuran jalan-jalan terus, silahkan.
    • Ada yang bilang tujuan hidupnya untuk makan, yaudah sana makan-makanlah terus.
    • Ada yang bilang mencuri itu hukumnya dipenjara, yaudah biarlah dia bilang gitu.
    • Pokoknya manusia mau ngapain aja, mau berbuat apa aja, mau hidup yang kayak apapun, silahkan! Nggak ada yang bisa menyalahkan! Emang Tuhan ngelarang gitu?
    Kalau memang seandainya Tuhan nggak menurunkan informasi apa tujuan hidup manusia, kemudian manusia hidup seenak-enak manusia aja, tapi besok ternyata Tuhan malah menyalahkan manusia, silahkan manusia protes ke Tuhan.

    Kalau nanti Tuhan nanya, "Kenapa Kamu kok berzina?" Silahkan itu manusianya bilang aja, "Emangnya salah apa? Kan berzina itu enak! Orang Amerika aja suka! Disuruh nikah nggak mau! Kumpul kebo ajalah!"

    Namun, bagaimana ceritanya kalau ternyata manusia dapat informasi dari Sang Pencipta? Terus gimana tuh? Kalau memang ada, maka, berikutnya manusia tinggal membuktikannya saja, apa bener itu informasi dari Pencipta, atau bukan.

    Nanti, manusia itu akan mengikuti suatu informasi itu, kalau memang terbukti benar bahwa informasi itu dari Sang Pencipta.

    Maka dari itu, berhati-hatilah Anda dengan informasi. Misalnya nih, tiba-tiba saya dapat SMS, rupanya katanya yang nge-SMS itu ayah saya. Katanya itu ayah saya mau ngirim duit 100 juta buat saya, karena Rumah saya di Medan barusan terjual. Cuman tinggal nunggu jawaban saya aja nih, mau atau nggak. Kalau mau, biar dikirim. Kalau nggak mau, yaudah, nggak usah.

    Menurut Anda, cocok nggak saya dapat duit 100 juta gitu? Yah cocok-cocok aja, Ayah saya lebih paham yang cocok itu gimana, daripada saya. Memang itu kan hak ayah saya. Siapapun bisa dapat tuh duit itu, kalau memang ayah saya mau ngasihnya.

    Sayangnya... walaupun saya ini memang lagi butuh banget duit 100 juta, saya ini anak kandungnya, saya ini memang udah bertahun-tahun tinggal di Rumah yang terjual itu, pokoknya cocok bangetlah dapat duit 100 juta itu, tapi ternyata ketahuan bahwa yang nge-SMS itu bukan ayah satya. Itu orang iseng, orang nipu, palsuuuu, yah buat apa bahas cocok atau nggak cocok? Hehehe!

    Itu sebabnya, kalau ada yang bilang dia dapat informasi dari Sang Pencipta, kita harus membuktikan apakah informasi itu benar-benar benar dari Sang Pencipta. Kalau bener, yah siap-siap kita ikuti, apapun itu nanti, terlepas kita suka atau nggak suka, hobi atau males. Tapi kalau palsu, yaudah abaikan aja.


    tujuan hidup manusia menurut agama islam

    Iya, harus kita periksa! Siapapun manusia itu yang coba-coba ngaku membawa informasi dari Sang Pencipta, harus kita periksa!
    • Misal, ada orang namanya Sang Budha Gautama membawa Tripitaka. Katanya, "Ini Tripitaka ini dari Tuhan yang Maha Esa nih!" Kita periksa dulu, bener nggak nih katanya Kitab Suci ini bener-bener dari Sang Pencipta?
    • Begitu pula kalau ada orang yang ngaku dapat info dari Pencipta, namanya Yesus Kristus, membawa kitab suci Injil, harus kita periksa! Bener nggak nih Injil dari Pencipta?
    • Ada Kitab Weda yang juga katanya itu berupa info dari Pencipta, harus kita periksa juga itu!
    • Ada Kitab Al-Qur'an, harus kita periksa juga! Bener nggak ini dari Pencipta?
    periksa-informasi
    Jangan tergesa-gesa Anda membenarkannya. Harus kita buka dulu, lihat dulu, cek, bener nggak tuh dari Pencipta? Terus, nanti, kalau rupanya kita udah bisa memastikan dengan akal kita sebagai manusia, ternyata benar, maka kita harus siap mental. APAPUN nanti yang diinformasikan dari Pencipta, kita harus sami'na wa atha'na. Harus patuh, siap untuk mengikuti apa kataNya, tanpa tapi.

    Kalau misalnya nanti pas kita lihat di kitab suci yang benar itu ada jawaban dari apa tujuan hidup manusia, ternyata Sang Pencipta menyuruh manusia untuk bunuh diri saat itu juga! Siap nggak Anda? Tentu! Harus siap! Anda harus segera bunuh diri sekarang juga! 

    Anda jangan tertawa ya! Coba Anda bayangkan Anda jadi Nabi Ibrahim, disuruh apa coba? Bukan main-main. Nabi Ibrahim itu, selama berpuluh-puluh tahun merengek-rengek, tiap malam minta sama Allah supaya dikaruniain anak, dikaruniain anak, dikaruniain anak, kalau nggak salah doanya itu selama 40 tahun! Tiap hari tahajjud terus, nggak pernah berhenti, minta anak terus! 40 tahun kemudian, barulah Allah mengaruniai beliau seorang anak.

    Ketika anaknya udah besar, umur anaknya itu udah sekitar 6 atau 7 tahun, tahukah Anda Nabi Ibrahim itu dapat perintah apa dari Allah? Disuruh nyembelih anaknya! Kira-kira kalau Anda dapat perintah seperti itu gimana? Ada orang yang malah bilang, "Niat jadi Tuhan nggak sih?!" Hehehe! Kenapa dia bilang gitu? Yah karena dia pake perasaan, nggak pake akal.

    Kalau pake akal, pasti akan berpikir apakah benar itu perintah dari Tuhan? Kalau bener, harus siap! Kalau Anda disuruh nyembelih istri? Bah? :'V Nyembelih orang tua? Apalagi.. :'V

    Karena memang kan sering sekali, apa-apa yang harus kita lakukan itu, kadang rasanya enak, kadang rasanya nggak enak. Pun juga apa-apa yang harus kita tinggalkan itu kadang rasanya nggak enak, kadang enak. Namun, bukan soal enak atau tak enaknya yang penting, melainkan soal benar atau salahnya.

    Cobalah seandainya nanti kalau kita dapat perintah perang, siapkah Anda? Jangan sampai nanti malah lari. Namun ketika seandainya nanti Anda dapat perintah disuruh nikah lagi, malah langsung siap untuk melaksanakan. Jangan based on emotional seperti itu, tapi harus based on the truth. Tanyalah, apakah bener perintah itu berasal dari Tuhan?

    Maka dari itu, ayo, sekarang kita periksa mana kitab suci yang benar-benar berasal dari Tuhan, dan mana yang salah? Namun, biar lebih menghemat waktu, ada baiknya kita cukup mencari satu saja yang benar, tidak perlu mencari kesalahan-kesalahan kitab yang lainnya terlebih dahulu.

    Ibarat ujian multiple choice, ada pilihan A, B, C, D, dan E. Kita bisa menghemat waktu hanya mencari mana yang benar dulu, untuk mengetahui kesalahan opsi lainnya bisa nanti-nanti saja.

    Lantaran memang ketika kita sudah bisa tahu bahwa ada satu pilihan yang pasti benar, maka otomatis pilihan yang lainnya pasti salah.

    Nah, saran saya, coba yang pertama-tama kita periksa itu adalah sebuah kitab suci yang bernama Al-Qur'an, yang dibawakan oleh seseorang bernama Muhammad. Ayo kita cek!

    Caranya gimana? Yah kita gunakan akal kita. Kok pakai akal terus? Yah sebagaimana yang sudah kita bahas di artikel Panduan Dasar Cara Mendapatkan Kebenaran yang PastiAlat mencari kebenaran kan cuman ada 2, akal dan perasaan. Perasaan tak bisa mengantarkan pada kepastian, sedangkan akal bisa.


    Proses Keimanan Terhadap Rasulullah Saw dan Al-Qur'an

    Pertama-tama, seperti biasa.. kan sebelumnya kita telah membahas manusia, kehidupan, dan alam semesta, kita coba mengindera apa sih fakta-fakta yang ada pada 3 hal tersebut? Nah, begitu pula ketika kita mengindera Al-Qur'an ini, apa sih fakta-fakta yang pasti ada di Al-Qur'an ini? Pernyataan pasti apa yang dapat dibenarkan oleh setiap akal manusia siapapun kapanpun dan dimanapun, terhadap Al-Qur'an itu? Tidak lain dan tidak bukan, satu hal fakta yang pasti yang ada pada Al-Qur'an adalah, Al-Qur'an itu berbahasa ArabRight? Kalau ada yang tidak setuju, mungkin dia orang gila.

