Pondasi & Pilar-Pilar Ekonomi Islam

pilar-pondasi-ekonomi-islam

Sebelumnya kita telah membahas Pandangan Dasar Sistem Ekonomi Islam Part 1, Part 2, dan Part 3. Yang mana sudah kita simak, ternyata memang problem asasi dari pembahasan ekonomi bukanlah perihal produksi. Bukan pula perihal kelangkaan. Melainkan, problem utamanya adalah perihal interaksi antar manusia terkait barang dan jasa. Sedangkan kelangkaan dan produksi itu problem nomor sekian.

Lantaran problem produksi dan kelangkaan itu insya Allah bisa diselesaikan dengan akal manusia. Sedangkan terkait masalah transaksi antar manusia dan distribusi terkait barang dan jasa, tidak bisa diselesaikan manusia. Masalah tersebut hanya bisa diselesaikan dengan syariat-syariat yang diturunkan Allah.

Bagaimanakah penyelesaian masalah transaksi dan distribusi, menurut Islam? Itulah yang akan kita bahas di artikel ini.

Pondasi Ekonomi Islam #1. Semua Harta itu Milik Allah Swt

foto jadul
Hmm.. ngomong-ngomong, saya jadi teringat masa-masa dulu di Rumah.. Anak orang tua saya itu kan ada empat. Kebetulan empat-empat-nya itu laki-laki semua. Saya termasuk anak ke-2.

Nah, yang namanya abang-beradik laki-laki semua, biasanya sering terjadi pertikaian ya kan? Hehehe! Nggak jarang dulu itu pas kami masih kecil itu, berantem berebut makanan.. Masalah distribusinya juga berarti nih, hehehe..

Bersyukurlah kami punya orang tua yang baik nan cerdas. Lalu Mamak saya ambil alih makanan yang direbutin tadi itu, kemudian dibahas bersama-sama bahwa itu makanan mau dibagi bagaimana..

Nah, begitulah analoginya barang dan jasa dalam pandangan Islam. Sebelum kita berantem memperebutkan ada banyak barang dan jasa di dunia ini, ada banyak beras, banyak gas, banyak minyak, banyak ikan, air, hutan, tambang-tambang, dan sumber daya alam lainnya yang berlimpah ruah, harus kita ketahui dulu bersama-sama, sebetulnya semua kekayaan itu sejatinya punya siapa sih?

Yaps, betul. Semua itu punya Allah Swt. Maka bila hari ini orang-orang berantem memperebutkan sumber daya alam, coba sejenak berhenti dulu. Tanya ke Allah, bagaimana penyelesainnya.
وَءَاتُوهُم مِّن مَّالِ اللّٰـهِ الَّذِىٓ ءَاتَٮٰكُمْ

“...Dan berikanlah pada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakannya padamu....”

[QS. An Nuur (64): 33]
Inilah pondasi awal ekonomi Islam. Anda sepakat ya bahwa semua harta di dunia ini adalah milik Allah? Kalau udah sepakat, nanti ketika ada masalah ekonomi apa aja yang menghadang, insya Allah bakal mudah diselesaikan.

Misalnya  nih, kita berebutan emas di gunung Ersberg Papua yang dimainin si Freeport. Bukan cuman emas, tapi juga ada perak, dan tembaga. Segede gunung itu! Nah, pertanyaannya.. itu semua sebetulnya milik siapa sih?? Miliknya orang Amerika? Miliknya orang Belanda? Miliknya orang Papua? Miliknya orang Jawa? Miliknya Alien? Atau milik siapa?


Kalau ada yang ngaku itu milik orang Papua, atas dasar apa mereka ngomong klaim gitu? Apakah orang Papua punya surat keterangannya? Atau sertifikatnya gitu? Begitu pula kalau ada yang ngaku itu milik orang Amerika, atas dasar apa mereka ngomong klaim gitu? Dan tentu juga kalau ada yang ngaku itu milik orang Indonesia, atas dasar apa mereka ngomong klaim gitu?

