- Advertisement -
Belakangan ada beberapa teman saya yang nge-chat ke saya, "Dan, masih ingat aku?", "Dan, masih ingat saya?", dan sebagainya.

Alhamdulillah saya masih ingat lah. Nggak lupa.

Yang satu itu teman SD saya.

Yang satunya lagi teman sekontrakan saya waktu di Bandung.

Belakangan juga ada sebuah postingan meme saat hari guru kemarin, "Masih ingat siapa nama guru waktu SD-mu?"

Nah, kalau itu saya sudah lupa. 😅 Maaf Buk.... 😖

Tapi kalau ingat-ingat wajahnya dan beberapa pengalamanya, saya tentu masih ingat. Ingat banget malah. Masih ingat juga mata pelajaran yang beliau-beliau ajarkan.

Jangankan pas SD, guru TK saja saya juga masih ingat. Tapi yah itu, namanya lupa... 😖

Maka sebenarnya, saya itu insyaAllah nggak lupa dengan seseorang. Paling lupa namanya aja. 😂
  • Sama abang-abang yang kerja di percetakan tertentu saat di Aceh dulu itu saja, saya ingat. Yang kampungnya di Tebing Tinggi itu. Tapi saya lupa namanya siapa abang itu.  😂
  • Sama akang pantry dapur di tempat magang di Bandung dulu, saya ingat orangnya. Obrolannya juga masih ingat. Meski udah lupa namanya.  😂
  • Bahkan sama orang-orang yang walaupun nggak kenal tapi sering lihat di lingkungan sekitar Rumah, Sekolah, Kampus, dll; saya tanda orangnya. Kadang kalau nggak sengaja bertemu di socmed atau di jalan, misalnya di Pasar, saya tanda:
    • "Ooh itu kan bapak yang jual Pop Ice di depan warung Bakso itu!",
    • "Ooh itu kan kakek-kakek yang sholatnya selalu di sudut kanan itu!",
    • "Ooh ini kan Ustadz yang pernah jadi moderator pas HSA di Jakarta waktu itu!".
    • Dan lain-lainnya.
Kok bisa gitu? Ntah lah... mungkin itu pembahasannya neuroscience? Saya belum mendalaminya.

Kalau menurut tes stifin sih, saya termasuk orang intuiting. Mudah lupa. Termasuk lupa nama orang.

Jadi, nggak usah khawatir. InsyaAllah saya selalu ingat dengan semua orang yang pernah saya lihat. Meski nggak ingat namanya. Atau bahkan nggak tahu. Saya mohon maaf kalau tersinggung... 😂

- Advertisement -

Baca Juga Tulisan Lainnya:

- Advertisement -