Ketika Kesel dengan Tingkah Orang yang Bandel, 'Biarkan' Saja..

tingkah-orang-teman-menyebalkan-biarkan-saja


Anda sudah berusaha memberikan pemahaman yang baik kepadanya berkali-kali, tapi dia tetap tidak mau mengemban pemahaman tersebut, dan bersikeras tetap mengemban pemahamannya yang membuatnya jadi nakal tersebut..
Kalau sudah gitu, "biarkan saja" (dalam tanda kutip)...
Ada dua cara orang bisa menjadi dewasa dan membaik:
  • Pertama.. ikuti nasehat, lalu mendewasa dan membaik..
  • Kedua.. Abaikan nasehat, tiba-tiba celaka, lalu menyesal, barulah belajar mendewasa dan membaik..
Ada kalanya memang kita harus "membiarkan" (dalam tanda kutip) seorang teman ataupun kenalan kita yang tingkahnya kurang baik, padahal sudah dinasehati berkali-kali, tapi tetap saja dia bandel..
Kenapa?
Karena..
  • Sejatinya setiap kebaikan yang kita lakukan, akan kembali ke diri kita sendiri...
  • Sejatinya setiap keburukan yang kita lakukan, akan kembali ke diri kita sendiri...
Berangkat dari situ saja, sudah sepatutnya kita terus-menerus melakukan kebaikan. Apabila nanti kita malah dapat keburukan, yah tinggal introspeksi diri saja, barangkali ada keburukan yang sebelumnya kita lakukan.
(Atau barangkali itu ujian)
Nah, terkait teman atau saudara Anda yang bandel dan nakal tersebut yang notabene bukan kebaikan, maka tidak menutup kemungkinan ia juga akan menuai hal-hal yang bukan kebaikan pula.
Kasarnya, dia nanem yang buruk, kelak dia tuai yang buruk.

Kisah #1. Biji Malas dan Buah Malas

Ada sebuah Asrama bernama BungaCerdas. Di Asrama tersebut, ada sebuah peraturan di mana setiap orang harus disiplin. Seperti misalnya:
  • Jangan buang sampah sembarangan.
  • Matikan TV dan lampu kamar mandi setelah digunakan.
  • Tutup dan kunci kembali pintu, setelah dibuka.
  • Segera cuci piring, gelas, sendok, panci, wajan, ember, dan sebagainya yang milik umum, seusai dipakai.
Peraturannya tidak aneh. Wajar. Bagus itu. Sehemat informasi yang saya dapat, hampir semua Asrama memang ada peraturan seperti itu.
Nah, seiring berjalannya waktu, ternyata ada sebagian penghuni yang tidak mengemban pemahaman tersebut.
Mereka kelihatannya lebih hobi mengemban pemahaman buang sampah sembarangan, boros membiarkan listrik terus jalan meski tak digunakan, malas menutup pintu kembali, malas mencuci, dan sebagainya.
Maka dari itu, haruslah mereka dinasehati.
Kalau bandel lagi? Ya tinggal nasehati lagi..
Tapi tetap terus bandel lagi? Ya terus nasehati..
Tapi ini tetap bandelnya gak hilang-hilang juga? Ya teruslah nasehati..
Meski hingga jauh-jauh hari, mereka tak mau berubah juga..
Yasudah..
Ingat yang tadi, setiap apa yang akan kita lakukan, akan kembali kepada diri kita.
Termasuk perbuatam malas. Bila misalnya saya malas cuci piring, dan malas bersih-bersih, biasanya akan berimbas juga pada pekerjaan lainnya. Misalnya, saya jadi malas membesarkan Perusahaan saya.
Iya, karena sudah menjadi kebiasaan. Awalnya, "Aduh males banget mundar-mandir ke Dapur, nyuci piring lagi..", "Aduh males banget ke Kamar mandi, membersihkannya lagi..", "Aduh males banget nyuci baju lagi..", "Aduh males banget berdiri buang sampah ke tempat sampah..". Besok-besok, saya malah jadi berkata, "Aduh males banget ngelayani customer lagi..", "Aduh males banget research lagi..", "Aduh males banget tugas dari Dosen lagi..", "Aduh males banget revisi skripsi lagi..".
Silahkan nikmati buah malas itu. Itulah hasil dari biji malas yang ditanam.
Hingga tiba suata masa di mana kita stres karena kebutuhan dan keinginan kita tak kunjung tercapai.. Lalu kita merenung... kenapa..? Apa sebabnya...?? Kemudian kita sadar, ternyata selama ini kita memelihara sifat malas kita. Dari malas yang kecil, akhirnya tumbuh jadi malas yang besar..
Rasain, enak kan..?? :P <---bercanda, jangan dikata-katin "Rasain emangnya enak!" begitu yaa ke temannya..  :)
Meski memang padahal sudah dinasehati...
Yah itu tadi kan, ada dua cara orang bisa menjadi dewasa dan membaik:
  • Pertama.. ikuti nasehat, lalu mendewasa dan membaik..
  • Kedua.. Abaikan nasehat, tiba-tiba celaka, lalu menyesal, barulah belajar mendewasa dan membaik..
Begitulah maksud saya "biarkan".. Bukan dibiarkan dalam artian pada lingkaran yang kita kuasai (ikhtiar), tapi biarkan waktu dan kejadian turut serta "membantu" kita untuk menasehati dirinya...