Kalau kita yang ngomong bahwa itu milik Allah Swt, ada dasarnya. Itu tadi, di Al-Qur'an surat An-Nuur ayat ke-33. Karena memang yah kan Allah yang menciptakan alam semesta ini, makanya ini semua milik Allah. Clear ya?

Nah, pertanyaan berikutnya.. terus nasib manusia gimana dong? Apa peran dan fungsi manusia terhadap harta kekayaan yang dimiliki Allah itu? Boleh nggak manusia memiliki harta kekayaanNya Allah?

Pondasi Ekonomi Islam #2. Penguasaan Harta Harus Seizin Allah Swt

Yah sebetulnya lumayan gampang aja.. Tinggal Anda tanya aja ke Allah, "Boleh nggak ya Allah saya minta dikiiit aja mangga di pohon yang ada di Bumi Engkau ini ya Allah??", Tinggal Anda tanya aja ke Allah, "Boleh nggak ya Allah saya minta dikiiit aja emas di Gunung Esberg itu ya Allah??" Kalau dibolehin Allah, silahkan Anda ambil. Tapi kalau nggak ada jawaban dari Allah, Anda jangan coba-coba nyentuh secuil pun dulu.

Namun alhamdulillah, ini ada penjelasan dari Allah terkait peran dan fungsi manusia terhadap kekayaan alam semesta yang dimiliki Allah Swt..
وَأَنفِقُوا۟ مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ

“Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya”  

[QS. Al-Hadiid (29): 7]
Begitulah... ternyata Allah membolehkan kita manusia untuk memiliki harta kekayaan di dunia ini. Namun jangan lupa, maksud "memiliki" disitu statusnya adalah istikhlaf. Maksudnya, status "penguasaan" itu Allah memberikan milikNya, tapi bukan kepemilikan yang hakiki.
istikhlaf

Maksudnya gimana? Contohnya begini...

Misal, ada orang namanya Dono. Si Dono ini punya tetangga, namanya Kang Sorogor. Kang Sorogor ini pengusaha kaya. Buktinya, dia punya Rumah 2 tingkat, yang di dalamnya ada 10 kamar. Kemudian si Kang Sorogor ini pergi naik haji ke Mekkah, barengan sekeluarga dia sama istri dan anak-anaknya. Rumahnya nganggur deh..

Nah, ngelihat Rumahnya nganggur gitu, si Dono ngomonglah ke Kang Sorogor.. "Kang, daripada Rumah Kang Sorogor nganggur gitu, boleh nggak saya pakai Kang??" Kang Sorogor pun membolehkan, "Soklah, silahkan aja..". Akhirnya yah si Dono pakai, dia tinggali, dia manfaatkan, dia gunakan Rumahnya si Kang Sorogor tersebut.

Namun jangan lupa, posisi si Dono disitu adalah istikhlaf. Maka ketika nanti ada yang nanya, "Siapa nih yang memiliki Rumah ini?" Maka si Dono nggak boleh mengklaim bahwa ini Rumah si Dono. Karena, pemiliknya itu tetap si Kang Sorogor. Terus kalau ditanya, kenapa si Dono menghuni Rumah itu? Karena atas izin Kang Sorogor.

Contoh Istikhlaf

Nah, izin disitu maksudnya izin untuk menguasai harta si Kang Sorogor, itulah yang disebut dengan istikhlaf (penguasaan). Inilah pondasi yang kedua, manusia boleh menguasai harta, kalau atas izin si pemilik harta itu.

Paham ya? Kalau memang Anda bilang Anda sudah paham, pastikan pula Anda mengerti konsekuensi dari adanya pondasi kedua ini. Misalnya begini...