    Sekarang, dengan diketahuinya bahwa Al-Qur'an ini berbahasa Arab, berarti kita semakin dekat dengan pembuktian bahwa kitab suci tersebut apakah memang dari Sang Pencipta, atau dari manusia yang berbohong sok-sok ngarang? Berarti, ada 3 kemungkinan:
    • Al-Qur'an itu karangan orang Arab
    • Al-Qur'an itu karangan Muhammad
    • Al-Qur'an itu memang dari Sang Pencipta
    Begitulah...



    Mari kita telaah satu per satu...

    Kemungkinan #1. Al-Qur'an itu Karangan Orang Arab?

    Ada yang bilang bahwa Al-Qur'an itu karangan orang Arab, karena tulisannya berbahasa Arab. Benarkah seperti itu? Ternyata, tidak. Seluruh bangsa Arab pernah ditantang oleh Al-Qur'an untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur'an.


    وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا۟ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِۦ وَادْعُوا۟ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ اللّٰـهِ إِن كُنتُمْ صٰدِقِينَ
    Dan jika kalian dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka datangkanlah satu surat yang sepertinya dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar.


    [QS. Al-Baqarah: 23]
    أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُواْ بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُواْ مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
    “Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Qur'an itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar".”


    [QS. Huud: 13]
    أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِّثْلِهِ وَادْعُواْ مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِين
    “Atau (patutkah) mereka mengatakan: "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar".”


    [QS. Yunus: 38]
    Dan kemudian gimana hasilnya? Seluruh bangsa Arab pun menerima tantangan tersebut. Lalu merea mencoba membuat yang serupa dengan Al-Qur'an,. Sampai-sampai yang mastah-mastah syair, suhu-suhu syair, dan cikgu-cikgu syair waktu itu berlomba-lomba untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur'an ini. Namun, ternyata, tak ada satu pun orang bangsa Arab yang mampu...

    Setiap kali ada orang yang membuat, langsung buatannya itu ditertawakan oleh temannya sendiri. Soalnya nggak level banget.. Ada lagi yang buat, malah tambah lucu lagi.. Sangkin anehnya, ada yang membuat surat kodok, "Kodok.. apakah kodok itu?? Kodok itu.." Halah.


    sumber aqidah islam apa?

    Maka dari itu, kemungkinan yang pertama (Al-Qur'an adalah karangan bangsa Arab) ini bathil. Alias, salah.


    Kemungkinan #2. Al-Qur'an itu Karangan Muhammad?

    Ada yang bilang bahwa Al-Qur'an itu karangan Muhammad, karena Muhammad yang membawa Al-Qur'an itu. Makanya mereka mengatakan Islam itu sama dengan Muhammadanism. Malahan nggak mau menyebut kata "Islam". Karena intinya, katanya kitab suci itu adalah agama buatannya si Muhammad.

    Benarkah kemungkinan yang kedua ini? Yah tinggal dipikirkan benar-benar saja, tidak mungkin. Argumen pertama, coba, wong seluruh bangsa Arab aja nggak ada yang bisa mendatangkan yang semacam Al-Qur'an, apalagi salah satu bangsa Arab yaitu Muhammad sendirian? Lantaran kan Muhammad itu termasuk bangsa Arab. Maka dari itu, tidak mungkin kitab Al-Qur'an ini dikarang oleh Muhammad.

    Kemudian, argumen kedua, ternyata Muhammad juga menyampaikan hadits mutawatir. Hadits mutawatir itu maksudnya hadits yang sampainya periwatannya itu kepada kita secara tawatur. Secara jamai ke jamai, ada banyak yang meriwayatkan.

    Kemudian, argumen ketiga, kita saksikan, seluruh gaya bahasa (ushlub) Al-Qur'an dan hadits itu tidak ada yang sama. Oleh karena itu, tidak mungkin ada manusia yang bisa memiliki 2 gaya sekaligus secara terus-menerus seumur hidupnya.

    Coba deh simak seseorang yang barangkali sudah tak asing Anda saksikan, misalnya Pak Mario Teguh. Gaya ngomongnya beliau itu dari dulu sampai sekarang seperti itu terus. Mas Ippho Santosa, pun memiliki ciri khasnya tersendiri. Mas Jaya Setiabudi, juga begitu, punya ciri khas cara bicaranya sendiri. Ustadz Felix pun juga sering bilang, "Bisa dipahami kira-kira maksud saya?", "..jadi kira-kira begitu.." karena itu ciri khas bicara dirinya.

    Yang lebih terkenal lagi, lihatlah tiap-tiap gaya presiden di Indonesia ini. Gaya Pak SBY beda banget kan dengan gaya Pak Jokowi?


    setiap-pembicara-punya-ciri-khas

    Pun teman-teman se-Kontrakan saya yang sama-sama aktivis dakwah, saya juga tahu masing-masing ciri khas mereka bagaimana ketika mengisi, ada yang medok banget logat jawanya, ada yang nampak kali logat Medannya, ada yang tak bisa lepas pakai kosakata bahasa Sunda, ada yang suka main-mainin benda di Sekitarnya, ada yang selalu bilang, "Gitu yaa..", dan sebagainya.. Saya pun demikian. Dan memang setiap orang itu memiliki style ngomongnya masing-masing.

    Begitu pula ketika Muhammad menyampaikan hadits itu berbeda dengan ketika menyampaikan Al-Qur'an. Bahkan sekiranya kita tak ngerti bahasa Arab, insya Allah kita bisa membedakannya.

    Misalnya saja ketika Anda nonton film luar negeri, ntah itu movie Amerika, anime Jepang, drama Korea, dan lain-lainnya, ketika sedang tidak ada menampilkan karakter siapa-siapa, namun hanya ada suara-suara saja, Anda bisa membedakannya kan bahwa suara yang lagi ngomong pertama itu suara siapa, dan suara berikutnya yang membalas itu suaranya siapa?

    Contoh faktanya lainnya lagi nih. Pernah ada seseorang yang lagi sholat shubuh berjamaah di Mesjid, sebagai makmum. Imamnya adalah seseorang kakek-kakek yang sudah cukup tua. Nah, ketika raka'at kedua, setelah membacakan surat al-fatihah, kaket tersebut membacakan sesuatu yang asing.

    Kemudian seseorang yang jadi makmum itu merasa aneh, "Kok nggak pernah denger nih surat.. Surat apa ya nih..." yasudahlah sebagai makmum, ngikutin aja. Ntar kalau udah selesai, coba tanyain..

    Begitu selesai sholat, dzikir, do'a, lalu bubar. Kemudian, langsung ia samperin sang kakek itu, "Pak.. Pak..".

    Kakek itu menyaut, "Ada apa?".

    Dia nanya, "Itu tadi Pak.. pas rakaat kedua, setelah Bapak selesai baca surat al-fatihah, bapak baca surat apa ya Pak??"

    Dijawab sang Kakek, "Ya baca ayat Al-Qur'an lah."

    "Oh, surat apa Pak?" tanyanya lagi.

    "Yaa saya nggak hafal suratnya surat apa. Pokoknya dari Qur'an itu." balas si Kakek lagi.

    "Masak sih Pak, kok saya nggak pernah denger??" herannya.

    "Ah Kamu aja yang nggak hafal Qur'an." balas sang Kakek.

    "Saya pengen lihat Pak!!" penasarannya.

    "Ya lihat saja, wong itu saya hafal memang dari Qur'an kok. Di bagian belakang-belakangnya." si Kakek beritahu.

    "Ooh kalau bagian belakang mah saya juga hafal Pak. Juz 30 kan Pak?" responnya.

    "Iyaaa itu saya ambil ayat-ayat yang di belakang-belakanglah!" Tegas sang kakek.

    Akhirnya diambillah sebuah Al-Qur'an, dibukalah lembaran terakhir, ternyata di situ tercantum: do'a khatam Al-Qur'an. Hehehehehehe!!

    Bukan Qur'an itu mah! Hehehe! Seseorang yang tadi itu tahu bahwa yang dibacakan setelah surat al-fatihah pada raka'at kedua itu adalah do'a-do'a dari hadits. Walaupun belum banyak hafal, tapi bisa tahu gaya hadits itu beda dengan gaya Al-Qur'an.

    Jelas, tidak mungkin ada manusia yang bisa konsisten memiliki 2 gaya bahasa. Pun misalnya kita lagi bercanda niru-niru gaya teman kita, atau gaya siapa gitu, palingan cuman sebentar aja. Nggak bisa terus-menerus punya banyak gaya gitu.

    Maka dari itu, kemungkinan yang kedua ini juga bathil. Alias, salah.

    Meski pun begitu, ada pula yang masih kekeuh membantah. Katanya, Al-Qur'an ini disadur oleh seorang Nasrani yang bernama Jabr. Namun, hal itu juga salah. Argumen keempat, tuduhan tersebut dibantah di Al-Qur'an.
    وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَـذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ
    “Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Al Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa `Ajam, sedang Al Qur'an adalah dalam bahasa Arab yang terang.”