Kisah #2. Biji Munafik dan Buah Munafik

Suatu hari si Agigix ngomong ke si Bininix.. "Bininix, gue ada duit Rp300.000... Beli pizza yuk?" Tanggap si Bininix, "Oh gitu? Ayo! Nih saya tambahin Rp100.000... Biar bisa beli banyak.. Nanti kita makan bareng teman-teman..". Lalu si Agigix pun menerimanya, "Okey siipp..".
Kemudian, akhirnya si Bininix pergi dengan si Cicicix yang notabene si Cicicix ini delegasinya si Agigix, untuk pergi membeli pizza..
Setibanya di tempat, ternyata si Cicicix bilang, kita beli pizza-nya yang mana nih, budget-nya hanya Rp150.000.."
"Haah..?? Kok cuman Rp150.000...?? Mana cukup..?? Paling beli satu porsi pizza doang..??" heran si Bininix.
Si Cicicix pun menjawab, "Nggak tahu.. yaa si Agigix ngasihnya segini ke gue.."
Karena hal ini, si Bininix dan si Cicicix pun akhirnya hanya membeli satu porsi pizza saja..
Sepulangnya mereka bertemu dengan si Agigix, si Bininix pun komplain, "Kok cuman segini budget-nya Gix..?"
Namun, si Agigix hanya ngeles sebanyak-banyaknya...
Karena tingkah si Agigix yang menyebalkan tersebut, si Bininix pun jadi kecewa dan kehilangan kepercayaan.. Namun, si Bininix menasehati si Agigix, dan terus menasehatinya..
Seperti kisah sebelumnya juga, sekiranya sudah dinasehati berkali-kali, namun perbuatan buruk itu tetap terus dilakukannya, maka "biarkan" saja..
Mungkin (mungkin yaa) dia mau mencicipi dulu "buah" dari "biji" yang ia tanam. Mungkin (mungkin yaa) dia mau coba bikin lebih banyak orang-orang disekelilingnya kehilangan kepercayaan dulu. Hingga akhirnya nanti dia stres karena hidupnya sulit bila orang tidak memiliki kepercayaan kepada dirinya, lalu dia sadar dan menyesal telah mengemban pemahaman yang keliru tersebut...
Rasain, enak kan..?? :P <---bercanda, jangan dikata-katin "Rasain emangnya enak!" begitu yaa ke temannya..  :)
Meski memang padahal sudah dinasehati...
Yah itu tadi kan, ada dua cara orang bisa menjadi dewasa dan membaik:
  • Pertama.. ikuti nasehat, lalu mendewasa dan membaik..
  • Kedua.. Abaikan nasehat, tiba-tiba celaka, lalu menyesal, barulah belajar mendewasa dan membaik..
Terkadang kita belajar dari waktu dan kejadian yang turut serta "membantu" teman dan keluarga yang menasehati diri kita...