Si Dono itu kan sendirian di Rumah yang super besar, dengan 2 tingkat, apalagi ada 10 kamar, wajarlah bila ia merasa kesepian. Maka dari itu, si Dono ini berinisiatif, "Daripada saya sendirian terus di Rumah ini... Gimana kalau 9 kamar lainnya ini saya sewakan aja ya.. Saya terima kost-an gitu.. Kalau gitu pasti nanti jadinya ramai..".

Pertanyaannya, boleh nggak si Dono itu menyewakan 9 kamar sisanya seperti itu? Nggak boleh, itu namanya kurang ajar!

Terus harusnya gimana biar nggak kurang ajar? Yah harusnya si Dono minta izin dulu ke Kang Sorogor. Karena memang kan si Dono itu bukan pemilik Rumah tersebut. Maka si Dono itu harus minta izin dulu ke Kang Sorogor. Tunggu sampai Kang Sorogor menjawab, baru boleh memutuskan. Pokoknya kalau belum dijawab, dia nggak boleh ngambil tindakan apa-apa dulu. Silahkan tanyain terus bisa lewat SMS, telpon, BBM, WhatsApp, inbox facebok, mention twitter, kirim email, kirim surat, terserahlah, yang penting minta izin.

Kemudian si Dono nelpon Kang Sorogor, "Kang, saya kesepian di sini... Boleh nggak 9 kamar ini saya sewakan...?? Saya kost-kan gitu.." Kalau si Kang Sorogor menjawab, "Iya boleh.." nah kalau udah dapat izin gitu, baru boleh memanfaatkan. Itulah namanya orang yang baik.. :D

Terus, ternyata banyak yang minat nge-kost disitu. Si Dono dapat banyak duit dari untuk nyediain kost gitu. Jadi dia bernisiatif, "Wah kebetulan nih megang banyak duit, pingin saya pakai ah buat ngecat Rumah ini.. Soalnya udah kotor banget nih cat Rumahnya.." boleh nggak si Dono seperti itu (memanfaatkan)? Sama seperti sebelumnya, tetap saja ia harus minta izin dulu. Boleh via SMS, telpon, atau apapun itu, pokoknya tunggu jawaban dari Kang Sorogor baru boleh buat keputusan.

Si Dono nelpon Kang Sorogor, "Kang, ini uang untung dari nyewain Kamar-Kamar ini, boleh saya pakai buat ngecat nggak?" Ternyata si Kang Sorogor menjawab, "Nggak boleh.." Terus si Dono nanya, "Kalau gitu diapain nih duit bagusnya Kang?" Kang Sorogor jawab, "Yaah Kamu bagi-bagiinlah sama teman-teman yang lain.."

Contoh kedua. Misal, kebetulan si Dono itu kan dia mahasiswa, masih kuliah dia. Dan dia masih dibiayain Ayahnya. Pertanyaannya, kalau Ayahnya si Dono ngasih duit ke si Dono, boleh nggak tuh (memanfaatkan)? Mirip pula kasusnya dengan Anda, jika Ayah Anda mau ngasih duit ke Anda, boleh nggak tuh?

Maka, bila nanti Ayahnya si Dono asal tanpa pertimbangan berani-beraninya aja ngasih duit ke si Dono, itu namanya Ayah yang kurang ajar! Wah, kok kasar banget gitu? Yah iya, masak asal ngasih aja gitu? Emangnya boleh?

Bolehkah Ayahnya Dono ngasih duit ke si Dono? Nggak boleh. Harus ada izin dulu. Maka Ayahnya Dono itu harus minta izin dulu ke pemilik duit itu, yakni, Allah Swt.

"Ya Allah, boleh nggak saya ngasih duit ini ke anak saya?" tunggulah sampai dijawab. Kalau belum ada jawaban, jangan dikasih dulu. Kalau berani-beraninya main ngasih gitu aja, berarti dia itu Ayah yang kurang ajar.