    [QS. An-Nahl: 103]
    Seseorang manusia disitu maksudnya si Jabr tadi itu. Katanya Al-Qur'an itu hasil plesetan. Kemudian Allah membantah, padahal si Jabr itu orang Ajam (non-Arab).

    Orang ajam itu seperti halnya kita-kita ini, tidak bisa berbahasa Arab, tidak bisa ngomong Arab. Saya, dan Anda, dan juga si Jabr, kita ini termasuk orang Ajam.

    Bagaimana mungkin Muhammad bisa belajar kepada orang yang tidak bisa ngomong bahasa Arab? Nggak akan nyambung dong kalau ngobrol. Coba kalau Anda ditaruh di Jepang tiba-tiba gitu, palingan nanti Anda komunikasi sama orang Jepangnya paka bahasa isyarat, hehehe! Ribet banget kan! Apalagi kalau mau belajar kitab, pakai bahasa isyarat? Tidak mungkin.

    Kemudian argumen kelima, Muhammad itu orang yang ummi, yaitu orang yang tidak dapat membaca dan menulis. Bagaimana mungkin orang yang tidak dapat membaca dan menulis bisa membuat karya tulis? Apalagi karya tulisnya tebal banget? Wong mahasiswa yang bisa baca-tulis aja bikin skripsi nggak beres-beres 3 tahun, hehehe!


    bukti al quran

    Profesor Keith L Moore pun terheran-heran..

    Maka dari itu, kemungkinan yang kedua ini juga bathil. Alias, salah. Tidak mungkin kitab Al-Qur'an ini dikarang oleh Muhammad.


    Kemungkinan #3. Al-Qur'an Itu Memang Berasal dari Sang Pencipta

    Berhubung kemungkinan yang pertama dan yang kedua telah terbukti salah, otomatis, kemungkinan ketiga inilah yang benar secara pasti. Ternyata betul, Al-Qur'an ini berasal dari Sang Pencipta, yang disitu terncantum, Allah Subhanahu wa Ta'ala.

    Benarlah bahwa Al-Qur'an ini adalah firman Allah, kalamullah, merupakan mukjizat untuk Nabi Muhammad SAW. Nggak main-main nih! Beruntung banget kita sekarang ini megang mukjizat nih!


    bukti kebenaran al quran

    Nah, sekarang..... saat yang ditunggu-tunggu..... yang bikin deg-deg-an..... kalau kita sudah menemukan informasi yang telah terbukti benar secara pasti berasal dari Sang Pencipta, tugas kita berikutnya adalah membuka Al-Qur'an itu.. supaya kita bisa tahu, apa tujuan Pencipta menciptakan manusia?

    Sudah siap mentalkah Anda? Kira-kira disuruh apa kita hidup di dunia ini? Sudah siap? Mari kita buka...


    Tujuan Hidup Manusia

    Hmmm.. pembahasan tujuan hidup manusia ini memang penting. Karena ketika nanti Anda sudah tahu, Anda akan bangkit! Anda akan termasuk pada orang-orang yang bangkit! Tidak seperti mereka yang ibarat katak dalam tempurung. Nggak jauh beda dengan katak. Hanya saja, mereka lebih jelek daripada katak. Yah iya punya akal sehat kok nggak mau digunakan untuk berfikir apa tujuan hidupnya?
    وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

    Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai akal, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

    [QS. Al-A'raf: 179]
    Cobalah bila tempurungnya dibuka, maka ia jadi bisa melihat terangnya dunia. Itulah titik mula kebangkitan yang hakiki. Karena kemudian ia akan menjadi manusia yang sangat semangat membara nan menyala-nyala, dalam aktivitas apa saja selama hidupnya. Baik itu ketika kerja, bisnis, sekolah, kuliah, rumah tangga, belajar, ibadah, dakwah, dan aktivitas lainnya.

    Tentu sangat berbeda dengan mereka yang kesibukannya itu berasal dari ikut-ikutan doang, dan apa-apa yang berbau "nggak enakan". Apa yang sibuk dikerjakannya itu, semata-mata supaya nggak diejek orang, dan nggak dihina orang, kemudian bila berhasil ia tangkap, maka ia akan dipuji orang. Hanya untuk memenuhi naluri dan kebutuhan hidup tanpa cara yang belum tentu benar.

    Misalnya yang nggak asing, sibuk mencari nilai akademik, mencari duit, mencari kenikmatan jasmani, dan lain-lain yang notabene niat dan tata-caranya asal-asalan. Istilah biasanya, "Hidup cuma buat perut dan sejengkal di bawah perut." Apa bedanya sama kucing, ayam, monyet, kerbau dan teman-temannya? Cuman pakai baju aja, kemudian melalui perantara duduk di Kampus atau Kantor.


    Quotes Buya Hamka

    Saya yakin dan percaya, Anda tidaklah seperti itu. Anda yang kini telah mengetahui tujuan hidup yang jelas, sangatlah berbeda dengan mereka yang tujuan hidupnya tak jelas. Buktinya, nanti ketika di keseharian Anda, Anda bersua dengan beberapa masalah, insya Allah tidak akan begitu membuat Anda stress.

    Mereka yang tak punya tujuan hidup yang jelas, ketika ada sedikit masalah saja, langsung galau. Padahal lumayan rajin jalan-jalan, makan-makan, pacaran, nonton film, tapi ntah kenapa tidak pernah mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Selalu aja stress tiba-tiba datang.

    Terlebih lagi, yang bahayanya, mereka tidak suka dengan aturan-aturan Islam, bila dari awal mereka tidak punya tujuan hidup yang jelas. Semisal mereka mendapatkan informasi bahwa hukum melakukan suatu perbuatan anu itu ternyata hukumnya haram. Aktivitas A, haram. Aktivitas B, haram. Aktivitas C, haram. Ke sini haram, ke sana haram, maju haram, mundur haram, belok haram, tiarap juga haram, langsung mumet itu. Serasa dunia runtuh.. Terus yang nggak haram apa??
    Hiduplah dengan taktik

    Apalagi bila dalam konteks bisnis. Punya aset milyaran, tapi ternyata haram? Serasa langit langsung gelap, seolah hendak runtuh, kayaknya dunia udah mau kiamat..

    Namun, bagi orang yang memiliki tujuan hidup yang jelas, itu mah masalah keciiill.. Halah, net profit cuman 1 milyar, 2 milyar, 30 milyar, apa sih itu artinya?? Dibandingkan bila itu bertentangan dengan tujuan hidup kita yang jelas. Sebab memang ada sesuatu yang jauuuh lebih besar yang mestinya kita raih, daripada sekadar duit.

    Itulah sebabnya penting bagi kita melandasi seluruh aktivitas kita di kehidupan ini, dengan landasan hidup yang benar. Dan landasan hidup yang benar itu, bisa kita miliki bila kita menjawab pertanyaan: Apa sesungguhnya tujuan hidup manusia?

    Dengan begitu, harapannya nanti Anda jadi tahu, hidup yang sesungguhnya itu bagaimana..

    Jangan sampai ini tidak dibahas. Kalau pun dibahas, jangan sampai pembahasannya keliru. Jika salah, siap-siaplah stress.. 

    Maka dari itu, mari nanti kita buka Al-Qur'an.. apapun yang dikatakan nanti, itu pasti benar. Karena bukankah sudah kita buktikan kebenarannya bahwa Al-Qur'an ini berasal dari Allah Swt?

    Baiklah, siapkah Anda? Kalau Anda belum siap, silahkan baca ulang lagi artikel ini dari awal. Karena nanti bisa jadi tidak sesuai dengan perasaan Anda. Lantaran memang perasaan tiap-tiap individu itu kan berbeda-beda.

    Baiklah, langsung saja, mari kita buka...
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.


    [QS. Adz-Dzaariyaat: 56]
    Wa maa khalaqtul jinna wal insan, illaa liya'buduun.. Kita lihat disitu ada "maa" nafiyatul jinsi. Jadi, di dalam Bahasa Arab itu, kalau kalimat nafi kemudian diikuti dengan istisna (pengecualian), maka bermakna hashr.

    Seperti halnya kalimat  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (Laa Ilaaha IllAllah)"Laa Ilaaha..." itu maknanya adalah Tuhan itu tidak ada. Di seluruh alam semesta jagat raya ini atau di mana pun itu, tidak ada Tuhan. SEMUA Tuhan itu dinafikan. Kemudian "Laa Ilaaha..." bertemu dengan "Illaa.." yang merupakan istisna (pengecualian), maka bermakna hashr. Maknanya, tidak ada Tuhan di seluruh jagad raya ini, kecuali Allah! Artinya, Tuhan itu hanya Allah!

    Sama seperti surat adz-Dzaariyaat ayat 56 tadi, "Wa maa khalaqtul jinna wal insan.." ,"maa" disitu adalah "maa" nafi. Maka bisa dipahami bahwa Allah itu tidak punya tujuan apa-apa untuk manusia. Tidak ada!  Tidak ada maksud apa-apa! Karena, semuanya telah dinafikan.

