Nafsu Kita yang Harus Tunduk Ikut Syariat, Bukan Syariat yang Harus Tunduk Pada Nafsu Kita!

Nafsu Kita yang Harus Tunduk Ikut Syariat, Bukan Syariat yang Harus Tunduk Pada Nafsu Kita!

Pada akhir zaman ini begitu banyak perkataan-perkataan yang sesat dan menyesatkan. Hal-hal tersebut memang harus kita waspadai. Namun, jangan lupa, ada lagi hal lain yang tak kalah sesat dan notabene harus lebih diwaspadai. Yaitu, metodologi yang memproduksi perkataan-perkataan sesat.

Kalau ibaratnya narkoba itu berbahaya, maka yang nggak kalah berbahaya adalah bos serta sistem yang mengkordinir produksi dan distribusi narkoba tersebut.

Nah, salah satu metodelogi yang menyesat itu adalah, pragmatisme-pesimisme.

Maksudnya pragmatisme-pesimisme itu gimana?

Begini..

Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani, kata pragma yang artinya guna.

Secara istilah, pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. [Harun Hadiwijono. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius. 130-131]

Sedangkan pesimisme, adalah sebagaimana yang kita ketahui, paham yang beranggapan segala sesuatu dari sudut buruknya saja.

Jadi, bahayanya pragmatisme-pesimisme ini dia menafikan usaha kita bertaqwa kepada Allah, hanya karena usaha itu sulit alias tidak mudah. Sehingga bila tidak bertaqwa itu enak rasanya, tidak merepotkan, apalagi kalau bisa memberikan manfaat duniawi; maka tidak usah bertaqwa merupakan hal yang tepat.

Beberapa contohnya:

  • "Pakai jilbab dan khimar itu merisihkan bagi perempuan. Mending pakai kaos dan celana jeans aja, lebih mobile dan bikin mata enak juga. Yang penting tetap terhormat."
  • "Sholat khusyu' itu susah, sudahlah tidak apa-apa mengkhayal saat sholat. Sudah tidak mungkin lagi sholat khusyu' itu."
  • "Khilafah itu nggak cocok didakwahkan di Indonesia. Karena di sini banyak agama, kita sudah terlanjur sepakat pakai asas sekulerisme."
  • "Sanksi Islam seperti potong tangan, rajam, hukuman mati, dan sebagainya itu tidak relevan lagi zaman sekarang. Karena secara data juga belum tentu menurunkan angka kriminalitas."

Orang-orang yang menganut dan menyebarkan paham pragmatisme-pesimisme ini juga kadang berlindung di balik adat-istiadat dan kebiasaan. Terkadang mereka juga berdalih menggunakan filsafat, dan dalil-dalil syara'. Pokoknya apapunlah bisa dijadikan alasan, hehehe.

Sebenarnya itu semua upaya untuk ngeles melegitimasi kebiasaan buruk mereka. Dan sebagian besarnya untuk kepentingan pribadi dan kelompok mereka. Meskipun fakta di lapangan omongan mereka bisa sok bijak panjang lebar berbelit-belit. -_-

Intinya, bukannya nafsu mereka yang tunduk ikut syariat, eh tapi malah syariat yang dipaksa menyesuaikan pada nafsu mereka.

Padahal kenapa kita perlu mengucapkan kalimat syahadat menjadikan Allah sebagai Illah, yah supaya diri kita sepenuhnya tunduk patuh pada Allah. Bukan sekadar meyakini eksistensiNya saja, kemudian menjalani hidup sak karep suka-suka kita,; melainkan harus juga kita siap mengorbankan waktu, tenaga, dan harta kita dalam rangka berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan semua perintahNya, dan menjauhi laranganNya. Itulah pengaruhnya kita bersyahadat.

Maka dari itu, kita sebagai seorang muslim, tatkala kita mengindera fakta yang salah menurut Al-Qur'an dan hadits, maka fakta itu harus dihapuskan atau diperbaiki sebagaimana seharusnya menurut Islam. Jangan terbalik, malah Al-Qur'an dan hadits yang dipelintir atau bahkan direvisi agar sesuai dengan nafsu!

Tapi yah begitulah mereka.. betapa mereka ini sombong. Walau sebagiannya ada yang menggunakan 'topeng islami', tapi ada salah satu akhlak yang tidak mereka miliki, yakni tawadhu'. Orang-orang liberal yang menganut pragmatisme-pesimisme itu semuanya miskin tawadhu'. Pantas saja ilmu susah masuk, lantaran begitu bebal dan keras kepala.

Lagipula kalau ditelusuri, sebetulnya kerjaan mereka ini nggak lepas dari kepentingan musuh-musuh Islam. Yang notabene sebagiannya pada zaman ini adalah kaum Kapitalis Barat yang tabiatnya menjajah.

Bentuk penjajahan mereka kan bisa berupa fisik (imprealisme); juga bisa berupa pengaruh politik, ekonomi, dan pendidikan (neo-imprealisme). Kalau penjajahan fisik berarti senjatanya yah senjata beneran seperti senapan, bom, tank, dan sebagainya. Kalau penjajahan pengaruh, yah itulah penyebaran paham-paham kufur seperti HAM, Demokrasi, kapitalisme, sekulerisme, pluralisme, liberalisme, hedonisme, dan sejenis pragamatisme-pesimisme.

Tapi 'tenang' saja, meski gaya mereka sok banget, sejatinya mereka takut banget dengan umat muslim yang kuat, yang senantiasa bertaqwa, terlebih lagi kalau ada eksis Negara Islam Khilafah yang siap jihad melawan mereka! Makanya kan mereka halang-halangi kita yang senantiasa bertaqwa dan berusaha menegakkan Khilafah.

Makanya pula kita tetep jalan aja. Tetep berusaha senantiasa bertaqwa, kampanyekan syariah dan Khilafah, walau mungkin sulit rasanya kadang nafsu kita tak menyukainya.

Lagian buat apa coba kita ikutin nafsu kita terus? Dampak perbuatan kita itu kan ada yang jangka pendek, jangka panjang, dan jangka akhirat. Nah, kadang yang disukai nafsu itu hanya dampak jangka pendek saja, belum tentu juga jangka panjang, apalagi jangka akhirat. Nah tujuan utama kita kan yang akhirat itu. Itulah yang dilalaikan oleh penganut pragmatisme-pesimisme tersebut.

Wallahu a'lam bish shawab...

Sumber ilustrasi gambar: Pixabay.com
Nafsu Kita yang Harus Tunduk Ikut Syariat, Bukan Syariat yang Harus Tunduk Pada Nafsu Kita! Nafsu Kita yang Harus Tunduk Ikut Syariat, Bukan Syariat yang Harus Tunduk Pada Nafsu Kita! Reviewed by Dani Siregar on Senin, November 14, 2016 Rating: 5