Harus minta izin dulu deh pokoknya. Terserah mau nge-SMS kek, atau mau nelpon kek, atau komunikasi apapun kek, terserah, yang penting permintaan izinnya nyampe. Kalau nggak punya nomor HP-Nya Allah, yah cari tahulah sana. Kalau ternyata nanti udah dapat nomor HP-Nya Allah, silahkan tanya, "Ya Allah, boleh nggak saya ngasih duit ini ke anak saya?" Terus kalau Allah menjawab, "Boleeh.." Nah, barulah silahkan Ayahnya si Dono ngasih duit ke si Dono.

Kemudian si Dono pingin langsung pakai duit itu untuk beli baju. Boleh nggak tuh (memanfaatkan)? Yah nggak boleh. Kalau asal langsung gitu aja, itu namanya kurang ajar. Harusnya, tanya dulu sama Allah, ntah itu nge-SMS atau nelpon, "Ya Allah saya pingin beli baju pakai duit yang dikasih Ayah saya barusan, boleh nggak ya Allah?" Tunggu sampai dijawab. Kalau Allah jawab, "Boleeh.." Nah, barulah silahkan si Dono pakai tuh duit buat beli baju.

Begitulah. Sekiranya Anda nggak setuju dengan pondasi ini, nggak mau ngikuti aturan ini, nggak usah ngomong-ngomong ekonomi Islam. Karena nanti bisa-bisa Anda termasuk orang-orang yang kurang ajar.

Inilah bedanya ekonomi Islam dengan Ekonomi Konvensional (Kapitalisme). Semua apapun yang akan kita lakukan terhadap harta itu, harus atas izin Allah Swt. Seperti yang pernah kita bahas di artikel Panduan Cara Mengetahui Benar-Salahnya Keharusan dan Perkenalan Aqidah Islam, mau ini-mau itu, pastikan ini-itunya diridhai Allah Swt, harus bertanya ke Allah Swt dulu. Jangan sampai Anda nggak mau nanya, nggak mau ngaji dulu, langsung Anda lakukan aja, tau-tau rupanya nggak dibolehin Allah, waduh nggak mudah move on-nya itu... hehehe!

1 rupiah pun mau kita apakan itu, mau dipake buat jajan cemilan, mau disumbangkan ke orang, pokoknya harus tetap nanya dulu ke Yang Punya Harta, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

Kesimpulan dari pondasi (asas) dari sistem ekonomi Islam ini adalah: semua harta itu milik Allah Swt. Kalau manusia mau memiliki dan memanfaatkan harta, mereka harus dapat izin dulu dari Allah Swt. Nggak boleh sembarang ngambil harta dan memanfaatkan harta, tanpa izin Allah Swt.

Clear ya? Berarti udah selesai yaa pembahasa pondasi #2 ini..

Padahal sebetulnya belum clear, hehehe! Emangnya Anda udah punya nomor HP Allah Subhaanahu wa Ta'aala? Hehehe! Belum beres berarti. Masalah berikutnya, bagaimana caranya dapat izin Allah? Bagaimana izin dari Allah untuk manusia terkait kepemilikan harta tersebut? Kalau minta izin sama Ayah gampang, tinggal ngomong langsung, atau SMS, atau telpon. Sama tetangga juga gampang, tinggal ngomong langsung, atau SMS, atau telpon. Tapi kalau sama Allah, gimana cara minta izinnya? Anda tahu?

cara istikhlaf

Sebetulnya gampang. Tidak lain dan tidak bukan, izin Allah Swt terhadap harta kekayaan di dunia ini adalah halal atau haram. Alias, boleh atau nggak boleh. Enak kan? Cuman ngasih hukum boleh atau nggak boleh aja, masalah Ekonomi bisa terselesaikan.


penarikan hukum
Terus, gimana ceritanya kita bisa tahu apa yang Allah bolehkan dan apa yang Allah larangkan? Ternyata, caranya bukan dengan nge-SMS, nelpon, atau sejenisnya. Hebatnya Allah, kita belum nanya apa-apa, tapi Allah udah menjawab. Semua jawaban itu udah ada di nash Al-Qur'an dan assunnah.