    Kemudian bertemu dengan "Illaa.." istisna (pengecualian), berarti hashr. Maknanya, berarti tujuannya hanya..

    Maka bila digabung, tidaklah Aku Allah menciptakan jin dan manusia.. Tidak ada tujuan Aku menciptakan jin dan manusia... KECUALI untuk menjadi abdiKu. Illaa liya'buduun.. Untuk menyembah kepadaKu. Untuk mengabdi kepadaKu. Untuk menjadi abdiKu. Untuk menjadi, budakNya Allah Swt.

    Jadi, tidak ada tujuan lain Allah menciptakan kita, kecuali untuk mengabdi kepada Allah Swt!

    Jadi kita tidak boleh mengabdi kepada selainNya, siapapun itu! Termasuk tidak boleh mengabdi pada nafsu diri sendiri!

    Itu sebabnya pada kalimat syahadat kita لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (Laa Ilaaha IllAllah), menggunakan kata "Illah". Karena makna "Illah" itu bukan sekadar "Tuhan". Al-Illah itu maknanya adalah Al-Ma'bud (yang diibadahi). Berarti maknanya adalah, tidak ada yang wajib kita sembah, tidak ada yang wajib kita ikuti, tidak ada yang wajib kita ta'ati, KECUALI, Allah Swt. Bisa dibilang, Laa Ilaaha IllAllah itu artinya Tidak ada Sesembahan, selain Allah.

    Anda harus tahu bahwa beda antara Rabb dengan Illah. Kalau Rabb itu, Tuhan. Kalau Illah, Sesembahan.

    Itu sebabnya Rasulullah membawakan kalimat syahadat, tidak menggunakan kata "Rabb". Makanya pula dulu itu ketika orang-orang Arab diminta mengucapkan "Laa Rabba IllAllah", mereka mau. Bagi mereka kalimat "Tidak ada Tuhan selain Allah" itu kalimat yang biasa-biasa saja, tidak masalah.

    Pun banyak ayat di Al-Qur'an yang mengatakan bahwa kalau orang-orang Arab kafir quraisy ditanya "Siapa Tuhanmu?" mereka menjawab, "Allah". Tidak ada orang Arab waktu itu yang tidak mengakui bahwa Tuhan itu adalah Allah. Sampai-sampai kan ayahnya Nabi bernama Abdullah. Nama lain Kabbah, adalah Baitullah.

    Namun, ketika mereka diminta mengucapkan "Laa Ilaaha IllAllah", mereka nggak mau. Pokoknya mereka nggak akan mau sampai kapanpun. Karena mereka paham makna Illah itu apa. Lebih dari Rabb.

    Rabb itu artinya Tuhan, dalam artian pengakuan bahwa Tuhan sebagai Rabb Yang Maha Kuasa, Yang Maha Menciptakan segala-galanya, Maha Besar, Maha Agung.

    Karena kalau mengakui Allah sebagai "Illah", maka lebih dari sekadar pengakuan bahwa Allah sebagai Pencipta. Sebab, bila orang-orang Arab itu mengakuiNya sebagai "Illah", maka akan ada konsekuensi yang saaaangat berat. Makanya ngomong doang gitu aja mereka pun nggak mau. Tahu persis maknanya.

    Al-Illah maknanya adalah Al-Ma'bud: pengabdian, keta'atan, ketundukan. Maka ketika seseorang mengucapkan "Laa Ilaaha IllAllah", berarti dia sudah saaaangat siap untuk TIDAK MENGIKUTI SIAPAPUN juga, KECUALI HANYA kepada ALLAH SWT SAJA!

    Makanya kan dalam agenda dakwah abad 21 ini, kaum Muslim itu menyerang Demokrasi. Kemudian ada segelintir orang yang berkomentar, "Hei.. dari kemarin kaliah asih mengatakan Demokrasi itu haram, Demokrasi itu haram, Demokrasi itu haram melulu.. Sekarang saya tanya dulu, mana dalilnya?! Mana ayat Al-Qur'annya?! Kalau dari hadits, haditsnya riwayat siapa?! Tunjukkan! Saya aja nggak pernah menemukannya! Ingat ya, saya ini S2 loh! Gelar saya Lc" Hehehe malah yang memprotes pakai pamer gelar segala lagi.. :V

    Padahal, seingat saya, kita tidak pernah mengatakan bahwa Demokrasi itu haram. Siapa yang bilang Demokrasi itu haram? Jangan fitnah yaa.. Yang ada itu kita bilang bahwa Demokrasi itu nizham kufur.

    Kenapa  Demokrasi itu nizham kufur? Karena Demokrasi itu bukan pelanggaran terhadap syariat, melainkan pelanggaran terhadap aqidah! Maka nggak perlu capek-capek ribet cari dalil, bisa juga dengan ingat-ingat saja pengakuan kita ketika mengucapkan 2 kalimat syahadat, notabene kita paham maksudnya bagaimana (seperti yang kita bahas di atas), otomatis, setiap aturan yang bukan berasal dari Allah Swt, wajib ditinggalkan!

    pawang-demokrasi-kapitalisme
    Sedangkan fakta Demokrasi itu, mengajarkan bahwa kedaulatan tertinggi itu di tangan rakyat! Maknanya sama dengan kata'atan tertinggi itu di tangan rakyat! Inilah kemusyrikan terbesar pada abad ini!

    Salah satu contohnya, yah seperti kisah si Mici versus Pak Hakim tadi itu. Masak kita diajak untuk tunduk patuh ta'at kepada manusia juga? Padahal, syahadat kita mengajak kita hanya tunduk patuh ta'at kepada Allah Swt saja.

    Dari pondasi aqidah-nya saja Demokrasi itu sudah salah, maka nggak perlu lagi diikuti apa-apa yang lahir darinya itu..

    Oleh karena ini, tujuan utama dari penciptaan manusia itu adalah, manusia itu harus siap ta'at, siap tunduk, siap patuh, hanya kepada Allah Swt. Apapun kata Allah, apapun perintah Allah, apapun larangan Allah, manusia harus senantiasa siap dengan itu semua. Baik suka maupun tidak suka. Sip??
    وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
    ...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui..


    [QS. Al-Baqarah: 216]
    Begitulah...

    Hmm.. teruss.. apakah masih ada ayat yang lain terkait tujuan hidup manusia??
    وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
    Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ini". Mereka berkata: "Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".


    [QS. Al-Baqarah: 30]
    Inilah tugas khusus kita. Manusia diciptakan kemudian diturunkan ke atas muka Bumi ini, untuk menjadi khalifatullah fil ardhi. Secara bahasa Khliafah itu artinya wakil (pengganti).

    Itu sebabnya ketika Abu Bakar diangkat menjadi pemimpin, diberi sebutan Khalifatur Rasul. Karena kan Rasul itu kepala Negara. Maksudnya bukan sebagai pengganti Nabi yaa.. Lantaran memang Rasulullah Saw itu sebagai Nabi, juga sebagai kepala Negara. Nah, Abu Bakar itu menggantikan Rasulullah Saw sebagai kepala Negara.

    Makanya ada juga yang bilang Umar bin Khattab itu Khalifatu Khalifatur Rasul. Tapi kan kepanjangan, maka disebut Amirul mukminin. Utsman bin Affan, disebut Khalifah lagi. Kemudian Ali, dipanggil Imam. Yaah meski dipanggil beda-beda, tapi itu sama kok..

    Nah, jadi, bila kita artikan secara bahasa, maka tugas manusia di atas muka Bumi ini sebagai wakil Allah, sebagai pengganti Allah di muka Bumi ini, untuk mengatur alam semesta, dunia, dan kehidupan ini, menurut apa-apa yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt.

    tujuan hidup manusia dalam islam

    Jangan sampai kita ngaku jadi Wakil, tapi kok nggak nurut sama Allah? Itu namanya bukan mewakili. Jangan-jangan mau mengkudeta?

    Yah, Allah sudah menetapkan aturan-aturan untuk mengatur segala perkara pada kehidupan manusia di muka Bumi ini, maka tugas manusia adalah sebagai pelaksananya. Udah, titik.

    Begitulah...

    Palingan persoalan berikutnya, kita khawatir nanti diri kita malah menjadi abdullah maupun khalifatullah yang nggak bener.. Nah, caranya jadi abdullah maupun khalifatullah yang bener itu gimana sih??

    Bagaimana Caranya Mengabdi Pada Allah, Secara Baik dan Benar?

    Caranya adalah, harus mengikuti seluruh petunjuk yang diturunkan Allah Swt.
    شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
    “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.


    [QS. Al-Baqarah: 185]
    Simaklah, berarti, di Al-Qur'an ini ada petunjukan dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk. Udah gitu, ada pula pembeda antara yang benar dengan yang salah.

    Berarti, kita bisa mengabdi kepada Allah secara baik dan benar, caranya yah ikuti Al-Qur'an.