Kisah #3. Biji Kapitalisme dan Buah Kapitalisme

Suatu hari ada seorang perempuan alim, namanya Dizizi, yang didatangi teman sekelasnya yang perempuan juga, namanya Hihihi.
Memang Dizizi ini dicap alim oleh sebagian temannya, karena memang dia adalah seorang pengemban dakwah. Dia biasa ber-amar ma'ruf nahi munkar. Dan gara-gara itu, sebagian teman-temannya ada yang meledeknya "Bu Ustadzah..", "Bu Haji..", "Bu Hajjah.." hingga ada sebagian temannya yang akhirnya terbiasa memanggilnya Bu Ustadzah..
Nah, si Hihihi tersebut tiba-tiba curhat ke si Dizizi, "Bu Ustadzah.. Saya mau minta solusi Islam mengatasi masalah saya Bu Ustadzah.."
Si Dizizi menyaut, "Iyaa..?? Silahkan aja Hik.. ^_^"
Si Hihihi berkata, "Saya hamil, Bu Ustadzah.. Gimana ya solusinya menurut Islam, Bu Ustadzah..??"
Si Dizizi pun kaget, "MasyaAllah.. Serius Hik..?? Kok bisa sih..??"
Jawab si Hihihi, "Iya Bu Ustadzah.. gimana tuh solusinya menurut Islam ya Bu Ustadz.. Soalnya saya pacaran Bu Ustadzah.."
Tanggap si Dizizi, "Wah.. yang nyuruh pacaran siapa..??"
Balas si Hihihi, "Yang nyuruh pacaran, ideologi Kapitalisme, Bu Ustadz.. Terus gimana tuh solusinya menurut Islam Bu Ustadz..?"
Lalu si Dizizi berkata, "Maaf aku kurang tahu Hik.. Coba tanya sama pengemban ideologi Kapitalisme..."
Si Hihihi pun kembali menyaut, "Tapi Bu Ustadz.. gimana tuh solusinya menurut Islam Bu Ustadz..?"
Si Dizizi pun bilang, "Kalau menurut Islam, dari awal jangan pacaran harusnya.. Pacaran itu kan bagian dari penerapan ideologi Kapitalisme ya kan.. Aqidahnya sekulerisme ya kan.. Nah coba saja Kamu gali siapa tahu aqidah sekulerisme itu bisa melahirkan solusi dari penyimpangan aktivitas pacaran, buat para aktivis pacaran yang tidak sukses pacarannya.."
...
Hehehe! XD Tentulah kisah ini 100% fiktif.. :D Jangan ditiru yaa.. :P Nanti kalau ada teman Anda yang curhat begitu, Anda ngomongnya baik-baik yaa.. InsyaAllah ada kok solusinya kalau sudah terlanjur hamil.. Kisah di atas tersebut hanya guyon saja.. :)
Yah itu tadi kan, ada dua cara orang bisa menjadi dewasa dan membaik:
  • Pertama.. ikuti nasehat, lalu mendewasa dan membaik..
  • Kedua.. Abaikan nasehat, tiba-tiba celaka, lalu menyesal, barulah belajar mendewasa dan membaik..
Terkadang kita belajar dari waktu dan kejadian yang turut serta "membantu" teman dan keluarga yang menasehati diri kita...
Termasuk saya juga kadang begitu.. Saya dinasehatin orang tua supaya rajin beres-beres, saya malah malas.. saya sukanya berantakan.. Hingga tiba suatu masa di mana akhirnya berantakan membawa malapetaka kepada saya.. Bisa jadi dari berantakan tersebut mendatangkan kecoak dan semut.. Bahkan mendatangkan penyakit.. demam, diare, dan lain-lain.
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.”


[QS. Al-Israa’: 7]
Hal ini tentu berlaku pada banyak hal. Termasuk pada mereka yang mengemban aqidah sekulerisme, tentu beserta apa-apa yang lahir darinya: Demokrasinasionalisme, hedonisme, dan lain-lainnya, dalam paket ideologi Kapitalisme.
Mereka tak kunjung sadar betapa rusaknya dan merusaknya Kapitalisme tersebut. Padahal sudah berkali-kali syariat Islam digaungkan untuk diterapkan, dalam bingkai Khilafah.
Itu juga imbasnya dari kebablasan berfikir apa-apa harus ilmiah. Padahal cukup dengan berfikir rasional saja, lalu ta'ati Al-Qur'an dan assunnah.
la tahzanYah itu tadi kan, ada dua cara orang bisa menjadi dewasa dan membaik:
  • Pertama.. ikuti nasehat, lalu mendewasa dan membaik..
  • Kedua.. Abaikan nasehat, tiba-tiba celaka, lalu menyesal, barulah belajar mendewasa dan membaik..
Terkadang kita belajar dari waktu dan kejadian yang turut serta "membantu" teman dan keluarga yang menasehati diri kita...
Meski memang mereka sangat sangat sangat tidak ingin bila kecelakaan tersebut keburu menimpah kita.. Mereka pasti kasihan..
Tapi.. yaa, begitulah.. itu tadi kan, ada dua cara orang bisa menjadi dewasa dan membaik:
  • Pertama.. ikuti nasehat, lalu mendewasa dan membaik..
  • Kedua.. Abaikan nasehat, tiba-tiba celaka, lalu menyesal, barulah belajar mendewasa dan membaik..
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”


[QS. Ar-Rum: 41]
Wallahua'lam bishshawab..
Sumber gambar: PixabayWeHeartIt.
Ketika Kesel dengan Tingkah Orang yang Bandel, 'Biarkan' Saja.. Ketika Kesel dengan Tingkah Orang yang Bandel, 'Biarkan' Saja.. Reviewed by Dani Siregar on Jumat, Juni 26, 2015 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.