Jadi, nanti kalau Anda ada masalah Ekonomi apa aja, semua jawabannya udah ada disitu, di Al-Qur'an dan assunnah. Mudah kan?

Mungkin belum tentu mudah, karena jawabannya dalam bahasa Arab, hehehe! Maka dari itu, supaya Anda bisa bener-bener paham dengan Al-Qur'an dan assunnah, maka setidaknya dan seminimalnya, Anda memerlukan beberapa ilmu tambahan. Yakni:
  • Bahasa Arab (termasuk ilmu nahwuh, sharaf, balaghah, bayan, dll)
  • 'ulumul Qur'an
  • 'ulumul Hadits
  • Tafsir
  • Ushul Fiqih
Setidaknya minimal 5 ilmu tersebutlah. Kalau Anda udah punya ilmu itu, insya Allah Anda bisa nemu jawaban boleh atau nggak boleh yang ada pada Al-Qur'an dan assunnah. Kalau nggak punya, yah bertanyalah kepada siapa yang punya ilmu tersebut. Jangan tanya ke saya, karena saya belum punya, yang ada nanti saya malah kabur, hehehe!

Misalnya, nanti kalau Anda udah paham 'ulumul Qur'an, insya Allah nanti Anda jadi tahu kedudukan ayat-ayat Al-Qur'an itu gimana. Nanti ada ayat-ayat yang bisa Anda pahami manthuq-nya (yang tersurat), tapi ada juga ayat-ayat yang harus kita pahami mahfum-nya (yang tersirat).

Jadi nanti kalau ada ayat yang harus dipahami mahfum-nya, tapi Anda malah memahami manthuq-nya, maka Anda akan salah.

Pun nanti mahfum itu ada pembagiannya lagi, ada mahfum muwafaqah, mahfum mukhalafah, dan sebagainya. Makanya pula, pun tidak boleh sembarangan memahami.

Contoh salahnya, ada orang sesat yang cuma tahu bahasa Arab, tapi nggak ngerti ilmu yang lain, dia jadi salah paham dengan dalil, "Wa Laa taqrabuu zzinaa.." yang artinya, "Dan janganlah Kamu mendekati zina..". Kemudian dia simpulkan, "Zina itu boleh! Nggak ada larangannya! Kan yang dilarang itu mendekati zina, kalau langsung zina itu boleh!"

Kalau dia paham ilmu-ilmu yang lain, maka dia tahu dia tidak boleh memahami manthuq-nya (yang tersurat) dalil tersebut, melainkan harus dipahami mahfum-nya. Dan mahfum-nya itu adalah mahfum muwafaqah. Kalau yang kecil aja dilarang, apalagi yang gede? Kalau mendekati zina aja dilarang, apalagi langsung berzina? 

Contoh dalil yang lain, "Fa laa taqullahumaa “Uffin”" yang artinnya, "Janganlah Kamu mengatakan ibu-bapakmu 'Ah!!'..". Kalau bilang "BAJINGAN KAMU!!" ke Ibunya, boleh nggak? Takutnya ada pula yang membolehkannya karena katanya nggak ada larangannya, yang dilarang cuma kalau bilang "Ah!!".

Itulah akibat cuma paham bahasa Arab. Nggak tahu mahfum muwafaqah. Karena bilang "Ah!!" saja sudah dilarang, apalagi bilang nama-nama binatang, yah lebih dilarang lagi. Lebih berdosa.

Begitulah kurang-lebih ilmu-ilmu yang diperlukan untuk membuka Al-Qur'an. Kemudian dengan ilmu-ilmu itulah kita diperintahkan untuk memahami khitab (seruan/tuntutan) Allah dan RasulNya terkait perbuatan manusia.