    Jadi soal pertanyaan di awal-awal tadi itu, insya Allah setelah ini bisalah ya Anda jawab?
    • Kuliah di STAN itu benar atau salah ya?
    • Ikutin kerudung model gaul itu benar atau salah ya?
    • Bisnis MLM itu benar atau salah ya?
    • Mengambil bunga di Bank itu benar atau salah ya?
    • Pacaran itu benar atau salah ya?
    • Memakai barang orang tanpa izin itu benar atau salah ya?
    • Dan lain-lainnya
    Nggak ada alasan nanti kalau Anda masih belum tahu.. :P

    Ketahui pulalah ayat berikut ini..
    ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
    Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.


    [QS. Al-Jaatsiyah: 18]
    Pun, kan ada sebuah kaedah syara' yang berbunyi..

    [اَلأَصْلُ فِيْ الأَفْعَالِ التَّقَيُّدُ بِالْحُكْمِ الشَّرْعِي]

    Asal dari perbuatan (selalu) terikat dengan hukum syara.
    Nah, itu, hukum asal dari setiap perbuatan kita, harus terikat dengan hukum syara'. Kita harus tahu apa hukum dari setiap aktivitas kita? Apakah boleh (halal), atau tidak boleh (haram)? Apakah wajib? Sunnah? Mubah? Makruh? Atau haram?

    Kuliah itu kan termasuk perbuatan. Bisnis pun termasuk perbuatan. Berpakaian pun termasuk perbuatan. Berinteraksi dengan orang lain pun termasuk perbuatan. Karena yang namanya fakta yang bisa kita indera kan cuman ada 2. Pertama, benda. Kedua, perbuatan (atau aktivitas). Kedua hal itulah yang bisa dihukumi. Kalau benda itu cuma punya 2 hukum, halal atau haram. Sedangkan perbuatan itu cuma punya 5 hukum, itulah yang tadi, wajib, sunnah, mubah, makruh, haram.

     Maka..
    • Kita tidak boleh melakukan suatu transaksi bisnis sebelum tahu hukumnya apa
    • Kita tidak boleh langsung ngelamar kerja jadi anu sebelum tahu hukumnya apa
    • Kita tidak boleh ngambil suatu jurusan anu di Kampus sebelum tahu hukumnya apa
    • Kita tidak boleh mengenakan suatu pakaian anu sebelum tahu hukumnya apa
    • Kita tidak boleh makan suatu makanan anu dan minum suatu minuman anu sebelum tahu hukumnya apa
    Seharusnya...
    • Bila tiba-tiba ada yang ngajak.. "Eh, coba main Google Adsense yuk.." maka Anda harus cari tahu dulu, apa hukumnya?
    • Bila tiba-tiba ada yang nawarin kerja, "Jadi Cleaning Service di Bank Mandora mau nggak Bro?" maka Anda harus cari tahu dulu, apa hukumnya?
    • Bila tiba-tiba ada yang mengajak Anda.. "Coba nih ikutin tutorial cara pakai kerudung baru tahun 3020.." maka Anda harus cari tahu dulu, apa hukumnya?
    • Bila tiba-tiba ada yang nawarin Anda kerjasama.. "Kamu jago melukis ya? Kalau ngelukis anu bisa nggak? Boleh minta nomr HP atau pin BBM-nya? Sapa tau bisa kerjasama.." maka Anda harus cari tahu dulu, apa hukumnya?
    Begitu. Jangan sampai Anda malah langsung berbuat sesuatu, tanpa tahu apa hukumnya!
    • Kalau Anda udah langsung ngelamar suatu kerjaan tanpa tahu apa hukumnya, berarti Anda nggak niat jadi abdullah. Tapi jadi abdul duit.
    • Kalau Anda udah langsung memakan suatu makanan tanpa tahu apa hukumnya, berarti Anda nggak niat jadi abdullah. Tapi jadi abdul nafsu.
    • Kalau Anda udah langsung mengenakan suatu pakaian tanpa tahu apa hukumnya, berarti Anda nggak niat jadi abdullah. Tapi jadi abdul pujian manusia.
    • Dan lain-lainnya.. ada yang abdul jabatan, abdul cewek, abdul musik, abdul film, dan abdul-abdul lainnya... Hiiii!!!
    Karena kalau abdulullah seperti insya Allah) kita ini, saya dan Anda, kita tidak akan melakukan suatu perbuatan, kecuali kita tahu hukumnya. Bila ternyata boleh, barulah kita lakukan. Kalau ternyata tidak boleh, yah jauhi. Itulah ciri manusia berakhlak mulia.

    Clear ya? Beres? Sudah tidak ada masalah lagi terkait bagaimana pandangan hidup kita sebagai umat muslim?

    Sayangnya, ternyata masih ada masalah lain. Ada orang yang memang sudah "pegang" Al-Qur'an dan assunnah, tapi dia jadi "rada aneh", bahkan bisa ada yang "rada sesat".


    3 Macam Cara Orang Mengikuti Petunjuk di Al-Qur'an

    Sudah pun ada orang yang "mengakui" Al-Qur'an sebagai petunjuk, namun faktanya ada macam-macamnya lagi:
    • Ada orang yang menjadikan Al-Qur'an sebagai wahana kosultatif saja
    • Ada orang yang hanya mengikuti sebagian Al-Qur'an saja
    • Ada orang yang mengikuti keseluruhan isi Al-Qur'an secara total

    1. Orang yang menjadikan Al-Qur'an sebagai wahana kosultatif saja

    Mohon maaf sebelumnya, tipe orang yang pertama ini pernah ada faktanya di IAIN. Ntah mungkin karena ada rumor yang mengatakan disana tak sedikit jumlah dosen liberalnya. Gara-gara gitu, jadinya ada yang membuat guyonan bahwa IAIN itu singkatan dari Ingkar Allah Ingkar Nabi, hehehe! Terus, katanya kenapa diubah menjadi UIN, karena UIN itu singkatan dari UINsya Allah Islam, hehehe!

    Nah, jadi, katanya disitu ada seorang profesor di IAIN itu yang ngomong, "Saya paling takut kalau Al-Qur'an dijadikan Kitab Hukum!" Mengengar pernyataan itu, mahasiswanya pun jadi pada kaget. Lanjut sang Dosen, "Karena yang membuat Qur'an itu jadi kaku, menakutkan, serem, kejam, dan mengerikan, kalau Qur'an itu dijadikan sebagai Kitab Hukum!"

    Lanjutnya lagi, "Coba saja.. Hukum itu kan isinya boleh, tidak boleh, halal, haram, kafir, musyrik, muslim.. itu karena menjadikan Al-Qur'an sebagai Kitab Hukum. Itu BAHAYA!! Bisa bikin Qur'an itu jadi SEMPIT MAKNANYA!! JADI KAKUU!! JADI KEJEM!! JADI SEREM!!"

    Woaah mahasiswa-mahasiswa yang baru masuk itu pun terheran-heran.. Profesor gitu loh, yang ngomong.. 

    Kemudian sang Dosen menegaskan kembali, "Jadi saya PALING TIDAK SETUJU kalau Al-Qur'an dijadikan sebagai Kitab Hukum!!" 

    Terus, maunya Al-Qur'an itu dijadikan sebagai apa?

    Nah, terus dia sebutkan yang di poin pertama di atas tadi. "Saya menginginkan Al-Qur'an itu menjadi Kitab yang sebagai ajang dan wahana kosultatif.."

    Maksudnya bagaimana, kemudan dia lanjutkan lagi.. "Kalau  Al-Qur'an itu kita jadikan sebagai rujukan wahana kosultatif, itu akan membuat Al-Qur'an menjadi sejuk di hati kita.. menjadi sejuk di mata kita.. Tidak jadi garang lagi.. Dengan begitu kan benar-benar bisa menjadi solusi terhadap masalah-masalah yang kita alami.."

    Lanjutnya lagi, "Misalnya nih kita lagi ada masalah.. Contohnya, kita stress nih bulak-balik bisnis kok bangkrut-bangkrut terus sih.. Nah, bagaimana agar kita tidak sedih? Agar tidak larut dengan masalah gitu? Kita buka saja Al-Qur'an... Membuka Al-Qur'an itu seperti berdialog dengan Tuhan.. Kalau gini kan lebih lembut.. lebih sejuk.... Sehingga kita itu bisa konsultasi dengan Tuhan.. Konsultasi dengan Qur'an itu ibarat konsultasi dengan Allah Swt... Sehingga mendapatkan pemecahan-pemecahan masalah dari Allah, inilah yang membuat hidup kita menjadi tenang... tentram... Hingga kita bisa menjalani hidup ini lebih baik.."