Pun nanti, tidak semua nash Al-Qur'an dan sunnah bisa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan hukum. Hanya nash-nash Al-Qur'an dan sunnah yang mengandung khitab (seruan/tuntutan untuk melakukan/meninggalkan suatu perbuatan) saja. Sedangkan nash-nash Al-Qur'an yang tidak mengandung khitab, tak bisa digali hukum.

Misalnya ayat yang bercerita tentang kebesaran Allah: "Allah Maha Besar, Allah Maha Suci, Allah Maha Pencipta, Allah Maha Kuasa" seperti itu tidak bisa digali hukum. Termasuk pula kisah-kisah para Nabi sebelum Rasulullah Muhammad Saw,  kita tidak bisa menggali hukum dari situ.

Bahaya kan misalnya ada yang menggali hukum dari kisah Nabi Musa As yang bertemu Nabi Khidir As, malah si penggali hukum itu nanti dia menyembelih seorang anak kecil. Terus modusnya khawatir nanti kalau anak itu udah gede, malah membuat bapaknya menjadi kafir. Tidak bisa seperti itu.

Di lain sisi, ada pula  seseorang dari sebuah kelompok Islam yang menjadi bagian dari kekusaan yang sistemnya tidak Islami, dalilnya karena Nabi Yusuf pun begitu. Kan Nabi Yusuf jadi menteri yang penguasanya tidak Islam. Sejauh yang hemat saya kaji sih, tidak bisa seperti itu.

Jadi, begitulah.. hanya ayat-ayat yang mengandung khitab saja yang bisa kita ambil nanti.. Dan khitab itu ada 2 macam, yakni berupa perintah, dan larangan.

Kemudian, perintah itu pun tidak semuanya bersifat jazm (tegas). Ada perintah yang harus dilaksanakan, ada perintah yang sebaiknya dilaksanakan, ada perintah yang boleh dilaksanakan boleh tidak. Larangan pun begitu, ada larangan yang tegas, ada larangan yang tidak tegas.

Gimana caranya bisa tahu? Tidak lain dan tidak bukan, dengan cara ngelihat qarinah (tanda/indikator/indikasi) yang ada pada suatu dalil. Yah, karena qarinah itu indikator/indikasi yang menunjukkan apakah suatu perintah itu jazm atau ghairu jazm.

Contohnya, coba kita lihat ayat berikut ini.
قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَيُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَلاَيُحَرِّمُونَ مَاحَرَّمَ اللهُ وَرَسُولُهُ وَلاَيَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar yaitu orang-orang ahli kitab sampai mereka membayar jizyah dalam keadaan tunduk.”

[QS. At-Taubah (129): 29]
Ada kata "Perangilah!" pada kalimat di ayat tersebut, berarti ini mengandung perintah. Namun, kalau hanya seperti itu, kita tidak bisa menyimpulkan apakah ini jazm atau ghairu jazm. Perang itu harus dilakukan atau boleh nggak usah aja? Maka dari itu, haruslah kita lihat qarinah-nya.

Maka, ketemulah qarinah-nya di ayat yang lain.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَالَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى اْلأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ اْلأَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ قَلِيلٌ . إِلاَّ تَنفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلاَتَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman mengapa jika dikatakan kepada kalian,” Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah kalian merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu ? Apakah kalian puas dengan kehidupan dunia padahal kenikmatan di dunia ini dibandingkan kenikmatan di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat berperang niscaya Allah akan menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih dan mengganti kalian dengan kaum yang lain dan kalian tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

[QS. An Nuur (64): 38-39]
Nah, dengan adanya penjelasan seperti itu, maka perintah "Perangilah!" itu sifatnya adalah jazm (tegas). Kalau yang biasa dikatakan oleh para ulama, istilahnya, wajib.
  • Wajib itu, bila dilaksanakan, maka berpahala. Bila ditinggalkan, maka berdosa.
  • Sedangkan kalau ada perintah yang bila dilaksanakan maka berpahala, namun bila ditinggalkan tidak berdosa, itu namanya sunah.
  • Kalau ada perintah yang bersifat pilihan, boleh dilaksanakan dan boleh tidak dilaksanakan, itu namanya mubah.
  • Kalau ada larangan diiringi qarinah yang jazm, berarti haram.
  • Kalau larangannya diiringi qarinah yang ghairu jazm, berarti makruh.
Yaah, sebagaimana yang insya Allah pasti sudah Anda ketahui deh.. Karena jumlahnya ada 5, inilah yang disebut dengan ahkamul khamasah.