    Kemudian dia buat penegasan, "Itulah karena itu tadi, kita punya temen konsultasi berupa Al-Qur'an.. Lebih enak kan? Daripada dijadikan kitab hukum, itu menakutkan! Mengerikan! Iya kan? Jadinya nanti nggak ada panggilan galak antara sesama muslim gitu.. Nggak ada sebut-sebut temannya kafir.. Orang mengkafir-kafirkan dan menyalah-nyalahkan gitu kan gara-gara Al-Qur'an dijadikan sebagai kitab Hukum.. Nanti ada pengusaha yang suka ke Bank, malah dibilang kafir lagi! Yah itulah tadi kan, gara-gara kitab ini dijadikan hukum tadi.. Mungkin mereka itu kan nggak pernah belajar agama di Kampus Islam IAIN gini.."

    Simpulnya, "Jadi biar lebih enak, lebih lembut, lebih soft, Al-Qur'an ini kita jadikan sebagai wahana konsultatif saja yaa.. Oke sipp setuju?"

    Menurut Anda, bagaimana? Enakkah begitu? Kalau saya, tidak setuju.

    Kalau orang awam, mungkin dia bakal merasa kayaknya enak ya yang dibilang Dosen itu.. Tapi jika kita pikir-pikir lagi... sekiranya Al-Qur'an itu jadikan wahana konsultatif doang, maka konsekuensinya adalah, bila orang nggak punya masalah maka dia nggak akan buka Al-Qur'an.

    Apakah mungkin orang selalu datang ke Psikolog terus baik ketika lagi punya masalah maupun lagi nggak ada masalah? Biasanya orang ke Psikolog itu datangnya pas lagi punya masalah. Nggak mungkin orang yang nggak punya masalah malah datang ke "konsultan". Lihat orang-orang yang ikut seminar, workshop, trainingkebanyakan dan seringnya adalah orang yang belum banyak ilmu, dan nggak berduit ya kan? Hehehe! Lihatlah direktur yang merasa udah banyak duit dan banyak ilmu, masih maukah dia ikut seminar gitu?

    Begitulah argumen secara logikanya bahwa pendapat sang Dosen tersebut keliru. Namun, secara nash hal itu pun tak selaras dengan apa yang Allah firmankan.
    إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسٰنَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيعًۢا بَصِيرًا
    Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.


    [QS. Al-Insaan: 2]
    ancaman
    Jadi, lihatlah tuh, kita diciptakan Allah, agar kemudian kita diuji. Ujian, itu hakikat hidup kita (ingat, hakikat itu berbeda dengan tujuan). Sudah susah-payah manusia itu dilahirkan, intinya supaya dapat ujian.

    Kemudian, maka dari itulah Allah Swt memberikan kita kemampuan untuk mendengar dan melihat. Karena memang indera itu termasuk syarat untuk mengikuti ujian (sebagaimana yang telah kita bahas pada artikel sebelumnya, Panduan Dasar Cara Mendapatkan Kebenaran yang Pasti).

    Kalau ada manusia yang tidak bisa mendengar dan melihat, maka dia boleh tidak ikut ujian. Sebab, akalnya tidak sempurna. Dijamin masuk Surga tanpa tes.
    إِنَّا هَدَيْنٰهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
    Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.


    [QS. Al-Insaan: 3]
    Allah telah menunjuki kita 2 jalan. Karena ada petunjuk itulah, manusia itu jadi ada 2 macamnya. Manusia macam pertama adalah yang bersyukur, kemudian manusia macam kedua adalah yang kufur.
    إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِينَ سَلٰسِلَا۟ وَأَغْلٰلًا وَسَعِيرًا
    Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala.


    [QS. Al-Insaan: 4]
    Begitulah penutupnya..

    Sekarang, pertanyaannya.. menurut surat Al-Insaan ayat 2 sampai 4 itu, kan Allah telah menunjukkan petunjuk berupa Al-Qur'an dan assunnah. Nah, petunjuk itu, apakah sifatnya bebas atau memaksa? Bebas dalam artian yah mau diikuti (jadi beriman) silahkan, nggak mau (jadi kafir) yah juga silahkan, bebas begitu? Atau, petunjuk Allah itu bersifat memaksa dalam artian semua manusia itu harus ikut, nggak boleh nggak ikut, begitu?

    Silahkan Anda pilih..
    (A). Bersifat bebas
    (B). Bersifat memaksa
    sertifikat

    Baiklah, biar lebih mudah, mari kita bahas analoginya.. Begini. Seandainya saya umumkan, barangsiapa yang membaca artikel panjang ini dari awal sampai habis, selesai, nanti akan saya kasih sertifikat plus tanda tangan asli saya. Plus lagi akan saya kasih gelar Sarjana PAI. Tapi siapa yang nggak beres bacanya, akan saya kasih gelar Durhaka pada PAI.

    Nah, kalau begitu, untuk lulus dapat sertifikat dan gelar gitu, apakah bersifat bebas atau memaksa? Betul, bebas. Mirip dengan kuliah juga. Yang lulus dapat gelar sarjana, yang nggak lulus yah jadilah mahasiswa abadi, palingan berpotensi dapat gelar DO.

    Namun, bagaimana bila pengumumannya itu bagi siapa yang lulus maka saya kasih duit, dapat hadiah menarik, tapi bagi siapa yang nggak lulus, akan disiksa ramai-ramai sampai mati. Seperti itu, apakah bebas atau memaksa?

    Nah, kalau memaksa begitu, itu artinya saya pingin semuanya lulus.

    Seperti itu analoginya soal mengikuti petunjuk. Kita manusia semuanya dipaksa Allah untuk masuk Surga. Jangan sampai deh ada satu saja manusia yang malah masuk Neraka. Sayang banget! Udah capek-capek diciptakan!

    Begitulah pengumuman dari Allah, sudah "di-shooting dan disiarkan live" di seluruh dunia.

    Berarti, kalau Al-Qur'an itu cuma dijadikan sebagai wahana konsultatif doang, tidak boleh. Karena, ini ada ancaman siksaannya, bagi orang yang tidak mau tunduk dan terikat dengan Al-Qur'an dan Assunnah. Dengan kata lain, kita ini semuanya harus terikat dengan Al-Qur'an dan Assunnah.

    Tetapi... sayangnya, ketika kita sudah jadi termasuk orang yang mau terikat dengan Al-Qur'an dan Assunnah pun, bisa terbagi lagi menjadi 2 macam. Macam pertama, ada yang mau terikat tapi terikat dengan sebagian isi Al-Qur'an dan Assunnah saja, pilih-pilih yang mana yang enak yang mana yang nggak enak menurut dirinya. Macam kedua, ialah yang mau terikat dengan keseluruhan isi Al-Qur'an dan Assunnah.

    2. Orang yang hanya mengikuti sebagian Al-Qur'an saja

    Ketika dia ditanya, "Kamu ini orang Islam ya?" Dia jawab, "Iya saya orang Islam." Kemudian ditanya lagi, "Kamu mau tunduk kepada Allah? Siap menjalani perintah Allah?" Dia jawab, "Siap! Saya mau tunduk kepada Allah! Saya siap menjadi abdullah! Saya pun siap menjalankan perintah Allah!" tapi, rupanya nanti maunya sebagian saja. Yang diamalkan adalah perintah yang enak-enak, sedangkan perintah yang nggak enak, nanti-nanti dulu aja..

    Hm, emangnya ada fakta nyata real-nya orang yang macam begini? Ada. Nih contohnya, biasanya biar ketahuan apakah seseorang itu termasuk macam ini atau bukan, adalah dengan di-test ajak dia untuk mengamalkan ayat ini: 
    يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa...


    [QS. Al-Baqarah: 183]
    Begitu diajak mengamalkan ayat di atas barusan soal puasa, dia langsung siap bersedia untuk mengamalkannya. Namun, ketika diajak untuk mengamalkan ayat berikut ini:
    يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِى الْقَتْلَى
    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh...


    [QS. Al-Baqarah: 178]
    Begitu diajak mengamalkan ayat di atas barusan soal qishash, dia langsung ngosos..  Kebukti kan cuma mau terikat dengan sebagian saja..

    Apalagi diajak untuk mengamalkan dalil-dalil berikut ini yang padahal juga diwajibkan:
    كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
    Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.


    [QS. Al-Baqarah: 216]
    الزَّانِيَةُ وَالزَّانِى فَاجْلِدُوا۟ كُلَّ وٰحِدٍ مِّنْهُمَا مِا۟ئَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِى دِينِ اللّٰـهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّٰـهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ
    Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.


    [QS. An-Nuur: 2]
    وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوٓا۟ أَيْدِيَهُمَا جَزَآءًۢ بِمَا كَسَبَا نَكٰلًا مِّنَ اللّٰـهِ ۗ وَاللّٰـهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
    Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.


    [QS. Al-Maidah: 38]
    مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
    “Barangsiapa yang melepas tangan dari ketaatan, maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa memiiki hujjah. Dan barangsiapa yang mati sementara di pundaknya belum ada baiat, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah (berdosa).”