Inilah penjelasan ringkas dari metodelogi untuk memperoleh solusi dalam sistem ekonomi Islam. Pun contoh yang barusan saya paparkan di atas baru contoh dari metode deduktif saja. Nanti ada satu metode lagi, yaitu metode induktif. Pada metode induktif itu kita harus memahami fakta masalahnya dulu, terus pahami nash, lalu penarikan hukum.

Yaaah, mungkin persoalan penarikan hukum ini akan kita bahas selengkapnya di artikel lain.. insya Allah...

Begitulah.. dari dasar inilah, kita bisa merumuskan pilar-pilar ekonomi Islam.

Pilar-Pilar Ekonomi Islam

Pilar ekonomi Islam itu ada 3.
  1. Kepemilikan (al-milkiyah)
  2. Pemanfaatan kepemilikan (at-tasharruf fil-milkiyah)
  3. Distribusi kekayaan (tauzi'i tsarwah baynan-naas)
Hmm.. karena artikel ini udah kepanjangan, sebenarnya pembahasan 3 pilar tersebut mau saya bahas di artikel selanjutnya saja, jadi artikel ini mau langsung saya sudahi saja, bersambung gitu.. Tapi yaah cobalah kita bahas sedikit dulu satu per satu yaa.. pembahasan ringkasnya saja.. :D

Pertama-tama yang harus kita bahas adalah perihal sebab-sebab kepemilikan (asbabul tamaluk). Karena memang sebelum Anda mencari duit dengan cara kerja, atau bisnis, atau dikasih orang, haruslah Anda tanya dulu, harta yang akan Anda perolah itu boleh atau nggak Anda miliki? Anda harus tahu dulu status hukumnya, apakah halal atau haram? Apakah "usaha memiliki harta itu" sah atau tidak sah menurut Islam?

Kemudian, pilar kedua, setelah Anda telah memiliki harta (yang memang sudah sah menjadi milik Anda), maka ketika harta itu mau Anda manfaatkan (at-tasharruf fil-milkiyah), juga harus terikat dengan hukum syari'at. Anda harus tahu dulu status hukumnya, apakah halal atau haram?

Kemudian, pilar ketiga, soal distribusi. Tentu perihal ini tidak lepas dari peran negara.

Begitulah ringkasnya. Dengan begini, insya Allah, kalau benar-benar sistem ekonomi Islam ini diterapkan, semua orang bakal makmur nan sejahtera. Yaps, semua orang, bukan cuman muslim saja.

Apalagi kalau nanti kita bahas sebab-sebab kepemilikan, itu ada 5 cara, namun hanya 1 cara yang bersifat aktif, sedangkan 4 cara lainnya pasif. Cara pasif itu yah bener-bener pasif, cuman diem-diem aja gitu, kemudian kita dapat harta dengan cara itu, maka kita sah memiliki harta itu, atas izin Allah Swt. Enak kan? Hehehe!

Itu baru pilar pertama saja, Kepemilikan (al-milkiyah). Setelah itu, perihal pemanfaatan harta (at-tasharruf fil-milkiyah) itu pun juga diatur. Lalu sekiranya pemanfaatan harta tersebut mengikuti aturan Allah, insya Allah semua orang makin tambah makmur nan sejahtera. Apalagi ada pilar ketiga.

Lagipula, Islam melihat tidak semua orang bisa terlibat dalam aktivitas ekonomi. Misalnya (mohon maaf) kalau ada orang yang cacat fisiknya gitu. Kalau mau kerja kan susah, bahkan nggak bisa. Terus, gimana caranya dia biar bisa dapat duit untuk beli makanan? Maka, bisa jadi pilar ketigalah yang akan mengatasinya, negara. Misalnya lagi, kakek-kakek dan nenek-nenek (mohon maaf) yang sudah juga susah ngapa-ngapai, kasihan. Apalagi kalau ia tak berkeluarga?

Luar biasa memang Sistem ekonomi Islam ini..

Sekarang, coba kita simak dulu dalil-dalilnya.
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:لا يَزُولُ قَدْمَ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْألَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أفْنَاهُ، وَشَبَابِهِ فِيمَا أبْلاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أيْنَ كَسَبَهُ وَفِيمَا أنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ؟

"Kedua telapak kaki seorang anak Adam di hari kiamat masih belum beranjak di sisi Tuhannya sebelum ditanya mengenai lima perkara: tentang umurnya, apa yang telah dilakukannya? Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya? Tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya? Dan untuk apa dibelanjakannya? Tentang ilmunya, apa yang dia kerjakan dengan ilmunya itu?”

[HR. Ahmad dan At-Tabrani]
Pertanyaan ketiga dan keempat ini, perihal harta. Namun, agak beda dengan perihal umur dan masa muda. Bukannya langsung kita ditanya harta kita dipakai untuk apa, tapi juga kita ditanya dari mana kita mendapatkannya? Khusus perihal harta, ada 2 pertanyan.

Nah, pertanyaan ketiga dan keempat dari hadits inilah, yang menjadi dalil pilar pertama (kepemilikan) dan pilar kedua (pemanfaatan kepemilikan).

Sedangkan dalil dari pilar ketiga adalah, berikut ini..
كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاء مِنكُمْ

“....Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu...”

[QS. Al-Hasyr (24): 7]
Sekiranya nanti Anda lihat keseluruhan ayat ini, dan melihat penjelasannya, maka nanti Anda bisa tahu bahwa khitab-nya untuk penguasa. Dan kebetulan faktanya supaya bisa mendistribusikan harta agar dapat dinikmati setiap orang, maka perlulah adanya peran negara.

Nah, begitulah ringkasnya pondasi dan pilar-pilar ekonomi Islam.. Barangkali itu dulu kali ini. Pembahasan berikutnya akan kita lanjutkan di artikel selanjutnya, terkait:
  • Kepemilikan (al-milkiyah), itu nanti ada sebab-sebab kepemilikan, dan ada jenis-jenis kepemilikan. Ada kepemilikan individu (milkiyah fardiyah), kepemilikan umum (milkiyah 'amah), dan kepemilikan negara (milkiyah daulah).
  • Pemanfaatan kepemilikan (at-tasharruf fil-milkiyah), itu nanti ada penggunaan harta (infaqul mal), dan ada pengembangan harta (tanmiyatul mal).
  • Distribusi kekayaan (tauzi'i tsarwah baynan-naas), itu nanti ada distribusi secara ekonomis, dan ada distribusi secara non-ekonomis.
Insya Allah akan kita bahas kelanjutan materi ini di artikel selanjutnya yang berjudul "Sebab-Sebab Kepemilikan Individu (Milkiyah Fardhiyah)".

Stay tuned dah.. :D

Wallahua'lam bishshawab..

Btw, apakah ada yang kurang Anda pahami dari pembahasan artikel ini? Atau ada pertanyaan? Atau ingin menambahkan? Kalau ada, silahkan layangkan saja di kotak komentar di bawah ini.. ˆ⌣ˆ

Refrensi:
Pondasi & Pilar-Pilar Ekonomi Islam Pondasi & Pilar-Pilar Ekonomi Islam Reviewed by Dani Siregar on Jumat, Maret 27, 2015 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.