    [HR. Muslim]
    (Note: bagi Anda ingin tahu apa solusi dari masalah tak teramalkannya dalil-dalil di atas,, silahkan baca artikel "Inilah Dosa Investasi yang Setiap Saat Kita Dapatkan, Lalu Bagaimana Cara Menggugurkannya?" dan artikel "Apa Benarkah SEMUA Dosa Anda Terampuni Gara-Gara Puasa Ramadhan?")

    Nah, terkait orang yang hanya mau terikat dengan sebagian itu saja, gimana tuh nasibnya kalau dia begitu?

    Orang seperti mereka, diancam oleh Allah dalam firmannya:
    أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى الْحَيَوٰةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللّٰـهُ بِغٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
    Apakah kamu beriman kepada sebahagian Kitab itu dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.


    [QS. Al-Baqarah: 85]
    Begitulah pertanyaan dari Allah. Bisa jadi Anda termasuk orang yang macam ini? Apakah Anda mau mengikuti aturan Allah yang enak-enak aja, tapi nggak mau ngikut yang nggak enak-enggak enak? Pastikanlah bahwa diri Anda berada pada posisi yang benar.

    Kemudian pada jawabannya itu ada huruf nafi ketemu istisna. Berarti kalau ada orang Islam tapi kok menjalankan Al-Qur'an kok sebagian-sebagian aja, yang enak-enak aja, yang lain ditinggalkan, maka kata Allah: tidak ada balasan dari Allah sama sekali, kecuali, nistalah hidupnya di dunia. Kalau nggak nista, berarti salah nih ayatnya. Berarti, harus nista. Dan memang nista.

    Kalau cuma nista di dunia doang masing mending, namun sayangnya ada kelanjutannya, besok orang yang setengah-setengah menjalankan Al-Qur'an ini, masuk Neraka dapat siksa.

    Maka, haruslah kita menjadi macam yang ketiga berikut ini.

    3. Orang yang mengikuti keseluruhan isi Al-Qur'an secara total

    Merekalah orang yang mengikuti firman Allah berikut ini.
    يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ادْخُلُوا۟ فِى السِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
    Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.


    [QS. Al-Baqarah: 208]
    Haruslah kita menjalakan Al-Qur'an secara kaffah, 100% semuanya harus kita ikuti, itulah ciri kita menjadi abdullah yang baik dan benar. Insya Allah nanti masuk Surga. Kalau tidak mau kaffah, bisa jadi malah masuk Neraka.

    tujuan manusia hidup di dunia

    Begitulah..

    Kesimpulan Sejauh Ini

    Intinya, aqidah Islam ini berupa pandangan-pandangan terhadap pertanyaan:
    • Darimana asal-muasal manusia, alam semesta, dan kehidupan?
    • Untuk apa hidup di dunia ini?
    • Akan ke mana seusai hidup?
    Kemudian, itu semua sudah terjawab ketika kita menemukan informasi dari Sang Pencipta, yaitu Al-Qur'an dan assunnah. 

    Persoalan pertama, dari mana asal-muasal manusia? Jawabannya, dari Allah Swt. Sebagaimana yang difirmankan Allah Swt dalam Al-Qur'an, manusia pertama adalah Nabi Adam. Sedangkan kita ini cucunya Nabi Adam. Termasuk pula orang tua Anda, dan nenek Anda, merupakan cucunya Nabi Adam. Sedangkan Nabi Adam yah itu tadi kan berasal dari Allah Swt.

    Kemudian persoalan berikutnya, apa hubungan "penciptaan manusia sebelum hidup" dengan "kehidupan di dunia ini"? Hubungannya adalah, Allah tidak akan menciptakan manusia kecuali Allah juga menurunkan petunjuk hidup (aturan) untuk kehidupan.

    Berbeda halnya dengan orang sekuler. Kalau orang sekuler itu mengakui bahwa manusia, alam, dan kehidupan itu diciptakan oleh Tuhan, tapi bagaimana caranya dia hidup, dia tidak mengakui aturan Tuhan. Terus bagaimana cara manusia hidup, menurut mereka itu terserah manusia aja mau gimana. Biar nanti manusia memilih wakil manusia (ntah dengan coblos, contreng, atau apapun itu), agar kemudian wakil manusia itu membuat aturan manusia. Itulah yang disebut Demokrasi.
    • Dan di Demokrasi itulah nanti yang tadinya kata Allah sholat itu hukumnya wajib, kemudian berubah hukumnya menjadi mubah. Orang mau sholat boleh, nggak sholat juga boleh.
    • Dan di Demokrasi itulah nanti yang tadinya kata Allah riba dan pajak itu hukumnya haram, kemudian berubah hukumnya menjadi wajib. Siapa yang nggak bayar pajak, "disikat".
    • Dan di Demokrasi itulah nanti yang tadinya kata Allah muslimah berhijab itu hukumnya wajib, kemudian berubah hukumnya menjadi mubah. Mau berhijab silahkan, tapi karena lagi nggak ada anggaran katanya nggak usah aja deh polwannya berhijab. Tapi kalau pakai topi santa yang hukumnya haram, malah diharus-haruskan. Yang wajib itu pakai helm.
    • Dan di Demokrasi itulah nanti yang tadinya kata Allah sumber daya alam itu merupakan milik umum, harusnya negara mengelolanya kemudian memberikannya kepada rakyat, haram dijual ke rakyat hingga negara "profit gede", kemudian berubah malah bisa menjadi milik swasta, asing pula lagi.
    • Dan seperti kisahnya Mici VS Pak Hakim sebelumnya. Yang tadinya kata Allah harusnya seorang pencuri khusus itu dipotong tangannya, kemudian berubah hukumnya menjadi dipenjara.
    • Belum lagi bahas qishash, rajam, dan lain-lainnya, hukum-hukum Allah dicampakkan mereka! Mereka pakai otaknya sak karepnya dewe buat ngatur kehidupan ini!
    • Dan lain-lain sebagainya. Jelas sangat sangat sangat bertentangan dengan aqidah kita!
    Itulah mereka pemeluk aqidah sekulerisme, yang memisahkan agama dari kehidupan.

    Sedangkan sejatinya bagi kita pemeluk aqidah Islam, ketika ditanya apa tujuan hidup di dunia ini? Jawabannya, tujuan utama manusia hidup di dunia ini adalah untuk terikat dengan aturan-aturan yang berasal dari Allah Swt.

    Berikutnya, apa hubungannya "tujuan hidup manusia" dengan "setelah hidup di dunia ini" adalah hisabMaksudnya, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas semua apa yang kita lakukan selama hidup di dunia. Apakah kita beriman kepada Allah Swt? Beriman kepada Rasulullah Saw? Apakah kita sudah sholat? Puasa? Dakwah? Qishash sudah diamalkan? Potong tangan udah diamalkan? Sudah baiat ke Khalifah? Gimana kalau yang wajib-wajib itu belum kita amalkan tiba-tiba kita udah mati duluan?

    Kalau semua aktivitas kita ketika hidup di dunia sesuai dengan Al-Qur'an dan assunnah, kemudian Allah ridha, insya Allah kita akan ke Surga selama-lamanya. Bila ada orang yang melenceng-melenceng, nggak sesuai dengan Al-Qur'an dan assunnah, hati-hati, bisa-bisa masuk ke Neraka dulu. Yang bahayanya kalau masuk ke Neraka selama-lamanya.

    Ingat ya, Allah itu menghisab kita dengan syariat Islam! Dengan Al-Qur'an dan assunnah! Bukan dengan KUHP! Walaupun menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana itu Anda bener, tidak salah, termasuk juga hakim-hakim yang menyidang itu kalau dia udah setia dengan KUHP, mereka itu semua di Akhirat nanti tetap akan dihisab oleh Allah dengan syariat Islam, bukan dengan Undang-Undang Hukum Pidana buatan manusia. Pokoknya semua manusia begitu.

    Walaupun menurut hukum manusia, kita ini bener, legal, boleh, sah, tapi tetap saja hukum manusia itu tidak berlaku di Akhirat kelak. Sekali lagi, Allah pasti akan menghisab kita dengan syariat Islam, yang memang sudah diturunkan ke kita. Ini harus dicamkan. Allah nggak main-main.
    إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ ِللهِ
    Sesungguhnya menetapkan hukum hanyalah hak Allah.

    [QS. Yusuf: 40]
    فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ
    Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.

    [QS. Al-Maidah: 48]
    وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
    Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

    [QS. Al-Maidah: 44]
    وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
    Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim.

    [QS. Al-Maidah: 45]
    وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
    Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasiq.

    [QS. Al-Maidah: 47]
    Tidak mungkin syariat Islam itu berubah. Sekarang Allah mengatakan bahwa berzina itu hukumnya haram, besok sampai kiamat yah hukumnya tetap haram. Sekarang Allah mengatakan bahwa riba itu hukumnya haram, besok sampai kiamat yah hukumnya tetap haram.

    Meski seluruh dunia mengatakan bahwa zina itu boleh, riba itu boleh, hisab Allah kelak tetap tak akan berubah. Walaupun Undang-Undang mengatakan bunga hutang itu boleh, bahkan wajib, namun bila Allah tetap mengatakan itu haram, maka tetap akan haram.

    Karena memang yang dihisab Allah di akhirat kelak itu pasti akan nyambung dengan apa-apa yang diturunkan Allah di dunia, yakni Al-Qur'an dan assunnah, yang notabene harus setia nan istiqomah kita ikuti terus sampai mati.

    Sekali lagi, bila disimpulkan, defenisi aqidah Islam adalah, pemikiran menyeluruh tentang manusia, kehidupan, dan alam semesta, yang mana ketiga hal tersebut adalah ciptaan (makhluk) bagi Pencipta (al-Khaaliq) yaitu Allah Swt, dan bahwasannya setelah kehidupan ini akan ada hari kiamat. Dan, bahwasannya hubungan antara kehidupan dunia dengan apa-apa yang ada sebelum kehidupan dunia adalah ketundukan manusia terhadap perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya (termasuk iman dan syariat, termasuk beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, dan hari Akhir, juga pada qadha dan qadar baik-buruknya dari Allah Swt), sedangkan hubungan antara kehidupan dunia dengan apa-apa yang ada sesudah kehidupan dunia, adalah adanya hari kiamat dan hari akhir yang di dalamnya terdapat balasan terkait pahala dan dosa, serta Surga dan Neraka (hisab). Kemudian di Surga dan Neraka itulah tempat kembali kita yang abadi.


    Begitulah.. Inilah, aqidah Islam..

    Oh iya, sekadar tambahan, ada baiknya nanti Anda baca buku-buku refrensi yang saya paparkan di bawah pada akhir artikel ini. Kemudian nanti Anda kaji lagi perihal aqidah ini. Karena memang pada artikel ini pembahasannya masih ringkas. Ada beberapa hal yang belum saya bahas seperti misalnya definisi aqidah secara bahasa, perlunya menggunakan hadits mutawatir, plus persoalan berikutnya bagaimana cara mengetahui halal-haram, dan lain-lainya.

    Saya usahakan pula supaya nanti bisa saya tulis juga artikelnya di blog ini.

    Mabda' Islamiyyah

    Nah, dari aqidah itu, nanti akan menghasilkan mabda'. Apa itu mabda'? Sebetulnya, kurang bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Namun, yang maknanya agak-agak mirip, adalah dengan kata "ideologi". Yah, sebut saja mabda' itu artinya ideologi.

    Ideologi Islam ini hanya akan muncul kalau kita memperoleh aqidah melalui jalan aqliyah. Yakni, melalui proses berpikir, dan kesadaran, sebagaimana yang kita bahas sebelumnya.

    Kalau tidak melalui proses aqliyah, maka tidak mungkin bisa menghasilkan mabda'. Berarti aqidah-nya hanya berupa hafalan, ikut-ikutan, turunan, hasil dari membebek. Warisaniyyah gitu, hehehe.

    Karena sejatinya yang namanya aqidah itu akan menjadi pandangan hidup manusia. Kalau sudah punya aqidah, dalam hidupnya dia akan punya world view. Dia akan memandang dunia ini dengan sudut pandang yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Bener-bener berubah dari yang sebelumnya. Dia paham hakikat hidup itu untuk apa, tujuan hidup itu untuk apa.

    Bila seseorang sudah punya pandangan hidup yang khas, berarti dia sudah punya aqidah. Kalau pandangan hidupnya sesuai dengan Al-Qur'an dan assunnah, berarti dia punya aqidah Islamiyyah.

    Kemudian bila sudah pandangan hidupnya khas begitu, yang muncul dari proses berpikir dan kesadaran, bahwa hidup itu harus tunduk kepada Allah, maka akan muncul pertanyaan bagaimana sih hidupnya yang benar? Yang sesuai dengan syariat Allah? Maka akan "terpaksalah" dirinya untuk mengetahui bagaimana gambaran hidup dalam Islam itu.
    • Pengaturan politiknya seperti apa?
    • Pengaturan pemerintahannya seperti apa?
    • Pengaturan ekonominya seperti apa?
    • Pengaturan sosialnya seperti apa?
    • Dan lain-lainnya seperti apa?
    Ibarat membangun Rumah, sudah ada blue print rancangan Rumahnya. Bisa menjelaskan Rumahnya seperti apa. Misalnya, mau luasnya 1.000 meter, 2 lantai, dan penjelasan-penjelasan lainnya.

    Jangan malah tidak tahu mau Rumahnya tingkat berapa, warna apa, seperti apa, hanya "pokoknya Rumah", "yang penting Rumah" saja.

    Kemudian, bila ada masalah seperti halnya kalau listriknya nggak ada gimana, kalau airnya nggak keluar gimana, itu harus bisa ada penjelasan bagaimana pemecahan persoalan hidup tersebut sekiranya sewaktu-waktu nanti itu semua muncul, itu semua bisa diselesaikan dengan cara Islam.

    Seperti misalnya, tiba-tiba nanti terjadi inflasi. Mata uang jatuh! Krisis moneter! Maka harus bisa diselesaikan menurut cara Islam.

    Itulah yang disebut dengan fikrah Islam.

    Fikrah Islam itu pasti pertama-tama akan terpancar dari aqidah Islam yang dipeluk seseorang.

    Namun, fikrah saja tidak cukup. Jangan hanya berupa ide dan konsep. Tapi, juga harus ada metodenya, bagaimana cara menerapkannya? Bagaimana cara menjaganya? Dan bagaimana cara menyebarluaskannya?

    Seperti misalnya bila Anda mengatakan bahwa ekonomi Islam itu keren, maka pertanyaannya, kapan kerennya ekonomi Islam itu bisa terwujud? Haruslah ada metode bagaimana mewujudkannya.

    Pun pada analogi Rumah tadi, sekiranya Rumahnya sudah berdiri, sudah diwujudkan, jangan sampai kemudian tiba-tiba ambruk. Berarti keberadaan Rumah tersebut tak bisa dipertahankan. Haruslah ada metode bagaimana mempertahakannya.

    Lalu, sebagaimana sifat semua aqidah itu, pasti ingin semua orang itu juga terselamatkan dengan aqidah itu. Haruslah ada metode bagaimana menyebarluaskannya. Tidak mungkin kita masuk Surga sendirian, sepi bangett.. Pastilah kita ingin seluruh umat manusia juga masuk Surga kan? Bagaimana tuh cara menyebarluaskannya??

    Itulah yang disebut dengan thariqah Islam.

    Itu semualah yang namanya mabda'. Pada mabda' itu ada sebuah aqidah, kemudian aqidah memancarkan fikrah dan thariqah.

    mabda-ideologi-islam

    Makanya kalau ada manusia yang sok-sok ngaku bisa membuat ideologi, namun tidak ada 3 hal atau salah satu hal di atas (aqidah, fikrah, dan thariqah) maka itu ideologi KW. Alias, gadungan. Alias, ilusi. Alias, ideologi-ideologian. Contohnya: Pancasila.

    Pancasila itu apa? Aqidah-nya apa? Fikrah-nya apa? Thariqah-nya apa? Belum jelas. Yang ada malah caplok-caplok dari ideologi lain.

    Berarti, fikrah Islam + thariqah Islam = nizham Islam.

    kereta-api-qiyadah-qaidah
    Maka, aqidah Islam yang memancarkan nizham Islam (fikrah dan thariqah), itulah yang disebut dengan mabda' Islam.

    Dengan begitu, aqidah itu bisa berfungsi sebagai qaidah fikriyah dan qiyadah fikriyah (kepemimpinan berfikir). Analoginya, qaidah itu laksana rel kereta api, sedangkan qiyadah itu laksana gerbong kereta apinya.

    Insya Allah penjelasan detail soal mabda' ini akan kita bahas di artikel lain. Untuk gambaran umum seluk-beluknya bisa Anda lihat di artikel "Perbandingan 3 Ideologi: Islam, Kapitalisme, dan Sosialisme [Infographic]".

    Terakhir.. jadi, setiap manusia yang memiliki aqidah seperti ini, maka setiap tindakan dan perbuatannya akan dipimpin oleh pemikirannya (aqidah Islam). Inilah Islam, yang mampu MEMBANGKITKAN manusia! Inilah titik bangkitnya manusia!

    Sejauh ini Anda mengerti kan? Kalau ada yang tidak Anda mengerti, silahkan Anda layangkan di kotak komentar di bawah ini. Saya usahakan untuk menjawabnya. Atau yang lebih bagusnya lagi Anda bisa berdiskusi di dunia nyata langsung (bukan dunia maya/internet) dengan teman-teman saya yang terdekat dari tempat tinggal Anda, yang notabene kami punya pemahaman yang sama terkait aqidah Islam ini.

    Wallahua'lam bishshawab..

    Refrensi:

    Perkenalan Aqidah Islam Perkenalan Aqidah Islam Reviewed by Dani Siregar on Senin, Maret 16, 2015 Rating: 5
    Diberdayakan oleh Blogger.